Senin, 26 Oktober 2015

Pasrah pada pengetahuan ?

Pasrah Pada Pengetahuan ?

سم الله الرحمن الرحيم

Alquran yang mulia, sesudah alfaatihah dibuka dengan ayat ini:

ِ الم * ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.
[Surat Al-Baqarah 1 - 3]


Allah SWT menyebut Alquran sebagai kitab tanpa keraguan, adalah petunjuk bagi orang 2 yang bertakwa. Pada ayat lain memang terdapat indikasi bahwa selain orang yg bertakwa juga bisa mendapat petunjuk dari sebagian ayat Alquran. Akan tetapi secara mutlak petunjuk alquran diperuntukkan bagi orang-orang yg bertakwa.

Kemudian Allah menjabarkan ciri 2nya. Amat mengejutkan bahwa ternyata ciri yg disebut paling awal bukannya orang yg baik atau orang yg sholat atau bersedekah atau berperang atau yg terasa lebih spektakuler dari itu. 

Ciri pertama orang bertakwa yang disebut adalah percaya pada hal gaib. Baru ciri2 yang lain menyusul setelahnya.

Hal gaib meliputi segala yg tidak / belum diketahui, baik berupa zat materi, non materi, hukum, kejadian dan lainnya. Puncak dari hal gaib adalah Allah SWT.

Kembali pada ayat di atas, kita menemui "keanehan" lain. Kitab petunjuk tanpa keraguan itu dimulai dengan الم)) 3 huruf arab yg disepakati mufasir tidak diketahui maknanya.
Hampir seluruh mufasir baik salaf maupun khalaf, terhadap ayat ini mengatakan wallahu a'lam (الله اعلم),  yang artinya tidak sekedar "saya tidak tahu", juga ditambah "kamu tidak tahu, mereka tidak tahu, tetapi Allah maha tahu".

Imam Alqurtubi dalam tafsir ayat tersebut mengutip riwayat dari sayyidina Ali bin Abi Thalib KW dan sahabat Nabi lainnya, mengatakan bahwa ayat itu adalah (سر الله)  sirrullah yang berarti ilmu Allah yang tidak diketahui.


Orang yg bertakwa haruslah percaya pada hal-hal yg ada di luar pengetahuannya. Karena mengabaikan itu sama saja dengan mengabaikan ilmu Allah. 

Orang 2 kafir dan kaum materialis menggantungkan berbagai aspek kehidupan mereka pada pertimbangan ilmu pengetahuan manusia. Namun bagi orang yang beriman, di samping kewajiban belajar dan menyusun rencana untuk kehidupannya, dia haruslah pasrah (taslim) dan ikhlas pada Allah dan keputusanNya. 

Berapa banyak hal yg diketahui manusia dibanding yg tidak diketahui?  Seketika terjawab satu persoalan, maka terhampar di depannya 100 persoalan baru. 

Socrates, seorang filsuf besar pernah berkata kurang lebih : semakin banyak saya tahu, semakin sadar bahwa saya tidak tahu apa2. 
Sampai sekarang seorang dokter tidak benar 2 tahu apa yang menyebabkan sakit seorang pasien sembuh, meskipun ia yg menanganinya. 

Jadi masih layakkah manusia menggantungkan diri pada pengetahuannya yang terbatas?

Demikianlah sikap seorang muslim. Allah SWT memerintahkan manusia untuk tiada henti belajar dan berusaha, bahkan menyusun rencana sebaik-baiknya, dengan sistem serapi-mungkin untuk berbuat baik sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama haruslah dia sadar, bahwa manusia adalah makhluk yang butuh dan bergantung pada Tuhannya, yang maha tak terbatas, yang menguasai pengetahuan dhahir dan bathin.

Siapkah percaya dengan al ghaib? Siapkah menjadi orang yang bertakwa?

Wallahu a'lam.