Senin, 29 April 2013

Naikan harga rokok, bukan BBM (2)


Naikkan harga rokok, bukan BBM (2)





Oleh : Almar Yahya



Kelanjutan tulisan pertama....

Demo anti kenaikkan BBM sudah usai. Tuntas ? walllahu a'lam. Yang jelas, hasil rapat DPR jumat, menjadikan harga BBM per 1 April 2012 tidak naik (tertunda). UU APBN-P memberikan tambahan pasal, yang berisi memberikan wewenang pemerintah untuk menaikkan atau menurunkan BBM dengan kondisi tertentu di kemudian hari (jadi ada kemungkinan naik dong?) Pasal tersebut berpesan, nanti kalau ada kenaikan BBM, demo-nya ke pemerintah ya, jangan ke DPR lagi ya, kan yang naikin pemerintah ???

Apa lagi? Subsidi BBM APBN-P untuk 2012 ditetapkan sebesar 137 Trilyun (http://ekonomi.tvonenews.tv/berita/view/54704/2012/03/26/subsidi_bbm_apbnp_2012_ditetapkan_rp137_triliun.tvOne). Konon jauh lebih besar dari dana tanggap bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia.

Apa lagi...? beberapa harga bahan pokok, termasuk buah, sayur dan produk textil dll sudah terlanjur naik. Padahal harga BBM belum jadi naik. Menegapa? Karena mekanisme harga pasar yang berlaku di dunia ini memasukan "hantu" dalam perhitungannya. Sehingga kata-kata : "isu", "rencana", "ada kabar" dan sejenisnya juga ikut memboboti mekanisme supply - demand, untuk menaikkan / menurunkan harga. Ini bukti lagi, bahwa bbm sangat sensitif terhadap perubanan harga barang dan jasa.

Sekarang bagaimana dengan ide untuk menaikkan harga rokok. Berapa besar konsumsi rokok di Indonesia?

Menurut data WHO pada tahun 2008, konsumsi rokok penduduk Indonesia mencapai 225 Milyar batang per tahun (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/05/31/55829/WHO-Konsumsi-Rokok-di-Indonesia-225-Miliar-Batang-per-Tahun). Dibagi setahun, maka konsumsi rokok per hari mencapai lebih dari 616 juta batang. Bila jumlah penduduk Indonesia sekitar 200 jt, artinya setiap hari, setiap manusia hidup di indonesia dari anak bayi yang baru lahir hingga orang tua menghisap rokok 3 batang sehari. Lebih lebih lagi, trend naik setiap tahun. Menurut kementrian perindustrian, produksi rokok 2012 akan mencapai lebih dari 260 Milyar batang (http://www.indonesiafinancetoday.com/read/17772/Produksi-Rokok-Diproyeksi-Tumbuh-4-di-2012).

Bila Pemerintah menaikkan cukai rokok Rp. 1.000,- per batang,  maka (tambahan) penerimaan akan mengubah wajah APBN-P menjadi tersenyum. Seandainya dengan kenaikan tersebut, konsumsi rokok menjadi berkurang setengahnya pun, tambahan penerimaan akan mencapai lebih dari 130 Trilyun (260 M dibagi 2, dikalikan Rp. 1.000,-) hampir setara dengan total subsidi BBM untuk APBN-P 2012. Naikkan pula cukai minuman keras, dan upaya penghematan Anggaran tetap dilakukan, maka sangat mungkin, APBN kita surplus, termasuk menutup defisit tahun lalu.

Kajian yang lengkap dan mendalam mengenai hal ini layak dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait, termasuk memperhitungkan efek jangka pendek, menengah dan panjang untuk kepentingan rakyat dan Bangsa Indonesia yang berhasil memegang juara 3 dunia dalam konsumsi rokok !!!

Yang jelas, menaikkan BBM berakibat seluruh harga naik dan budget untuk belanja rokok (dalam rumah tangga) juga berkurang. Namun, menaikkan harga rokok tidak mempengaruhi harga barang dan jasa, hanya berakibat pada budget rumah tangga (sang Bapak) untuk membeli rokok.

Jadi, siapa setuju...????


Naikkan harga Rokok bukan BBM (1)



Tulisan ini telah berumur lebih dari 1 tahun, namun terkait rencana baru-baru pemerintah menaiikkan harga BBM, barangkali ada manfaatnya.


Naikkan harga rokok, bukan bensin ??

Oleh : Almar Yahya


Kemarin ada demo besar-besaran, ada yang keberatan? wajar, karena terganggu. Ada yang keberatan bensin naik? wajar, karena itu mereka demo besar-besaran. Rencana pemerintah menaikkan harga bensin mencapai lebih dari 30 % lebih, efeknya bukan hanya transportasi. Bensin itu kebutuhan yang lebih dasar dari kebutuhan pokok. BBM temasuk komponen produksi utama, maka kalau naik, seluruh komponen harga akan turut naik, termasuk produksi (berkategori) primer, sekunder tertier dan lainnya.

Bila bensin naik 30 %, setelah seluruh harga settle (mungkin setelah 6 bulan), maka sangat mungkin kenaikan rata-2 harga barang dan jasa akan lebih dari 30 %, akan mengubah daya beli rakyat, dan sejumlah besar rakyat (bisa jadi lebih dari 40 %) turun levelnya menjadi kalangan miskin dan lebih miskin.

Jadi, kalau ada yang demo, sebaiknya kita dukung atau kia halangi ? terserah Anda.

Tujuan pemerintah menaikkan BBM adalah untuk menahan jumlah subsidi bensin, akibat harga bensin dunia naik. Katanya untuk menyelamatkan anggaran. Ada opsi lain, atau sama sekali tidak ada ? Adakah opsi yang paling minim resiko terhadap rakyat, setidaknya dari sisi waktu, bisa bertahap ?
Anggaran itu cash in dan cash out, maka menyelamatkan anggaran haruslah dalam 2 sisi : menambah penerimaan, dan mengurangi pengeluaran yang tidak / kurang penting. Dari sisi pengeluaran, apakah sudah tidak ada pengeluran yang bisa dikurangi? setidaknya yang bersifat kenyamanan. Kenyamanan untuk siapa ? wallahu a'lam.

Sahabat saya, kepalanya sering menelorkan ide brilian. Mungkin Anda sebelumnya pernah punya ide ini : menaikkan cukai rokok (dan minuman beralkohol = miras).
Rokok itu bukan kebutuhan primer atau sekunder, mungkin bukan tertier, karena rokok itu anomali kebutuhan. Tetapi konsumsi rokok (dan miras) luar biasa besarnya. Seorang perokok mengkonsumsi lebih dari 1 batang perhari, malah banyak sekali yang mengkonsumsi 2 - 3 pak sehari, berarti 24 hingga 36 batang rokok dalam 24 jam. kebutuhan rata-2 masyakarat akan bensin dalam sehari tidak sampai 24 liter per hari. Untuk transport paling banter 10 liter (rata-2) : untuk motor, mobil dan angkutan umum dibagi jml penumpang.

Naikkan cukai sehingga perbatangnya naik Rp. 1.000,- Hitung sendiri (tambahan) penerimaan cukai atas rokok. Ditambah kenaikan cukai miras. Saya rasa sangat besar dan memungkinkan untuk mengganti tambahan subsidi bensin. Apa efeknya ? coba kita saksikan apakah ada demo karena kenaikan harga rokok?

Mengigat rokok itu anomali kebutuhan, maka bisa diasumsikan bahwa perokok itu kalangan yang kaya, maka efek kenaikan rokok tidak signifikan terhadap mereka. Konsumsi tetap tinggi. Ada juga perokok dari kalangan yang kurang (tidak) mampu. Bagaimana bila sejumlah masyarakat berhenti merokok karena harganya naik ? Alhamdulillah, berarti rakyat Indonesia menjadi lebih sehat, dan kebutuhan berobat karena masalah rokok jadi berkurang. Ada yang keberatan karena rakyat Indonesia lebih sehat dan pengeluaran berobat untuk masalah rokok berkurang ? ya, silakan demo....

Jadi, kita sepakat? apakah masih ada opsi lain........??????


Kamis, 25 April 2013

Usia Nabi Ismail AS ketika peristiwa penyembelihan

Usia Nabi Ismail Saat Peristiwa Penyembelihan
Oleh : Almar Yahya



Cukup banyak pendapat yang menyatakan bahwa usia Nabi Ismail saat peristiwa penyembelihan pada kisaran 6-7 tahun. Penuturan kisah ini senantiasa diulang sepanjang masa karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah qurban setiap bulan dzul hijjah. Dari kisah ini dapat digali banyak sekali hikmah dan pelajaran yang berharga bagi kehidupan manusia baik aspek pendidikan, kemanusiaan, filsafat, spiritual dan lain sebagainya.

Namun, apakah benar kisaran usia tersebut? Kami berpendapat bahwa ketika itu usia (nabi) Ismail telah sampai pada usia baligh (mencapai kisaran usia 14-15 tahun) dan masuk pada fase ke-3 masa pendidikan anak ( 15 - 21).

Kita akan sedikit menggali dari kisah yang disampaikan Allah SWT dalam Alquran, surat Asshofat.

Mari kita perhatikan surat Asshofat ayat 102 sbb :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".


Alasan 1

Dalam ayat di atas disebutkan "tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)". Penggunaan kata "بَلَغَ" (sampai) menunjukkan bahwa saat itu (nabi) Ismail telah sampai pada umur tertentu.  Ulama fiqih menamai usia baligh apabila seorang anak telah mencapai kedewasaan, yang ditandai oleh munculnya tanda-tanda sekunder, yaitu sekresi indung telur (menstruasi) bagi anak perempuan dan sekresi sperma bagi anak laki-laki. Boleh jadi ada yang berpendapat bahwa kata "sampai" hanya menunjukkan usia melewati fase pertama masa pendidikan, yaitu 6 tahun. 

Namun kata "مَعَهُ السَّعْيَ" menekankan bahwa "baligh" tersebut berkaitan dengan kemampuan yang lebih tinggi dan "setara" dengan bapaknya (ma'ahu = bersama-sama) yang menunjukkan kedewasaan yang lebih tinggi.


Alasan 2

Penggunaan kata "فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى" di mana Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada anaknya mengenai perintah Allah yang disampaikan lewat mimpi beliau. Dialog ini menggambarkan hubungan "Ayah-Anak" sudah sampai pada fase ke-3 pendidikan (usia 14-21), di mana pada usia ini pendidik (orang tua) menempatkan anak pada kedewasaan yang setara seperti seorang sahabat. 

Boleh jadi ada pendapat yang mengatakan bahwa pada usia sebelum itu juga wajar seorang pendidik (orang tua) meminta pendapat anaknya. Namun pendapat tersebut lemah pada kasus ini, mengingat objek pendapat berkenaan dengan masalah yang berat, bukan hal-hal yang lebih sederhana seperti pertanyaaan tentang makanan kesukaan, pilihan warna, baju dsb.

Dalam hal ini, objek pertanyaan tidak hanya menyangkut keputusan masa depan, bahkan menyangkut hidup dan mati. Di sisi lain, Nabi Ibrahim AS juga menginginkan jawaban anaknya yang menggambarkan pandangan dan kesiapan sang anak sehingga beliau lebih yakin akan keputusannya dan untuk meneguhkan hati. Hal ini tergambar jelas dalam jawaban (Nabi) Ismail pada ayat di atas.


Alasan 3

Jawaban yang disampaikan kepada ayahnya sangat lugas, tidak mengandung keraguan, bahkan dapat meneguhkan keputusan ayahandanya. Jawaban seperti ini sama sekali bukan jawaban kanak-kanak bahkan bukan jawaban anak remaja sekalipun. Kata "kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu" menunjukkan bahwa (nabi) Ismail telah berani mengambil keputusan sendiri. Ini sangat berbeda dari jawaban yang umum dari seorang kanak-kanak / remaja yang menurut dan menyerahkan urusan kepada orang tuanya. Jawaban yang lazim muncul pada kanak-kanak / remaja adalah semacam "terserah Ayah saja", atau "urusan ini saya serahkan keputusanya pada Ayah". 

Barangkali ada argumen lain yang menyatakan bahwa jawaban tersebut menjadi wajar, karena (nabi) Ismail adalah manusia pilihan Allah SWT yang kelak diangkat menjadi nabi. Menurut hemat kami, argumen ini tidak memiliki akar yang kuat, mengingat nabi juga seorang manusia yang tak lepas dari karakter fitrah anak-anak dan fitrak pendidikan. Coba kita bandingkan dengan kisah (nabi) Muhammad SAW sewaktu kecil, ketika didatangi oleh malaikat pada peristiwa pembelahan dada beliau. Kisah ini meskipun berbeda versi pada detillnya, namun menggambarkan kejadian besar yang menimpa diri Nabi. Saat menceritakan ini, Nabi menggambarkan pada saat itu dirinya ketakutan. 
Apabila (nabi) Ismail adalah seorang pilihan Allah SWT, maka (nabi) Muhammad SAW adalah manusia paling terpilih dari seluruh nabi, seluruh rasul, seluruh manusia dan makhluk lain, karena beliau sayyidul anbiya wal mursalin. Namun tetap saja, beliau saat itu merasakan takut karena beliau belum sampai pada usia yang cukup untuk  mengerti dan berfikir sebagai dewasa.

Alasan 4

Akhir kisah ini adalah digantinya penyembelihan dengan hewan qurban (seekor domba / kambing). Lebih lanjut penyembelihan hewan qurban menjadi ibadah setiap tahun. Kita perhatikan bahwa tebusan sebagai ganti penyembelihan adalah kambing yang telah dewasa. Syarat kambing kurban adalah kambing (diutamakan) jantan yang telah dewasa, di mana giginya telah pupak. Ini sejalan dengan yang digantikan : (nabi) Ismail yang telah dewasa dan telah baligh.

Demikian, wallahu a'lam.



Mencintai dzurriyah Nabi adalah doa dari Nabi Ibrahim AS.


MENCINTAI DZURRIAH NABI ADALAH KEWAJIBAN DAN INTI DOA NABI IBRAHIM AS.
Oleh : Almar Yahya

Bismillahirrahmanirrahim.

Kewajiban terbagi dalam 2 macam :

1.   Kewajiban yang ketika ditetapkan akan menjadi wajib bagi pihak pertama dan menjadi tuntutan hak bagi pihak kedua. Kewajiban yang seperti ini banyak sekali, bahkan meliputi hampir seluruh kewajiban, baik kewajiban agama (berdasarkan syar’i) maupun kewajiban non agama (berdasarkan hukum negara).

Contoh dari kewajiban jenis ini misalnya, kewajiban kepala rumah tangga terhadap keluarganya. Seorang kepala rumah tangga wajib memberikan penghidupan kepada keluarganya. Pada saat yang sama, anggota keluarga memiliki hak penghidupan dari kepala rumah tangga yang bersangkutan. Sedemikian sehingga, seorang istri diperkenankan mengambil uang yang disimpan oleh suaminya, tanpa sepengetahuan si suami, ketika suami tidak melaksanakan kewajiban penghidupan yang layak. Dengan catatan dan garis bawah bahwa pengambilan sepihak tersebut dalam konteks pemenuhan terhadap kelalaian kewajban suami atas penghidupan keluarganya, baik istri, anak-anak dan anggota keluarga lain yang berada dalam naungan penghidupan keluarga tersebut.

Ini pula sebabnya dalam kehidupan sosial dan negara terdapat pengadilan dan hakim untuk menjamin pelaksanaan hak dari pihak kedua atas adanya penetapan kewajiban pihak pertama.

2. Kewajiban yang ketika ditetapkan akan menjadi wajib bagi pihak pertama, tapi tidak otomatis menjadi tuntutan hak bagi pihak kedua. Contoh dari kewajiban seperti ini adalah kewajiban mencintai dan memuliakan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Setiap muslim wajib mencintai keturunan Nabi SAW, berdasarkan nas Al Quran dan Hadits.
Mencintai keturunan (Dzuriah) Nabi SAW bahkan sudah dinyatakan pada masa hidup Nabi Ibrahim AS. Perhatikan Doa Nabi Ibrahim Khalilullah AS, dalam surah Ibrahim (14) Ayat 37 sbb :


 رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)  
37. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ada 2 hal penting dari Ayat di atas yang kita garis bawahi :
     1.   Perhatikan kata “min dzuriyati” yang artinya “sebagian dari keturunanku”. Mengapa disebutkan sebagian?  Ini karena Nabi Ibrahim AS memiliki 2 putra yaitu Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS. Yang ditempatkan di lembah tersebut bukan semua putranya, namun hanya seorang, yaitu Nabi Ismail AS.

        2.   Mengapa menggunakan kata “dzurriah” yang artinya  keturunan, padahal yang ditinggal di tempat itu adalah istrinya (Ibunda Siti Hajar) bersama putranya, (Nabi) Ismail AS. Mengapa tidak mengunakan kata “putraku” (ibn atau walad) ketika merujuk Nabi Ismail AS atau menggunakan kata sebagian dari “keluargaku” (ahli atau ahli bait) ketika merujuk Ibunda Siti Hajar dan (nabi) Ismail AS sekaligus. Jawabannya adalah karena Nabi Ibrahim AS meninggalkan keduanya bukan untuk sementara waktu, namun “sudah direncanakan” untuk waku yang amat panjang, sehingga Nabi Ismail beketurunan, turun-temurun. 

Pernyataan ini diperkuat lagi dengan penggunaan “أَسْكَنْتُ“ yang berarti aku menempatkan / menjadikan tinggal / menetap. Di sinilah point penting, bahwa sebagian dari keturunan Nabi Ibrahim AS (min dzuriyati) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah keturunan Nabi Ismail AS hingga Nabi Muhammad SAW dan sudah pasti meliputi keluarga Nabi Muhammad SAW dan dzurriahnya.


Kemudian apa inti doa Nabi Ibrahim di atas. 

Perhatikan susunan kalimat tersebut, bahwa sebelum meminta, Nabi Ibrahim AS membuat kalimat pendahuluan, setelah itu baru kalimat permintaan. Permintaan dalam bahasa arab menggunakan “fi’il amar” atau kata kerja perintah. Perhatikan bahwa bentuk perintah dalam ayat tersebut ada 2 yaitu “فَاجْعَلْ” (maka jadikanlah) dan “وَارْزُقْهُمْ” (dan berilah rezeki). Jelas sekali bahwa inti doa terdapat dalam kata pertama yaitu “فَاجْعَلْ”. Ketika doa didahului oleh kalimat berita (pengantar) maka doa tersebut akan digandeng dengan kata “فَ” (maka jadikanlah).
sedangkan permintan kedua adalah bagian integral dari permintaan pertama, ini ditandai dengan kata “و” (dan) berilah rezeki.
Jadi, inti doa Nabi Ibrahim AS pada ayat di atas adalah permintaan kepada Allah agar menjadikan hati manusia (أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ) cenderung kepada (kata lain dari mencintai, mengasihi dan menyayangi) keturunan Nabi Ismail AS dan sudah pasti berlaku hingga Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan dzurriahnya. Karena Nabi kita, Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS melalui Nabi Ismail AS.

Doa ini dikabulkan oleh Allah SWT. Al Alamah Ibn Kathir rahimahullah dalam tafsirnya mengenai ayat ini menyatakan bahwa “telah berkata Ibn Abas, Mujahid, Said ibn Jabir dan lain-lain bahwa sekiranya Nabi Ibrahim mengucapkan kata “أَفْئِدَةً النَّاسِ” (hati manusia, tanpa kata min / sebagian) maka yang akan mencitai mereka, meliputi bangsa persia, romawi, yahudi, nasrani dan manusia seluruhnya. Akan tetapi beliau mengucapkan “أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ” (sebagian manusia) sehingga berlaku hanya bagi kaum muslimin saja". Karena beliau adalan Nabi, maka pemilihan kata tersebut adalah kehendak dan tuntunan dari Allah SWT.

Muncul pertanyaan bagi kita. Sekiranya ada di antara kaum muslimin yang hatinya tidak terdapat rasa kasih sayang / mengasihi / mencintai dzurriyah Nabi SAW, maka apakah ada yang salah terhadap pengabulan Allah SWT atas doa Nabi Ibrahim AS ini. Tentu jawaban kita sepakat “tidak demikian”.
Akan tetapi, persoalan tersebut justru terdapat pada hati dan perasaan orang-orang yang bersangkutan, karena mereka belum mengerti dan memahami. Apabila mereka mengerti dan memahami, maka merekapun akan termasuk dalam kelompok “مِنَ النَّاسِ“ dalam doa Nabi Ibrahim AS. 

Kepada Allah SWT segala urusan kita kembalikan.

Wallahu a’lam.




Rabu, 24 April 2013

Ghibah, penyakit sosial dan kerusakan masyarakat



GHIBAH DAN KERUSAKAN MASYARAKAT

Oleh : Almar Yahya



Allah berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

“Apakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya”.


Perhatikan arti ayat yang dicetak tebal. Perhatikan bagaimana Alquran berbicara dengan sangat sederhana, namun amat dalam dan luas cakupannya.

Dalam kalimat singkat di atas ada 2 pihak, yakni
  1. Seorang di antara kamu, berbentuk orang ke-3 tunggal  yang berarti sejumlah kecil manusia.
  2. Kalian / orang ke-2 jamak, yang sedang diajak bicara, berarti masyarakat besar manusia.

Pertama Allah SWT bertanya, apakah seorang di antara kamu menyukai (sangat suka / hampir-2 cinta) memakan daging saudaranya yang sudah mati. Kemudian Allah SWT langsung menyatakan kepada seluruh manusia : tentu (pasti / mestinya / seharusnya / tidak wajar kalau kalian tidak) membenci perbuatan itu.

Mari kita lihat lebih dalam.

  1. Kata “apakah dia suka” (أَيُحِبُّ) menggunakan huruf alif di depan yang berarti pertanyaan : apa dia suka, juga bisa berarti pertanyaan : apakah wajar, atau bisa berarti pula pernyataan : tidaklah wajar / tidaklah patut.
  2. Kata di atas juga menggunakan bentuk present yang berarti pekerjaan itu sedang berlangsung atau akan berlangsung
  3. Selesai bertanya, Allah SWT langsung menyatakan “tentu kalian membencinya”. Perhatikan bahwa subjek pertanyaan dan subjek jawaban berbeda. Yang ditanya orang ke-3 tunggal, tapi jawabannya diarahkan kepada orang ke-2 jamak.

Banyak pengertian bisa diambil dari ayat pendek di atas :

  1. Pekerjaan ghibah (menggunjing / mencari keburukan orang lain) Allah samakan dengan memakan daging bangkai saudaranya. Perhatikan kata “dalam keadaan mati” (مَيْتًا) setelah kata “daging saudaranya sendiri” menambah kesan “menjijikkan”.
  2. Karena pekerjaan itu amat buruk, maka Allah menempatkan orang tersebut di luar pembicaraan.
  3. Pertanyaanya menggunakan huruf alif, yang bisa berarti “tidak pantas”, yang pengertiannya “seharusnya tidak terjadi”.
  4. Menggunakan bentuk sedang atau akan terjadi, menunjukkan bahwa memang ada dalam masyarakat sejumlah orang yang melakukan pekerjaan tersebut dengan tingkatan “suka / senang, bahkan sampai pada tingkatan cinta. Baik pekerjaan “ghibah” maupun pekerjaan “memakan bangkai” (naudhubillah min dzalik).
  5. Jawaban ayat ini menunjuk pada orang banyak, menunjukkan bahwa masyakarat harus membenci pekerjaan itu. Inilah yang paling penting. Di sinilah kuncinya : Masyarakat.


Bahwa solusi terhadap masalah sosial semacam di atas bahkan yang lainnya, adalah dengan cara membentuk masyarakat yang kuat dan aktif. Masyakarakat harus aktif dan melawan semua gerakan / nilai-2 anti sosial. Manusia adalah makhluk sosial, ketika masyakarat tidak mentolelir suatu nilai, maka nilai itu akan mengecil dan pupus dengan sendirinya. Sebailiknya ketika suatu nilai ditolelir / masyarakat permisif atasnya, maka nilai itu pasti akan berkembang, membesar, bahkan akan menjadi nilai yang melekat dan dianut masyarakat itu sendiri (budaya).

Ini berlaku buat semua hal yang terkait dengan kebiasaan dan tingkah laku masyarakat, termasuk pergaulan bebas, kumpul tanpa menikah, perilaku menyimpang lgbt, hingga homoseksual dan lesbianisme. Pada saat ini semua hal tersebut terus bekembang karena masyarakat mentolelirnya.

Kita dapat perhatikan bahwa :
Dahulu orang malu untuk "berpacaran" di depan umum, sekarang hal ini menjadi hal umum.
Dahulu seorang bapak bisa memutuskan hubungan, bahkan bisa-bisa (mohon maaf) membunuh anaknya yang hamil di luar nikah, sekarang hamil di luar nikah sudah menjadi hal umum.
Dahulu orang malu bergaul dengan (mohon maaf) banci, sekarang tidak.
Dahulu homoseksual / lesbianisme hanya cerita masa lalu, sekarang di beberapa Negara sudah dilegalkan dan di negara kita mulai menjadi pembicaran publik, bahkan mulai diterima.

Perhatikan bahwa media (terutama televisi) kita gencar-gencarnya mensosialisasi nilai-2 amoral dan anti sosial, baik melalui film, sinetron, komedi, dan acara-acara lain, di mana sebagian pemerannya membawakan nilai-2 baru yang buruk dan berbahaya.

Kuncinya ada pada kita (masyarakat) apakah akan menerima atau tidak… akan kita sukai, atau kita benci...

Yang jelas Allah SWT telah menyatakan dengan sangat sederhana dan tegas : “TENTU KALIAN MEMBENCINYA”

Wallahu a’lam.


Manusia, makhluk yang melupakan...


MANUSIA YANG MELUPAKAN
Oleh : Almar Yahya
  

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang amat kompleks. Banyak kajian dipaparkan untuk mengurai hakekat dan berbagai detil rahasianya. Banyak sisi manusia memiliki perspektif tersendiri yang masing-masing kaya dengan berbagai ciri yang menunjukkan eksistensinya sebagai makhluk yang paling sempurna. Alqur’an menyatakan bahwa diciptakan manusia dalam bentuk / formulasi yang paling baik.

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤)



“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” 


Pada kesempatan kali ini, kita akan mengupas manusia dari salah satu sisi dan salah satu kajian, semoga memberi manfaat. 

Alquran menggunakan beberapa kata untuk menunjuk manusia. Kata nas, insan, basyar, nafsun adalah contoh yang biasa kita temukan. Masing-masing bicara dalam konteks yang berbeda, walaupun yang dibicarakan tetap sama : Manusia. 
Kali ini kita akan sedikit kupas manusia dari penggunaan kata insan. 

Etimologi - Terminologi

Dalam bahasa arab, kata insan berawal dari bentuk nasiya – yansa dan masdar-nya (kata benda) nisyanan, yang berarti LUPA. Sebelum jauh, agar lebih mudah dipahami kita tengok dahulu ke dalam kaidah bahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Indonesia, kata "lupa" termasuk kata kerja intransitif, atau kata kerja yang tidak memerlukan objek. Kata kerja ini bisa diubah menjadi bentuk transitif (kata kerja yang memerlukan objek) dengan cara menambahkan imbuhan me-kan. “Memasukkan”, “mengeluarkan”, “mengenyangkan” adalah beberapa contoh kata kerja transitif yang berasal dari kata kerja intransitif “masuk”, “keluar” dan “kenyang”. 


Dengan cara yang mudah ini kita mengubah kata lupa menjadi “me-lupa-kan”. Kaidah bahasa arab juga memuat formula seperti di atas. Ada 3 cara untuk mengubah bentuk intransitif (fi’l lazim) ke dalam kata kerja transitif (fi’l muta’adiy), salah satunya dengan menggunakan pola (wazan) af’ala - yuf’ilu dan masdarnya if’al. kata na-si-ya di atas akan menjadi ansa – yunsi dan masdarnya insan. Perhatikan masdar atau kata benda yang terbentuk. Melalui proses inilah kata insan terbentuk. Dengan demikian, kata insan adalah kata benda yang berarti MELUPAKAN, berbeda dengan kata nisyan yang berarti lupa. 
Sekarang, kita akan lihat, apa pengaruh makna terhadap perubahan bentuk kata itu.



Seorang yang lupa berbeda dengan seorang yang melupakan. Paling tidak ada 2 hal yang membedakan makna antara kata kerja lupa dan melupakan. Kata me-lupa-kan menunjukkan bahwa :
  1. Ada objek yang dilupakan.
  2. Intensitas “kesengajaan”-nya lebih tinggi.

Dari sini kita dapat pemahaman tambahan, bahwa insan berarti makhluk yang memiliki potensi melupakan. Potensi ini melahirkan 2 sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif.



Sisi Positif dari Potensi Melupakan

Imam Ja’far as-Shodiq (w. 148 H), penghulunya para imam madzhab, pernah menjelaskan hal ini. Bahwa manusia dapat bertahan hidup, -salah satunya- adalah karena manusia memiliki potensi melupakan. Sepertinya terdengar mengada-ada, tapi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, mari kita telaah lebih jauh.

Dalam menjalani hidup, kita tentu pernah –bahkan sering- mengalami kejadian-kejadian besar yang secara ekstrim berpengaruh terhadap jiwa (emosional) kita. Kita pernah mengalami sedih yang berat, entah karena kehilangan sesuatu yang amat kita cintai atau karena hal lain. Kita juga pernah mengalami frustrasi, karena mengalami kegagalan besar, bisa juga mengalami stress berat karena menghadapi beban hidup. Pada saat itu, emosi kita benar-benar terganggu. Kemudian, ini mempengaruhi hidup kita secara total. Fungsi organ tubuh bahkan bisa terhenti mendadak, atau sebaliknya superaktif tanpa kendali. Kita kerap mendapati orang yang pingsan, karena musibah seperti kerabat yang meninggal dunia, kebakaran, gempa bumi dan lain sebagainya. 


Ada pula orang yang menangis dan berteriak histeris tanpa kontrol ketika mereka ditimpa musibah yang serupa. Allah SWT yang maha bijak mendesain manusia dengan memberikan potensi melupakan ini, sehingga berangsur-angsur baik secara sadar maupun tidak “memori” atas peristiwa itu menjadi terkurangi dan terus terkurangi sehingga pada akhrinya seseorang hanya mengingat peristiwanya saja. Sisi-sisi emosi dari kejadian yang sesungguhnya telah dilupakan oleh yang bersangkutan, dan ini membuat proses recovery dapat berjalan dengan baik, sehingga manusia kembali bisa hidup secara normal.



Sebaliknya, kita pernah mengalami kegembiraan atau mengalami kejadian yang ekstrim lucu, yang membuat kita tertawa tanpa kendali. Bahkan sering kali pada saat itu bernafaspun rasanya terkunci. Kita tidak mengingat apapun kecuali kejadian ekstrim tersebut, bahkan seluruh memori kita dipenuhi olehnya. Nah, Allah SWT yang maha rahman, yang mengerti betul pernik manusia, memberikan potensi melupakan ini, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita bisa kembali mengontrol secara normal aktivitas kita, dan kita bisa kembali melanjutkan hidup. 


Ijinkan saya bertanya, bagaimana jika potensi ini tidak ada. Bagaimana jika seluruh kejadian beserta sisi emosi yang menyertainya tetap mememuhi memori kita sepanjang waktu. Dapat dipastikan kita akan berakhir dalam waktu yang tidak lama, bahkan boleh jadi manusia telah punah pada masa-masa awal kehidupannya. Maha suci Allah yang maha agung dan baginya segala pujian atas telah memberikannya potensi ini bagi manusia. “Laqod Kholaqna al-insana fi ahsani taqwim”.                



Sisi Negatif Potensi Melupakan 

Sisi negatif ini tercermin dalam Alquran, surah Al-Adiyat (100) ayat 6 hingga 8 dan dilanjutkan oleh peringatan Allah SWT dari ayat 9 hingga 11 pada surah yang sama. Dari ayat ini kita akan belajar, apa yang dilupakan manusia dan seperti apa intensitasnya. 

Sisi Negatif pertama
Pertama, alquran dalam surat Al adiyat ayat 6 menyatakan :


إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (٦)


Kata inna disebut harf taukid (huruf untuk menguatkan / meyakinkan) yang berarti “sesungguhnya”. La dalam lakanud juga harf taukid, yang biasa diartikan sungguh (atau betul-betul). Dengan demikian ayat ini bisa diterjemahkan “Sesungguhnya manusia itu (al-insan) terhadap Tuhannya sungguh (betul-betul) ingkar”. 
Allah SWT yang maha penyayang mengingatkan manusia, bahwa manusia yang memiliki potensi melupakan ini bisa –bahkan bisa- melupakan sesuatu yang paling menentukan dan tak terpisahkan dari hidup manusia itu sendiri: Tuhan. 



Ijinkan saya bertanya kembali, pernahkan kita -sekali saja- lupa kalau kita memiliki kepala? Atau suatu saat kita lupa bahwa kita punya rumah dan keluarga tempat kita kembali dari aktivitas? Rasanya jawaban “tidak” adalah jawaban yang paling rasional, kecuali bagi seseorang yang sedang mengalami kelainan jiwa. Kenapa demikian, karena kepala tak terpisahkan dari kita, kita tak dapat hidup tanpanya. Seorang boleh lupa kaca mata yang sedang dipakai di atas hidungnya, tapi melupakan kepala adalah hal yang tidak mungkin dalam kondisi sehat dan wajar. Demikian pula rumah dan keluarga. Keduanya tak terpisahkan dalam hidup, bahkan banyak orang menempatkan kebahagiaan keluarga sebagai tujuan hidupnya. Bagaimana mungkin melupakan sesuatu yang tak terpisahkan, yang kita tak dapat hidup tanpanya bahkan yang menjadi tujuan hidup itu sendiri. Akan tetapi ternyata manusia bisa melupakan sesuatu yang lebih dari itu, yakni Tuhannya[1]. Padahal manusia tak dapat hidup tanpa Tuhan meski dalam satu satuan waktu terkecilpun. Dunia dan manusia diciptakan oleh-Nya, dan setiap saat hidup dan kebutuhan hidup itu diciptakan (disuplai) terus menerus oleh Nya tanpa henti. 



Perumpamaan ini barangkali serupa dengan gambar di layar televisi. Perhatikan, bahwa gambar di televisi dapat muncul, seolah ada dan hidup, tidak lain karena adanya gelombang (sinyal elektromagnetik) yang dipancarkan dari sumber pemancar dan diterima oleh antena televisi. Ketika (satu detik saja) sinyal ini diputus, maka apa yang terjadi pada gambar di layar televisi? Secepat diputusnya sinyal, secepat itu pula gambar di layar televisi hilang. Seperti itulah hubungan dan butuhnya manusia kepada Tuhannya. Manusia tak dapat hidup terlepas dari Tuhan. Gambaran lain tentang hubungan manusia dan Tuhan ini dapat dijelaskan secara mutlak oleh pengetahuan terkini tentang materi (bahkan ini dipaparkan oleh seorang yahudi kenamaan – Albert Einstein).



Dalam pandangan indera, alam semesta beserta isinya, termasuk manusia itu sendiri “sepertinya” berupa materi. Tubuh kita, rumah, mobil, kertas dan semua benda di sekeliling kita tampak berwujud masif dan mutlak. Namun, ketika benda-benda itu, dipecah-pecah (dibagi-bagi) hingga ke bagian terkecil, maka diketahui bahwa ternyata unsur pembentuk materi itu bukan lagi materi!!. Pada awalnya, kenyataan ini memang sangat mengejutkan, terutama bagi dunia ilmu pengetahuan yang sebelumnya berkesumpulan bahwa seluruh alam semesta terbentuk dari materi. Bahkan jadi pegangan mereka “materi adalah kekal”. Unsur pembentuk materi itu ternyata berupa atom, yang terdiri dari inti atom (neutron) yang dikelilingi (dengan berputar) proton dan elektron, yang notabene bukan lagi materi namun semacam medan energi (kalau enggan disebut cahaya), Maha suci Allah. Allah menciptakan alam semesta dan kehidupan dengan cara yang ajaib. Menciptakan ada dari ketiadaan, menciptakan materi bukan dari materi, tapi dari energi (sesuatu yang gaib). Alam semesta, termasuk di dalamnya manusia, yang kita sangka wujud, ternyata semu saja, ternyata hanya fatamorgana yang terbentuk dari medan energi. 


Pertanyaan mendasarnya kemudian adalah, bagaimana medan energi itu bisa stabil. Manusia bukan seperti batu yang unsur materinya sama, tetapi tersusun dari berbagai organ yang berbeda bentuk dan fungsi juga tersusun dari berbagai sistem yang beraneka ragam ( ada sistem saraf, pencernaan, pernafasan, darah dll). Bagaimana bisa medan energi pembentuk itu tidak tercampur atau “kacau” dengan medan energi di sekelilingnya??

Di samping itu, energi apa yang senantiasa menyuplai medan itu sehingga senantiasa bisa eksis, dinamis dan stabil, berputar dan “hidup” hingga waktunya ia “padam”. Tidak lain jawabannya kecuali bahwa itu semua berasal dari Tuhan, dan Tuhan pula yang setiap saat menjaga, dengan memberi (menyuplai) energi kepada seluruh makhluknya, sehingga semuanya dapat eksis dan berfungsi dengan baik. Seandainya satu detik saja, Allah menghentikan penjagaan ini, tidak memberikan energi pada seluruh medan energi di seluruh alam ini, apa yang terlintas dalam fikiran kita?? Wallahu a’lam, hanya Allah SWT yang tahu. Hanya manusia yang beriman yang akan takzim, tersungkur sujud sambil berucap “Ya Tuhan kami tidaklah engkau ciptakan ini semua dengan bathil, maha suci Engkau maka jagalah kami dari siksa api neraka akibat kelalaian kami pada-Mu”. 



Sisi negatif kedua

Ayat itu dilanjutkan,   


وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (٧)
7. dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, 


Perhatikan bahwa di sini terdapat pula 2 harf taukid, yaitu inna dan la, sehingga bisa diterjemahkan “dan sesungguhnya ia (al-insan itu) atas yang demikian itu (atas pengingkarannya pada Tuhannya) sungguh menyaksikan”. Di sini Allah yang maha kuasa menjelaskan tentang intensitas lupa manusia. Bahwa manusia itu melupakan sesuatu yang amat besar (kebesaran Tuhan) padahal saat itu ia sedang dalam keadaan menyaksikan apa yang dilupakannya itu. 



Saya kembali bertanya, Apakah kita bisa melupakan (melalaikan) sesuatu, persis pada saat kita sedang memperhatikan (menyaksikan) sesuatu itu. Saat kita sedang bicara dengan istri, misalnya, mungkinkah pada saat yang sama kita lupa bahwa yang kita ajak bicara itu adalah istri kita sendiri ? sebagaimana jawaban pertama di atas, jawaban “tidak” adalah jawaban yang rasional, kecuali seseorang itu sedang mengalami kelainan jiwa dan fungsi ingatan. Boleh jadi pernah seseorang melintas di depan kita, tapi kita tidak menyadari. Ini berbeda dengan pembahasan kita, lebih-lebih  ayat ini bicara dengan kata “syahid”, yang berarti menyaksikan / bersaksi. Kata ini jauh lebih tinggi (intensitas dan cakupannya) dari kata melihat atau memandang. Bahkan kata syahid digunakan dalam ikrar tauhid (Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah), ini menunjukkan bahwa pengertian menyaksikan itu tidak bisa dipersamakan dengan pengertian melihat atau memandang. Paling tidak kata ini mengandung pengertian menyaksikan dengan penuh kesadaran dan dengan penuh pembenaran (bahwa kita membenarkan apa yang kita saksikan itu).




Kembali lagi, bahwa Allah azza wa jalla mengingatkan kita, bahwa manusia yang memiliki potensi melupakan ini bahkan dapat melupakan sesuatu yang sedang dalam penyaksian (pengamatan dengan penuh kesadaran dan pembenaran) kita. Setiap hari kita menghadapi manusia, hewan, tumbuhan, problematika kehidupan tanpa kita menyadari bahwa itu semua adalah makhluk Allah SWT. Alat indra kita bisa berfungsi, kita bisa melihat, menikmati nafas yang segar, tangan dan kaki yang bisa berfungsi, tanpa kita menyadari bahwa itu semua adalah pemberian Allah SWT. Kita merasa bahwa seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar dan lazim. Padahal sama sekali tidak demikian.



Siapa yang mengatur detak jantung sehingga sesuai dengan keperluan hidup, padahal kita tidak tahu perhitunganya yang sesuai dengan volume darah, panjangnya saluran darah, tekanan yang dialaminya dan lain-lain. Kita bisa mengatur nafas, tapi saat kita bicara, marah, tertawa, tidur dan aktivitas lain, siapa yang mengaturnya, sehingga kita tidak pingsan karena kekurangan oksigen. Sel-sel tubuh tetap bekerja dan berergenerasi dalam jumlah yang sesuai.



Kita melihat hujan yang jatuh sedikit demi sedikit sehingga memberi manfaat tanpa bahaya, panas yang tidak membuat terbakar, angin yang lembut, tanaman yang hidup sendiri tanpa mesti diatur (di-setel) oleh manusia. Ini semua kita saksikan setiap hari dalam hidup kita. Indra kita berinteraksi dengannya, tanpa sedikitpun kita sadar bahwa itu semua adalah pemberian Allah SWT yang mesti disyukuri. Saat seorang ibu hendak melahirkan, tidak ada seorangpun yang tahu –termasuk dokter ahli sekalipun- bahwa anak yang dikandung akan lahir dengan normal dan selamat. 
Barangkali alat scanning bisa melihat bahwa janin memiliki organ yang lengkap, tapi siapa bisa jamin bahwa organ-organ itu akan berfungsi dengan sempurna saat dia lahir. Perkara si bayi akan bisa melihat, tidak gagu, tidak ideot atau sebaliknya, seluruhnya adalah murni pemberian Tuhan. Ibu, ayah dan semua manusia hanya bisa menerima pemberian agung itu. 
Namun, setelah kita dewasa, setelah sekian tahun, belas tahun atau bahkan puluhan tahun berapa banyak dari kita yang hidup dalam syukur dan berterima kasih pada Tuhan. Berapa persen dari hidup kita, kita sadar bahwa segalanya adalah anugerah dan pemberian Allah yang Maha Besar. Kebanyakan kita lalai, dan melupakan ini. Semakin banyak kebaikan dan anugerah kita terima, kita semakin melupakannya, meskipun pemberian itu demikian vital dan senantiasa dalam penyaksian kita. “Wa innahu ala dzalika la syahid, dan sesungguhnya manusia itu atas yang demikian sungguh menyaksikan”.  


Sisi negatif ketiga    

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨)

8. dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada sesuatu yang dianggap baik.
Ayat ini menyatakan –tetap dengan 2 harf taukid- “Dan sesungguhna dia (al-insan) terhadap kecintaannya pada sesuatu yang dianggap baik ia sungguh teramat sangat besar”. Al-khoiri adalah segala sesuatu yang dianggap baik oleh kita. Manusia lebih menyukai rumah yang megah dibanding yang sederhana, wajah yang rupawan dibanding yang biasa, bahkan kita sering beranggapan bahwa orang yang cantik / tampan juga memiliki hati / perilaku yang baik juga, sebaliknya ketika melihat orang dengan wajah yang buruk maka kita menganggap “jangan-jangan” ia jahat sehingga kita menjauh darinya. Ini semua menunjukkan bahwa secara fitrah kita menyukai sesuatu yang dianggap baik, bahkan dalam tingkatan “cinta” (al-hub).



Karena besarnya cinta ini, maka dalam hidup kita tempatkan segala sesuatu yang dianggap baik ini sebagai target yang senantiasa kita kejar dengan habis-habisan. Orang merasa bahwa ia baru mendapat kebaikan kalau tujuan itu sudah didapat. Seseorang yang belum bisa sekolah merasa bahwa ia tidak mendapat kebaikan seperti orang yang sekolah, ketika akhirnya ia mampu sekolah ia akan menganggap bahwa yang baik itu adalah kalau ia sudah bekerja. Setelah pekerjaan ia dapat, dia belum merasa mendapat kebaikan kalau belum mendapat penghasilan yang cukup besar untuk membeli rumah dan fasilitas lain, dan demikian seterusnya. 
Kecintaan ini membuat seseorang terus mengejar dan berlomba dalam hidupnya. Dan ini semua membuat manusia lalai. Manusia melupakan bahwa Pemberian Tuhan berlaku menyeluruh dan adil terhadap semua makhluknya, pada setiap waktu. Bukan hanya orang yang sudah bekerja, seorang pengangguran pun memiliki amat banyak anugerah dan pemberian Tuhan yang tak terhingga yang mesti disyukuri. Dan ini dilupakannya, hanya karena ia belum mendapat sesuatu yang dianggap baik – pekerjaan- yang tanpa sadar lebih dicintai daripada rasa syukur pada Tuhan. Padahal Tuhan menyatakan “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambah dan sungguh jika kalian mengkufurinya sesungguhnya siksaku amat pedih". 


Saya pernah “mengobrol” dengan seorang teman yang bekerja sebagai salesman di perusahaan makanan. Ia menceritakan betapa hidupnya amat membosankan dan ia tidak sukai. Berangkat pagi, jam tujuh sudah sampai di kantor untuk laporan pagi. Pukul 7:30 sudah keluar dari kantor dengan mobil box berisi barang untuk diantar ke sekitar 15 pelanggan tiap hari. Hari senin ia menuju 15 pelanggan yang berbeda dengan hari selasa dan seterusnya. Ia akan sampai kantor pukul 17:00 untuk laporan kemudian pulang ke rumah. Ini dilakukan bertahun-tahun hingga ia hapal benar semua pelanggan tanpa harus melihat kertas kerja dan surat-surat lain yang ia bawa. Bahkan jalan yang ia lalui mampu dihapal hingga berapa jumlah lobang yang harus dihindari, polisi tidur, juga jumlah tikungan yang harus dilalui sampai-sampai tangan dan kakinya “bisa bekerja sendiri” tanpa ia perintah, demikian keluhnya. Saya tertawa mendengarnya. 

Rutinitas seperti ini dialami oleh hampir semua orang. Teman saya di atas, saya pribadi juga Anda tentu mengalami hal yang sama dalam kisah yang berbeda. Kebosanan yang kita rasa itu timbul karena kita merasa yang kita kerjakan adalah beban hidup. Kita lupa bahwa semuanya bagian dari tugas manusia beribadah dan mengabdi pada Tuhan
Bagi teman kita itu, bukankah ia bekerja itu suatu anugerah yang mesti disyukuri sementara di saat yang sama ribuan bahkan jutaan orang hidup tanpa pekerjaan. Bekerja di jalan Jakarta yang panas di dalam sebuah mobil bukannya lebih nyaman dibanding ribuan orang yang bekerja di jalan-jalan dengan menahan terik matahari yang menggosongkan kulit. Sebagai karyawan pasti akan menerima gaji pada akhir bulan, sementara pekerja harian lain sehari dapat penghasilan sehari tidak. Demikian pula hapalnya ia pada ruas-ruas jalan hingga detail rintangan, bukankah itu anugerah Allah yang maha besar baginya, sehingga ia tidak harus bersusah-susah tegang setiap hari. Bukankah itu bentuk kemudahan?? Lalu kemana larinya rasa syukur atas itu semua? Mengapa yang timbul justru rasa kebosanan dan cacian pada hidup yang dijalani. Pertanyaan itu tentu berlaku buat kita semua, sebagai al-insan, yang melupakan anugerah tuhan. Kita melupakan sesuatu yang amat berarti hanya karena kita mengejar sesuatu yang dianggap baik. Sesuatu yang dianggap baik belum tentu ia baik bagi kita, terlebih lagi dengan mengorbankan (melupakan) sesuatu yang lain, yang sudah pasti baik.

  

Itulah sekelumit sisi sisi negatif yang lahir dari potensi Melupakan yang dimiliki manusia. Dalam hal Ini Allah yang Maha pemurah memberikan “warning” bagi kita dengan memaparkannya agar kita senantiasa mengingat itu semua dan mempersiapkan sikap untuk mengatasinya. Hal ini dipaparkan dalam ayat berikutnya. 



Penyesalan Atas Kelalaian Manusia


Setelah menjelaskan sisi sisi negatif dari Potensi melupakan, ayat ini menyatakan :


أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (٩)

   9. Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.

Ayat ini bisa diterjemahkan “apakah dia (al-insan itu) tidak tahu apabila dibangkitkan apa-apa yang ada di dalam kubur.

Bu’tsiro (dibangkitkan) adalah kata kerja bentuk pasif (majhul). Dalam bahasa arab bentuk ini tidak memiliki subjek aktif (pelaku), akan tetapi memiliki naib fa’il (pengganti fa’il) yang pada kalimat ini adalah “maa fi al-qubur” (apa-apa yang ada dalam kubur). Apa yang ada di dalam kubur? Kita bisa katakan orang-orang yang sudah meninggal, sejak jaman dahulu hingga sekarang. Lalu apa hubungannya dengan ayat sebelumnya tentang manusia yang punya potensi melupakan?? Kata kuncinya terletak pada kata afala ya'lamu (apakah al-insan tidak mengetahui). Allah S.W.T mengingatkan kita, manusia yang amat lalai ini, bahwa ketika orang-orang yang sudah mati, yakni orang-orang yang dahulunya seperti kita, berpengalaman hidup dan sama-sama punya potensi melupakan, setelah mereka meninggal mereka jadi tahu hakekat yang sebenarnya. Apa yang sudah mereka betul-betul tahu[2] dan kita belum tahu, dan apa yang terjadi pada mereka? Mereka menyesal. Penyesalan yang sudah tiada arti. 


Orang yang mati dalam keadaan baik menyesal, mengapa mereka tidak menambah amal baik sewaktu mereka hidup. Terlebih lagi orang yang mati dalam keadaan buruk mereka menyesal mengapa dahulu tidak beriman dan mengisi hidup dengan perbuatan baik. Mereka menyesal karena potensi yang mereka miliki dan kenikmatan yang mereka dapat menjadikan mereka melupakan apa-apa yang sebetulnya mereka ketahui : kehidupan akhirat, sebagai balasan atas perilaku dan kehidupan mereka di dunia. Inilah penyesalan terbesar. Penyesalan ketika pada saat itu sudah tiada lagi kesempatan –walau secuil- untuk memperbaiki, dan pada saat sebelumnya mereka ketahui akibatnya dan sudah pula diberi peringatan.



Seperti orang yang memecahkan gelas bukan dengan tidak sengaja. Sebelum gelas pecah, ia tahu bahwa gelas dapat pecah dengan benturan. Ia juga tahu bahwa kalau pecah maka ia tak mampu memperbaiki. Tetapi karena gelas itu belum pecah, ia  lalai akan keharusan menjaga dan menghindarkan[3] gelas dari kemungkinan pecah. Baru ketika ia pecahkan gelas, ia menyadari semuanya dan ia hanya bisa menyesal, penyesalan yang tiada guna. Dalam Alquran cukup banyak dipaparkan ucapan penyesalan dari orang-orang yang sudah meninggal, seperti “duhai celakalah aku seandainya aku bisa dikembalikan untuk hidup lagi di dunia, niscaya aku termasuk orang-orang yang beriman”. Di ayat lain, “seandainya aku ini diciptakan tidak sebagai manusia, tapi tanah saja sehingga tidak harus menerima amanat untuk dipertanggungjawabkan”, dan banyak lagi yang lain. 


Maha Besar Allah dan Maha Pengasih Ia, yang dengan kasihnya diperingatkan segala sesuatu dengan haq. Allah mengetahui segala hakekat dan disampaikanNya kepada manusia apa-apa yang mereka tidak tahu dan tidak sadari. Siapapun kita, bila kita melalaikan (melupakan) kewajiban kita untuk menjaga dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Tuhan semesta Alam, maka hanya penyesalan saja yang akan kita dapat, wal iyadzu billah. 




Peringatan ke dua

Pada ayat selanjutnya Allah mengingatkan pula :   


وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (١٠)

10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.

Hussila berbentuk majhul (kata kerja pasif) dari hassola yang berarti mengumpulkan, mengikhtisarkan atau memeriksa. Kata ini banyak dipakai untuk pengertian panen buah atas tanaman. Ketika selesai panen, orang mengumpulkan hasilnya, memeriksa dan mengelompokkan dalam jumlah-jumlah tertentu, mengikhtisarkan mana yang berkualitas bagus, mana yang  sedang dan buruk, barangkali itulah hassola.



Kata wa (dan – berupa waw ‘athf) berfungsi menggabungkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya, sehingga seolah-olah ayat ini berbunyi wa afala ya’lamu idza hussila ma fi as-sudur”. Dengan demikian ayat ini bisa diartikan : dan apakah dia (al-insan itu) tidak mengetahui apabila diperiksa (diikhtisarkan) apa-apa yang ada dalam dada. Allah mengingatkan bahwa semua perbuatan itu berawal dari apa-apa yang kita niatkan dan kita cetuskan dalam dada kita. Alangkah banyaknya kita meniatkan, mencetuskan dan menyimpan dalam dada kita, baik itu sesuatu yang baik maupun sesuatu yang buruk. 


Sebagian ulama menyimpulkan bahwa niat yang baik akan tercatat sebagai kebaikan dan niat yang buruk belum dicatat oleh Allah hingga betul-betul dikerjakan, sebagai bentuk kasih sayang pada hambaNya. Ada pula Ulama yang berpendapat bahwa sebagian niat buruk sudah dicatat Allah, karena sebagian niat buruk itu juga termasuk penggunaan dari kemampuan yang diberikan oleh Allah, sehingga dicatat pula sebagai amal (perbuatan). Lalu apa pula kaitannya dengan potensi melupakan? Jawabannya terletak pada apa-apa yang disimpan dalam dada itu sendiri. 
Allah yang maha mengetahui, bagiNya tak tertutup segala sesuatu termasuk apapun yang terpetik dalam hati setiap manusia. Seandainya niat dan cetusan hati manusia itu berupa tulisan dalam lembaran kertas dan dada kita berupa lemari tempat menyimpan lembaran-lembaran kertas itu, maka tatkala Allah membukanya bagi kita sungguh tiada lain yang muncul dari diri kita kecuali penyesalan dan rasa malu yang tak terhingga. Kita akan dapati bahwa ternyata lemari itu banyak sekali terisi dengan sesuatu yang tidak berguna. Tulisan-tulisan dalam kertas itu lebih banyak berisi keinginan syahwat dan nafsu yang rendah.

Betapa tumpukan kertas yang berisi iri, dengki, persangkaan buruk terhadap saudara kita, angan-angan kosong, dan niat-niat buruk yang lain menjadi tumpukan-tumpukan laksana gunung yang tinggi dibanding kertas-kertas berisi niat baik kita yang sedikit. Betapa malunya kita seandainya tumpukan-tumpukan itu dipaparkan di depan sanak saudara dan manusia lain, serta dibacakan satu demi satu. Sungguh saat itu rasa malu dan penyesalan yang diikuti oleh derai tangis darah sekalipun sudah tiada artinya, takkan mampu mengubah tumpukan-tumpukan itu. 



Penutup

Pepatah mengatakan sesal kemudian tiada guna. Selagi ada kesempatan, masih terbuka peluang bagi kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan serta memperbaiki masa depan kita sendiri. Kita tidak harus mati terlebih dahulu, atau pula menunggu dada kita dibuka dan diperiksa, untuk menghadirkan penyesalan itu ke hadapan kita sekarang juga. Mampukah kita sebagai manusia yang diberikan berbagai potensi oleh Allah, untuk mempergunakannya dengan baik dan bijak. Wallahu a’lam, hanya kita yang mampu jawab dan hanya pada Allah tempat kembali segala urusan. Akhir surat ini berbunyi :


إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (١١)
11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui Keadaan mereka


Perhatikan dua harf taukid di ayat ini, sehingga bisa diartikan “sesungguhnya tuhan mereka terhadap mereka pada hari itu sungguh mengetahui. Allah, baginya ilmu atas segala sesuatu. Ia menciptakan dan menyempurnakan. Memberikan kondisi dan potensi yang sesuai dan rahmatNya menyeluruh bagi semua mahkluknya. Apakah pada tempatnya kita menyia-nyiakan pemberian Allah SWT, baik berupa waktu, ruang gerak, diri kita sendiri beserta potensi-potensinya. Ketahuilah, bahwa setiap pemberian itu punya saatnya untuk dipertanggungjawabkan. Pada saat itu apa yang akan terjadi berada dalam ilmu Allah S.WT. Kasih sayang Allah pada makhluknya amat besar, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi Allah paparkan, Allah ceritakan pada kita. Besarnya bencana hari akhir, kehidupan setelah mati dan rahasia di dalam dada (hati dan perasaan) Allah sampaikan pada kita agar kita mampu mengambil sikap untuk berbuat yang terbaik.



Allah SWT tiada butuh pada apapun, termasuk perbuatan baik kita. Tidakkah kita perhatikan sekecil apa diri kita dibanding manusia seluruhnya di bumi ini, sekecil apa bumi kita dibanding galaksi bima sakti, sekecil apa galaksi bima sakti dibanding alam raya ini? Lalu di mana kita yang seorang ini dengan berbagai kelemahan dan kesombongan kita di dalam alam raya yang demikian agung. Bahkan seandainya seluruh penduduk bumi ini semuanya beriman, niscaya tida menambah sedikitpun kebesaran Allah, dan sebaliknya seandainya seluruhya ingkar dan bermaksiat padaNya, maka tak sedikitpun kebesaran Allah berkurang. Semua kebaikan yang kita kerjakan hakekatnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni kesalahan dan kealpaan kita. Juga mengampuni kelemahan kita dalam memanfaatkan setiap potensi yang diberikanNya bagi kita, temasuk potensi melupakan. Wallahu a’lam bis-showab.

 *****

Notes :
[1] Perhatikan kata hi (nya) dalam li robbihi dalam ayat itu, yang berarti Tuhannya. Kata "nya" ditekankan untuk menunjukkan hubungan yang dekat, seperti hubungan kepemilikan. Kursi budi bisa diganti dengan kursinya, dan kursinya menunjukkan bahwa itu bukan kursi hasan atau kursi amir, tapi betul betul kursi budi.
[2] Ini tersirat dari penggunaan kata ya'lamu yang akar katanya adalah ilmu, yaitu pengetahuan seseorang tentang sesuatu dengan dasar yang kokoh.
[3] Dua kata ini, "menjaga dan menghindarkan" disepakati oleh banyak ulama sebagai esensi takwa. Maksudnya menjaga dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang berakibat murka Tuhan.