Kamis, 04 Juli 2013

TUKANG BERSIH - BERSIH



Apa yang tergambar di kepala kita saat membaca judul di atas?
Apakah orang yang sedang mengepel lantai, menyapu halaman, mengelap perabot dari debu, menyikat kamar mandi, mengangkut sampah, menyapu jalanan?
Petugas wc umumkah? Pembantu rumah tangga? Office boy? petugas kebersihan? Orang rendahan? Pekerja yang berada dalam tugas yang kurang penting? Bahkan sangat tidak penting?

Apabila kita cermati, ternyata, orang-orang besar di dunia ini adalah tukang bersih-bersih. Proklamator kita Bung Hatta adalah tukang bersih-bersih sejak muda hingga meninggalnya. Pahlawan nasional Kyai besar Hasyim Asyari menghabiskan seluruh hidupnya jadi tukang bersih-bersih. Para khalifah rasyidah adalah tukang bersih-bersih sejati. Hingga Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang seluruh kehidupannya total untuk bersih-bersih. Manusia-manusia besar tersebut mengabdikan hidupnya untuk membersihkan kotoran dan noda yang terdapat pada jiwa individu, masyarakat, bangsa, negara dan seluruh umat manusia. Mereka petugas kemanusiaan, pencetak sejarah dan kekasih-kekasih Tuhan sepanjang masa.


Jangan remehkan tukang bersih-bersih! Mereka bekerja bukan buat diri sendiri, tapi buat orang lain. Terlebih lagi bila mereka ikhlas mengerjakannya.

Sewaktu kita ke toilet umum di pasar / mall misalnya. Bila kita dapati toilet yang bersih, maka kita nyaman dan memuji pasar / mall tersebut. Sebetulnya pujian dan doa tersebut bukan untuk pengusaha / pemilik tempat, namun akan sampai kepada orang-orang khusus : "Tukang bersih-bersih".

Walaupun tidak banyak, ada juga pembantu rumah tangga yang ikhlas dan mereka bekerja hingga usia tua. Barangkali sangat mungkin bila amal tuannya ditimbang, tidak seberat amal pembantunya. Karena sang tuan bekerja untuk diri sendiri (dan keluarganya) sedang pembantu rumah tangga yang ikhlas bekerja untuk orang lain, di samping untuk diri sendiri dan keluarganya.


Ada seorang mubaligh yang bercerita, sewaktu beliau menjadi santri di pesantren terkemuka di Timur Tengah, beliau malah ditugaskan jadi tukang bersih-bersih di dapur, sementara teman-temannya yang lain bisa belajar, berdiskusi, menyusun risalah dsb. Ternyata, baru di sadari, pekerjaannya bersih-bersih di dapur dan kamar mandi justru membuat beliau bisa bertemu dengan guru mulianya lebih banyak daripada seluruh teman-teman yang lain. Guru mulianya sering meninjau langsung dan menyapa tukang bersih-bersih di dapur, kamar mandi dan kebun, sehingga muwajjahah dengan gurunya terasa lebih dekat, seperti anak dan ayah sendiri. Lebih luar biasa lagi, ketika beliau (tukang bersih-bersih) mampu menyelesaikan pendidikan jauh lebih cepat dibanding teman-teman yang intens dengan belajar. Sebuah kitab yang rumit bagi temannya yang lain terasa amat mudah dan ringan baginya.

Rupanya dengan menjadi tukang bersih-bersih justru menjadi "berkah" yang amat besar, ketika dikerjakan dengan ikhlas. Tanpa bisa dijelaskan, jadi tukang bersih-bersih menajamkan intuisi, akal dan jiwanya, sehingga memudahkan baginya ilmu dan hikmah.

Orang yang bekerja untuk orang lain dengan ikhlas (lebih-lebih bekerja memperbaiki dan membersihkan kerusakan / kotoran yang dibuat oleh orang banyak) sesunggunya sedang mengerjakan dan berbuat banyak hal :

1. Bekerja.
2. Menerima dan memaafkan kesalahan orang lain.
3. Membantu orang lain.
4. Menyambung tali silaturrahim.
5. Menteladani sifat-sifat Tuhan.
6. Pada saat yang sama, dia sedang membersihkan, membangun dan melatih jiwanya sehingga kualitas jiwanya meningkat dan terus meningkat.

Subhanallah...


Kira-kira menjadi apa orang yang setiap saat bekerja untuk orang lain? orang banyak? Saya kira menjadi waliyullah... Bahkan sangat banyak dijumpai, orang yang dimuliakan Allah SWT hingga kuburnya, jasadnya terjaga tidak rusak, meskipun bertahun-tahun dipeluk tanah. Sepertinya mereka orang-orang biasa. Tetapi tidak! Mereka orang yang luar biasa : orang yang bekerja untuk orang lain, untuk orang banyak. Sepele kata orang, bernilai besar di sisi Tuhan. Remeh kata manusia, amat mulia dicatat Tuhan, asalkan dikerjakan dengan ikhlas, lillahi ta'ala.




Sejalan dengan pesan Nabi SAW :

خير الناس أنفعهم للناس

...sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainnya (masyarakat). 
Meskipun aneh dan nyeleneh, boleh juga diusulkan kepada pemerintah, bahwa ujian untuk para pejabat, selain fit and proper test untuk menguji skill, kemampuan dan keahlian, ujilah terlebih dahulu jiwa calon pejabat. Caranya? jadi tukang bersih-bersih selama 1 tahun. Apabila terlatih dan teruji, mereka akan menjadi pejabat-pejabat berkualitas, pejabat yang ikhlas. Dan, apabila mereka tetap menjadi tukang bersih-bersih seumur hidupnya, mereka akan menjadi : Para waliyullah yang menjadi pejabat pemerintah.
Apabila yang menjadi pejabat negeri ini adalah para waliyullah, bayangkan, akan menjadi seperti apa negeri ini???

Wa ilallahi turja'ul umur...



Sumber gambar : 1CAK.COM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar