Kamis, 25 April 2013

Usia Nabi Ismail AS ketika peristiwa penyembelihan

Usia Nabi Ismail Saat Peristiwa Penyembelihan
Oleh : Almar Yahya



Cukup banyak pendapat yang menyatakan bahwa usia Nabi Ismail saat peristiwa penyembelihan pada kisaran 6-7 tahun. Penuturan kisah ini senantiasa diulang sepanjang masa karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah qurban setiap bulan dzul hijjah. Dari kisah ini dapat digali banyak sekali hikmah dan pelajaran yang berharga bagi kehidupan manusia baik aspek pendidikan, kemanusiaan, filsafat, spiritual dan lain sebagainya.

Namun, apakah benar kisaran usia tersebut? Kami berpendapat bahwa ketika itu usia (nabi) Ismail telah sampai pada usia baligh (mencapai kisaran usia 14-15 tahun) dan masuk pada fase ke-3 masa pendidikan anak ( 15 - 21).

Kita akan sedikit menggali dari kisah yang disampaikan Allah SWT dalam Alquran, surat Asshofat.

Mari kita perhatikan surat Asshofat ayat 102 sbb :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".


Alasan 1

Dalam ayat di atas disebutkan "tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)". Penggunaan kata "بَلَغَ" (sampai) menunjukkan bahwa saat itu (nabi) Ismail telah sampai pada umur tertentu.  Ulama fiqih menamai usia baligh apabila seorang anak telah mencapai kedewasaan, yang ditandai oleh munculnya tanda-tanda sekunder, yaitu sekresi indung telur (menstruasi) bagi anak perempuan dan sekresi sperma bagi anak laki-laki. Boleh jadi ada yang berpendapat bahwa kata "sampai" hanya menunjukkan usia melewati fase pertama masa pendidikan, yaitu 6 tahun. 

Namun kata "مَعَهُ السَّعْيَ" menekankan bahwa "baligh" tersebut berkaitan dengan kemampuan yang lebih tinggi dan "setara" dengan bapaknya (ma'ahu = bersama-sama) yang menunjukkan kedewasaan yang lebih tinggi.


Alasan 2

Penggunaan kata "فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى" di mana Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada anaknya mengenai perintah Allah yang disampaikan lewat mimpi beliau. Dialog ini menggambarkan hubungan "Ayah-Anak" sudah sampai pada fase ke-3 pendidikan (usia 14-21), di mana pada usia ini pendidik (orang tua) menempatkan anak pada kedewasaan yang setara seperti seorang sahabat. 

Boleh jadi ada pendapat yang mengatakan bahwa pada usia sebelum itu juga wajar seorang pendidik (orang tua) meminta pendapat anaknya. Namun pendapat tersebut lemah pada kasus ini, mengingat objek pendapat berkenaan dengan masalah yang berat, bukan hal-hal yang lebih sederhana seperti pertanyaaan tentang makanan kesukaan, pilihan warna, baju dsb.

Dalam hal ini, objek pertanyaan tidak hanya menyangkut keputusan masa depan, bahkan menyangkut hidup dan mati. Di sisi lain, Nabi Ibrahim AS juga menginginkan jawaban anaknya yang menggambarkan pandangan dan kesiapan sang anak sehingga beliau lebih yakin akan keputusannya dan untuk meneguhkan hati. Hal ini tergambar jelas dalam jawaban (Nabi) Ismail pada ayat di atas.


Alasan 3

Jawaban yang disampaikan kepada ayahnya sangat lugas, tidak mengandung keraguan, bahkan dapat meneguhkan keputusan ayahandanya. Jawaban seperti ini sama sekali bukan jawaban kanak-kanak bahkan bukan jawaban anak remaja sekalipun. Kata "kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu" menunjukkan bahwa (nabi) Ismail telah berani mengambil keputusan sendiri. Ini sangat berbeda dari jawaban yang umum dari seorang kanak-kanak / remaja yang menurut dan menyerahkan urusan kepada orang tuanya. Jawaban yang lazim muncul pada kanak-kanak / remaja adalah semacam "terserah Ayah saja", atau "urusan ini saya serahkan keputusanya pada Ayah". 

Barangkali ada argumen lain yang menyatakan bahwa jawaban tersebut menjadi wajar, karena (nabi) Ismail adalah manusia pilihan Allah SWT yang kelak diangkat menjadi nabi. Menurut hemat kami, argumen ini tidak memiliki akar yang kuat, mengingat nabi juga seorang manusia yang tak lepas dari karakter fitrah anak-anak dan fitrak pendidikan. Coba kita bandingkan dengan kisah (nabi) Muhammad SAW sewaktu kecil, ketika didatangi oleh malaikat pada peristiwa pembelahan dada beliau. Kisah ini meskipun berbeda versi pada detillnya, namun menggambarkan kejadian besar yang menimpa diri Nabi. Saat menceritakan ini, Nabi menggambarkan pada saat itu dirinya ketakutan. 
Apabila (nabi) Ismail adalah seorang pilihan Allah SWT, maka (nabi) Muhammad SAW adalah manusia paling terpilih dari seluruh nabi, seluruh rasul, seluruh manusia dan makhluk lain, karena beliau sayyidul anbiya wal mursalin. Namun tetap saja, beliau saat itu merasakan takut karena beliau belum sampai pada usia yang cukup untuk  mengerti dan berfikir sebagai dewasa.

Alasan 4

Akhir kisah ini adalah digantinya penyembelihan dengan hewan qurban (seekor domba / kambing). Lebih lanjut penyembelihan hewan qurban menjadi ibadah setiap tahun. Kita perhatikan bahwa tebusan sebagai ganti penyembelihan adalah kambing yang telah dewasa. Syarat kambing kurban adalah kambing (diutamakan) jantan yang telah dewasa, di mana giginya telah pupak. Ini sejalan dengan yang digantikan : (nabi) Ismail yang telah dewasa dan telah baligh.

Demikian, wallahu a'lam.



1 komentar:

  1. Semangat iabadah qurban, berbagi kebahagiaan ada yang model lembaga qurban online seperti saat ini banyak dilakukan, karena bisa lebih mudah dikala kesibukan untuk berkurban

    BalasHapus