Jumat, 04 Maret 2016

Memuji Nabi Muhammad SAW

Bismillahirrahmanirrahim

Hari jumat adalah hari utama, disebut sayyidul ayyam. Pada hari ini disunnahkan untuk memperbanyak sholawat kepada manusia utama, sayyidul jinni wal insi, Nabi Muhammad SAW. Manusia terbaik, yang dipuji bukan hanya oleh makhluk bahkan juga oleh khaliq, Sang Pencipta, Allah SWT.

Seluruh ulama sepakat mengenai memuji Nabi. Mereka juga sepakat mengenai tidak bolehnya memuji nabi secara berlebihan, melebihi kadarnya, sebagaimana Nabi pernah besabda supaya jangan memuji beliau seperti kaum nasrani memuji Nabi Isa ibn Maryam AS.

Ada sementara pihak yang berpendapat bahwa jangan memuji Nabi kecuali seperti teks yang pernah dicontohkan, baik oleh Alquran, Alhadits, atau para ulama generasi awal, tabi’in dan tabiut-tabiin. Mereka berpendapat bahwa Nabi boleh dipuji tapi tidak boleh sangat-sangat memuji Nabi SAW.

Muhammad artinya orang yang terpuji. Benarkah demikian?

Mari kita sedikit bahas mengeinai hal ini.
Nama Muhammad “مُحَمَّد” berasal dari AKAR KATA “حمد” (hamida – yahmadu –  hamdun) berarti pujian. Kata kerjanya memuji. Obyek yang dipuji dari kata ini adalah : BUKAN MUHAMMAD, tetapi MAHMUD  “محمود”, artinya orang yang dipuji atau orang yang terpuji.

Jadi untuk pujian biasa, maka belum ketemu (belum terbentuk) kata "muhammad", karena kata MUHAMMAD berasal dari kata kerja “حَمَّد” (hammada – yuhammidu – tahmiidan). Obyeknya adalah “مُحَمَّد

Sedikit beralih, mari kita lihat pada kata “pecah – memecahkan”, dalam bahasa arab adalah (kasara – yaksiru). 

Apabila kita melihat orang memecahkan gelas yang tadinya utuh menjadi pecah, maka kata "kasara" ini yang digunakan. Bagaimana dengan "kassara – yukassiru"? Kata ini digunakan bila Anda melihat seseorang tidak hanya memecahkan gelas, tapi memecahkan gelas higga hancur berkeping-keping. Orangnya disubut “mukassir”, obyeknya disebut “mukassar”.

Kembali pada pembahasan kita, maka Muhammad (sebagaimana bentuk "mukassar" di atas), sesuai nama yang Allah berikan berarti : orang yang SANGAT-SANGAT terpuji.

Jadi pantaskah kita sangat-sangat memuji Nabi?

Wallahu a’lam