Rabu, 28 Agustus 2013

JIHAD, TAKUT DAN EKSTREMISME

JIHAD, TAKUT DAN EKSTREMISME





PENDAHULUAN

Tanyakan pada kawan Anda, apa gambaran jihad? apakah perang, kematian, darah?

Secara bahasa jihad berasal dari kata جهد yang berarti bersungguh-sungguh. Kata bendanya adalah الجَهْد, berarti kelelahan atau الجُهْدُ, berarti kemampuan. Lawan kata (antonim) dari kata ini adalah malas / bermalas-malasan / santai.

Sebagian orang memaknai jihad adalah upaya untuk mencapai mati syahid dengan berperang. Ini adalah penyempitan makna dan kekeliruan yang bahkan bisa membelokkan sejatinya jihad.


AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama fitrah. Fitrah untuk manusia, fitrah untuk alam semesta dan isinya. Pelajarilah Alquran dan sosok Nabi Muhammad SAW dengan mendalam dan komprehensif, niscaya Anda akan mendapati fitrah. Lakukan secara terbalik: Pelajari manusia, hewan, tumbuhan, alam semesta serta hubungan rumit antar mereka. Niscaya Anda akan menemukan nilai-nilai umum : fitrah. 

Jadi dari manapun Anda mempelajari dan meneliti, akan bertemu dengan nilai yang sama : fitrah. Itulah agama. Sehingga bila disimpulkan, Agama Islam adalah agama yang menjaga akhlak dan adab kepada 3 hal : Tuhan, manusia dan alam semesta. Tidak berakhlak seseorang apabila ia tidak beraklaq kepada 3 hal tersebut sekaligus. Dengan kata lain, seorang muslim harus menjaga akhlaq dan adab sekaligus kepada Tuhan, manusia dan alam semesta.

Itu sebabnya dalam Islam terdapat kaidah penjagaan / penegakan hal-hal pokok :
1. hifdzud-din (menjaga agama)
2. hifdzul-hayat (menjaga hidup)
3. hIfdzul-Aql (menjaga akal)
4. hifdzun-nasab (menjaga nasab)
5. hifdzul-mal (menjaga harta)

Islam meWAJIBkan penjagaan kelima hal pokok tersebut, sehingga apa saja yang bisa MERUSAK hal-hal tersebut pasti HUKUMNYA HARAM.

Perlu digarisbawahi, bahwa kelima hal pokok tersebut bukan batasan (bukan hanya 5 hal saja yang dijaga islam), namun 5 hal tersebut pokok, sehingga yang lain-2 merupakan turunan dari 5 tersebut, juga wajib dijaga.


MAKNA JIHAD

Agama memerintahkan penjagaan pada seluruh fitrah kehidupan, dengan maksimal dan sungguh-sungguh, menggunakan seluruh upaya yang dimiliki, termasuk waktu, kemampuan, harta,  bahkan termasuk jiwanya. Upaya sungguh sungguh itulah yang dinamai JIHAD. 
Adapun teknik / cara / pelaksanaanya dilakukan dengan cara yang paling sesuai. Dalam hal ini agama memerintahkan untuk mendahulukan cara-2 yang paling baik (ihsan dan ma'ruf). Perang hanyalah salah satu di antara opsi, di samping merupakan pilihan terakhir dalam upaya penjagaan / tegaknya fitrah tersebut.

Itu sebabnya perintah perang dalam Al Qur'an menggunakan kata "udzina lakum" (telah diijikan bagi kalian). Maksudnya, sebelum seluruh syarat / kondisi yang mewajibkan perang itu terpenuhi, maka Allah tidak mengijinkan (hukumnya haram). Karena dalam perang sulit menghindari terjadinya pengrusakan hal-hal pokok (fitrah) yang seharusnya dijaga. Bahkan agama islam juga menetapkan hal-hal pokok dalam perang, di antaranya : tidak boleh menyakiti (apalagi membunuh) anak-anak, wajib menjaga kehormatan wanita, tidak boleh merusak dan menebang pohon dan tanaman dll.

Jadi hakikat jihad sebenarnya adalah HIDUP. Jihad itu upaya untuk menegakkan kehidupan, bukan untuk mati.


(MATI) SYAHID

Syahid atau syahadah (orangnya disebut syahid, jamaknya syuhada) adalah hadiah yang diberikan oleh Allah SWT bagi seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah. Demikian agung hadiah ini, sehingga pelakunya disebut sebagai orang yang menerima nikmat yang besar dari Allah SWT. Firman Allah dalam Q.S. Annisa 69 :


وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)
69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang (mati) syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Bahkan beberapa ayat dan riwayat menerangkan bahwa para syuhada dibebaskan oleh Allah SWT dari hisab di hari akhirat, langsung masuk ke dalam syurga.

Ini adalah hadiah yang luar biasa, sehingga seyogyanya menjadi cita-cita setiap mukmin. Amat rugi seseorang yang tidak mengharapkan hadiah ini.


3 KELOMPOK MANUSIA TERHADAP JIHAD




Apabila kita membuat garis dan kelompok terhadap jihad, terdapat 3 kelompok :
1. Orang yang berjihad di jalan Allah dan berani mengorbankan segala yang dimiliki termasuk harta dan jiwanya. Dibutuhkan keberanian dan keihlasan untuk bersedia mengorbankan apapun yang dimiliki, baik waktu, kemampuan, harta bahkan nyawa sekalipun. Merekalah kelompok orang yang insya Allah mendapatkan syahadah yang mulia.
2. Orang yang takut. Mereka orang yang tidak akan pernah mendapatkan syahadah lantaran tidak berani mengorbankan apa yang dimiliki, atau lebih mencintai itu semua dibanding berjihad di jalan Allah.
Firman Allah dalam Q.S. Attaubah 24 :


قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤)

24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

3. Kelompok ekstrim. Mereka memiliki pandangan keliru mengenai jihad, menganggap bahwa perang adalah satu-satunya opsi dalam jihad. Tanpa mendahulukan opsi lain yang jauh lebih baik, mereka lompat menuju perang, dengan tidak memperhatikan syarat-syaratnya. Bahkan mereka tidak memperhatikan kewajiban menjaga pokok-pokok agama (fitrah). Menganggap ringan pengrusakan dan penghilangan jiwa dan harta manusia dan alam semesta. Kelompok ini dikuatirkan hanya mati sia-sia, bahkan bisa jadi termasuk orang-orang mufsid (perusak) yang dikecam oleh Allah SWT dan rasulnya SAW.


TUDUHAN KEJI ORIENTALIS


Terdapat pula tuduhan dari kelompok di luar Islam yang menyudutkan dan membuat tuduhan keji, bahwa muslimin itu ketika lemah ia berlaku lembut, namun mereka menunggu menjadi kuat. Setelah kuat mereka akan berperang menghancurkan selainnya.

Ini tuduhan yang keji dan tidak berdasar. Kami cukup berikan 2 argumen.
1. Perang pertama dalam Islam, tidak dilakukan menunggu kuat. Perang badar tejadi ketika muslimin masih lemah dan jumlahnya sangat sedikit. Dalam perang itu jumlah muslimin 300-an orang melawan lebih dari 1.000 orang. Jumlah muslimin kala itu adalah "all out" seluruh kekuatan tanpa sisa. Melawan lebih dari 3 x lipat. Peralatan perang jauh dari memadai dibanding musuhnya dalam perang. 

2. Nabi SAW mengadakan perjanjian-perjanjian damai dengan kelompok non muslim, dengan memperlakukan mereka sama adil dengan muslim. Seluruh tindakan baik perang / pengusiran hanya tejadi setelah terjadinya penghianatan dan pemutusan perjanjian tersebut. Dengan kata lain terjadi dalam kondisi perang. Bahkan terbukti dalam sejarah Islam, tindakan tersebut (memerangi dan pengusiran) juga diperlakukan terhadap muslim, bila mereka terbukti melakukan kesalahan yang serupa.

Dalam Islam tidak ada pemaksaan masuk agama. Islam menghilangkan penghalang (barrier) yang ada dalam masyarakat untuk memilih. Biasanya penghalang ini disebabkan oleh penguasa otoriter. Penghalang ini yang dihancurkan oleh Islam untuk menegakkan fitrah agama. Untuk menciptakan kondisi kebebasan memilih agama.

Firman Allah SWT Q.S Al Baqarah 256 :


لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)

256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.


JIHAD ADALAH MENJAGA KEHIDUPAN





Allah berfirman Q.S Al Imran 102
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Kata "jangan kamu mati kecuali..." tentu sangat berbeda makna dengan "..jangan kamu hidup kecuali.." Di sini yang ditekankan adalah hidup (jangan mati).

Firman Allah yang lain Q.S. Al Baqarah 179 :
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٧٩)

179. dan di dalam (pelaksanaan) qishaash itu terdapat (penjagaan) kehidupan bagi kalian, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

Ketahuilah, bahwa inti jihad adalah menjaga dan menegakkan kehidupan. Jihad untuk hidup, bukan untuk mati. Sehingga orang yang berjihad di jalan Allah, kemudian mati (dengan cara apapun), maka mereka itu adalah para syuhada yang terhormat dan mulia. Esensi syahid bukan mati atau cara matinya, namun perjuangan hidupnya, jihadnya.

Al Imam sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, sebagai contoh. Beliau gugur tidak dalam keadaan berperang. 3 hari setelah upaya pembunuhan, beliau diobati dan kemudian baru meninggal dunia. Seluruh ulama sepakat bahwa beliau adalah shahid yang mulia. Khalifah Umar bin Khatab RA juga demikian. Contoh lebih gamblang adalah Rasulullah SAW. Beliau meninggal di rumahnya, tidak di medan perang. Namun seluruh hidupnya tanpa sisa adalah jihad yang tertinggi. Siapa berani mengatakan bahwa beliau bukan syahid?

Para ulama yang menyebarkan agama di Nusantara, mereka meninggalkan sanak keluarga dan hartanya. Apakah mereka bertempur di tanah nusantara dan mati dalam pertempuran? Bisa jadi ada juga pertempuran dan gugur. Namun mereka semua berdakwah dengan santun. Mendirikan masjid dan sekolah, berbaur dengan masyarakat, menghidupkan ekonomi, mengajar agama dan memberi contoh. Sebagian terbesar justru gugur dalam perjalanan, di rumah, di masjid, di sawah, di sekolah dsb. Mereka berjuang di jalan Allah, mereka berjihad dan mereka adalah syuhada. Jasa mereka : 90 % rakyat Indonesia sekarang adalah muslim. Kita yang tidak / kurang melanjutkan perjuangan mereka, sehingga kualitas rata-rata dari yang 90 % tersebut masih rendah.

Bahkan para ulama juga memaknai syahid bagi orang-orang berikut :
1. Seorang ibu yang gugur ketika melahirkan anaknya.
2. Seorang yang meninggal karena kecelakaan ketika sedang belajar, atau di perjalanan menuju / kembali dari belajar.
3. Seorang ayah yang meninggal ketika sedang bekerja mencari rezeki yang halal untuk keluarganya.
4. Seorang guru yang meninggal saat mengajar.
5. Seseorang yang meninggal dalam ibadah.
Dan seterusnya. Mengapan demikian? karena dalam Islam seluruh aspek kehidupan dan seluruh aktivitas adalah ibadah kepada Allah, apabila dilakukan dengan niat yang benar, tujuan yang benar dan cara-cara yang benar.

Allah berfirman dalan Q.S Al Ankabut 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)

69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.



Terakhir, kami ingin mengutip ucapan Hb. Ali Aljufri yang sejalan dengan tulisan kami, sbb :  

"kita sering mendengar kalimat "mati di jalan Allah" tetapi ada apa dengan "hidup di jalan Allah"? 
Hidup di jalan Allah lebih sulit jihadnya, lebih berat cobaannya dan lebih panjang kesulitannya, apalagi di jaman fitnah.

Barang siapa yang hidup di jalan Allah, maka dia akan mati di jalan Allah"

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.