Kamis, 30 Mei 2013

Hubungan antara Egois, Kedewasaan dan Konflik

Setiap hari kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari terjadi konflik antar manusia, baik dalam lingkup kecil : keluarga, kantor, sekolah, jalan raya hingga lingkup yang lebih besar seperti konflik di pemerintahan dan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kancah internasional. Seringkali konflik bermula dari hal-hal yang kecil dan sepele namun sering juga dapat membesar dalam skala luas dan berbahaya yang menimbulkan banyak korban baik harta maupun jiwa.


PENYEBAB KONFLIK

Berbagai pakar dalam hal ini telah menyampaikan analisa untuk mencari akar permasalahan guna menghindari dan mengatasi hal tersebut. Di antara pakar misalnya, menyebut penyebab konflik adalah perbedaan individu, latar belakang, nilai, persepsi, miskonsepsi dll. Bahkan sebagian terbesar pemikir menyimpulkan bahwa konflik adalah bagian inheren dari sebuah masyarakat, sehingga hanya akan hilang dengan hilangnya masyarakat.

Tanpa bermaksud menyeberangi pendapat-pendapat mereka, kita coba untuk mendalami akar masalah ini dengan memperhatikan fitrah manusia : ego.

Sebagian orang memaknai ego sebagai : ke-aku-an, aku-centris, rasa mengutamakan "aku" dst. Intinya adalah dominasi sifat / rasa atas "aku".

Tidak terlalu jauh dari pemaknaan di atas, kami cenderung berpendapat bahwa ego adalah ke"diri"an yang dimaksud oleh penggunaan kata "nafsun" dalam Alquran.

Perhatikan ayat ini  (Q.S Yusuf 12:53) :


إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ 
...Sesunggunya nafsun itu (selalu) menyuruh (cenderung pada) keburukan....

Hampir selalu kata "nafsun" ini menunjukkan kepada ke"diri"an seseorang. Alquran sering pula menyebut manusia dengan kata ini mengingat ke"diri"an ada di setiap manusia. Ke"diri"an  (ego) inilah yang seharusnya dididik (tarbiyatun nafs) oleh setiap manusia, setiap saat dalam hidupnya, sehingga senantiasa meningkat, yang akan mengantarkan seseorang sampai pada kualitas tertentu dan mewarnai perilaku orang tersebut sehingga disebut memiliki akhlaq yang mulia.

Inilah barangkali yang disebut dalam Alquran (Q.S AlFajr 89:27-30)


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)


27. Hai jiwa (nafsun) yang (mencapai kualitas) muthmainnah.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam (kelompok) hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.


Memperhatikan Pertumbuhan bayi hingga dewasa

Ini adalah cara yang mudah untuk mendalami masalah ini. Dari proses pertumbuhan bayi menjadi dewasa, kita akan lebih mudah menarik benang merah antara ego dan kedewasaan.

Setiap bayi memahami rumus  : tidak nyaman - menangis. Tampaknya seluruh bayi di seluruh dunia telah membuat kesepakatan bahwa  : kapan saja merasa tidak nyaman, maka yang harus dilakukan adalah : menangis.
Apapun kebutuhan dan keinginan mereka yang wujudnya adalah ketidaknyamanan, seperti rasa lapar, haus, gatal, sakit, mengompol dll, maka  mereka menangis. Semakin besar rasa tidak nyaman, maka semakin keras tangisan. Maka setelah itu akan ada "pihak lain di luar sana" yang akan menyelesaikan masalah itu. Mereka memahami ini dengan sederhana, bahwa ada mekanisme di luar sana yang menyelesaikan seluruh kebutuhan dan keinginan itu buat diri mereka. Bagi seorang bayi, seolah-olah dunia dan isinya diciptakan untuk kebutuhan mereka

Seiring berjalannya waktu, Allah SWT menyempurnakan manusia kecil ini dengan memberikan kemampuan secara bertahap. Seluruh kemampuan akan tumbuh dan berkembang sebagai bentuk penyempurnaan atas potensi-potensi tertentu (given / takdir) yang sudah ditanamkan (build in) dalam diri mereka.

Mari perhatikan ayat-ayat ini (Q.S. Al Mursalat 77:20-23)


أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (٢٠)فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (٢١)إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (٢٢)فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (٢٣)

20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina [spermatozoid - ovum]?
21. kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
22. sampai waktu yang ditentukan,
23. lalu Kami tentukan (takdirkan), maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan.


Dengan dewasanya anak, dia mulai bisa mengurusi diri sendiri (mandiri). Seluruh kebutuhan pribadinya mulai dapat dikerjakan sendiri tanpa (semakin sedikit memerlukan) bantuan orang lain. Dia mulai melepaskan diri dari ketergantungan dari pihak lain. Dia mulai mengenal orang lain dan mulai berinteraksi secara sosial walaupun masih sederhana. Egonya mulai terdidik, bahwa dunia ini isinya banyak, tidak hanya diri sendiri. Dia mulai mengerti bahwa setiap orang (dituntut untuk) memiliki kemampuan masing-masing untuk mengurusi diri mereka sendiri sehingga tidak lagi (mengurangi) bergantung pada orang lain.  Proses ini berlangsung pada 7 tahun pertama. 

Pada fase berikutnya, anak mulai mengenal kewajiban dan tanggung jawab. Dia mulai memahami, bahwa hidup tidak hanya memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, namun ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah dan pihak lain di manapun dia berada. Dia mulai memahami bahwa setiap individu (termasuk dirinya) adalah bagian dari masyarakat sosial yang lebih besar. Anak harus mendidik egonya, bahwa setiap kelalaian atas pelaksanaan satu tanggung jawab / kewajiban akan memiliki efek domino kepada pihak lain. Selain itu dia juga belajar mengenal hukuman, baik yang bersifat positif maupun normatif. Proses pembelajaran ego ini berlangsung pada 7 tahun kedua (usia 7-14).

Fase pembelajaran ego terakhir berlangsung pada 7 tahun ketiga (usia 14-21). Anak mulai memasuki  fase kedewasaan, baik fisik, sosial maupun spiritual. Seluruh kemampuan atas potensinya meningkat pesat. Pada saat ini ia (seharusnya) belajar hubungan eksistensi dirinya di banding lingkungan yang lebih besar, Dia belajar mengenal konsep hidup dan tujuan hidup. Bahwa selain memenuhi kewajiban terdapat pula tuntutan fitrah ilahiah : bahwa manusia diciptakan bukan untuk dirinya, namun untuk tujuan yang lebih besar. Dia belajar nilai-nilai agama, moral dan spiritual yang mengajarkan kehudupan yang luhur. Terpupuk keyakinan kuat bahwa hidup itu bukan hidup yang sekarang saja, namun ada kehidupan yang lebih hakiki setelah kematian : kehidupan akhirat.


3 ASPEK AKHLAQ

Setelah melalui ketiga fase tersebut seorang anak (seharusnya) akan menganut kehidupan yang lebih mulia (akhlaqul karimah) yang mencakup 3 aspek akhlaq : akhlaq kepada Tuhan, akhlaq kepada manusia dan akhlaq kepada alam semesta. Ego yang terdidik dengan baik akan tunduk dalam takzim kepada Tuhan : bahwa dirinya amatlah kecil dibanding manusia lain,  dibanding bumi yang besar, dibanding galaksi bimasakti dan dibanding alam semesta. Dibanding alam raya ciptaan Tuhan, dirinya bukan apa-apa. Akhlaq kepada Tuhan mendorongnya untuk patuh tunduk dan hidup selaras dalam perintah dan mahabbah kepada tuhannya.

Akhlaq kepada manusia mendorongnya untuk mengenal manusia. Bahwa Allah menciptakannya bagian dari keluarga besar manusia : Nabi, kedua orang tua, keluarga, kerabat, tetangga dan manusia lain. Hal ini akan mendorongnya untuk mengutamakan kepentingan manusia lain dibanding dirinya. Dia merasakan bahagia ketika dia mampu berbuat untuk orang lain, semakin besar dan semakin besar. 

Demikian pula, kedudukannnya sebagai khalifatullah filardhi mendorongnya untuk selalu jadi terdepan dalam menjaga dan memperbaiki alam semesta. Dari yang kecil dan sepele seperti membuang sampah pada tempatnya, menghindari perusakan lingkungan, bumi dan seluruh unsurnya bahkan hingga mewujudkan program-program yang berupaya pada pelestarian dan memperbaiki alam semesta.

Bukan hanya dia menghindari pemenuhan kebutuhan yang berefek negatif pada 3 aspek akhlaq tersebut, bahkan dia hanya memenuhi sekedar kebutuhannya untuk memaksimalkan pada 3 aspek akhlaq (akhlaqul karimah). Inilah manusia-manusia pilihan yang akan keluar sebagai pemenang kehidupan, manusia-manusia puncak yang mewarisi para nabi, yang akan menjadi kekasih-kekasih tuhan (waliyyun min auliyaillah).

Dari paparan di atas kita bisa mengambil benang merah hubungan antara ego dan kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, (seharusnya) semakin mendewasakan ego (ke-diri-an) pada 3 aspek akhlak yang sebenarnya tak lain merupakan 3 unsur manusia itu sendiri : unsur ruh (ilahiah), unsur nafs (basyariah) dan unsur tanah (badaniah). Manusia yang gagal (atau tidak) mendidik egonya (memperturut hawa nafsu) tidak akan mampu belajar dari kehidupan, seluruh potensinya hanya dipuaskan untuk memenuhi unsur badaniah dan dia niscaya akan menjadi rendah (bahkan lebih rendah dari binatang ternak). Sebaliknya, semakin seseorang mendidik ego, maka akan semakin mencapai hidup yang sempurna, berakhlaqul karimah.

Kembali kepada konflik pada awal pembahasan kita, kita lebih mudah untuk memetakan konflik. Intensitas konflik baik rendah (belum keluar dalam bentuk sikap / ucapan / perbuatan) hingga tinggi (akibat dari  ucapan dan perbuatan dalam skala luas dan menimbulkan korban) (hampir) seluruhnya berasal dari kegagalan atas pendidikan ego. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami perbedaan (nilai / pemikiran / agama dll) orang lain adalah akibat dari tidak sempurnanya pembelajaran ego (tarbiyatun nafs) oleh yang bersangkutan.

Konflik (seharusnya) hanya cenderung terjadi pada fase pertama proses pendidikan ego manusia, di mana pada saat itu kemampuan dari potensi yang dimiliki belumlah tumbuh dengan sempurna. Namun semakin memasuki fase berikutnya, konflik (seharusnya) akan mengecil, seiring tumbuh dan dewasanya ego. Mereka mengerti bahwa potensi yang diberikan Tuhan bukan buat dirinya, tapi dirinya hanya media, untuk menyalurkan rahmat Allah SWT kepada makhluknya yang lain melalui dirinya. Dia mengerti betul bahwa fungsinya tak lebih dari sebuah "keran air".

Ada beberapa sabda Nabi SAW berkenaan dengan hal ini, yang terlihat seolah berbeda, namun hakekatnya sama. Mari kita perhatikan :

1. Sebaik baik kalian adalah yang paling bagus (perlakuannya) terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik (perlakuan) terhadap keluargaku.

2. Sebaik baik kalian adalah orang yang panjang umurnya serta (sekaligus) baik perbuatannya.

3. Sebaik baik  kalian adalah orang yang mempelajari alquran dan mengajarkannya.

4. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (masyarakat yang lebih besar).

Coba kita perhatikan hadits Nabi kita di atas, seluruhnya bicara mengenai orang yang berada dalam "range" terbaik, namun persyaratannya (seolah-olah) berbeda. Namun kembali, dengan jelas kita bisa lihat benang merahnya. Seluruhnya selaras, bahwa eksistensi manusia beserta potensi-potensi yang diberikan (dititipkan) Tuhan bukan buat dirinya sendiri, namun buat orang lain di sekitarnya. Semakin besar cakupan manfaat atas potensi tersebut maka semakin berkualitaslah orang tersebut, dan seterusnya.

Kita bisa tambahkan lagi "maqolah" kita sendiri tanpa berseberangan dengan Sabda Nabi di atas, misalnya :
1. Sebaik-baik kita adalah yang memberikan kesempatan pada orang lain di sekitarnya.
2. Sebaik-baik kita adalah yang bisa mendahulukan kepentingan orang-orang lain di sekitarnya.
3. Sebaik-baik kita adalah yang bisa menahan diri dari berbuat buruk terhadap sekitarnya.
4. Sebaik-baik kita adalah yang bisa memaafkan (kesalahan dan kekhilafan) )orang-orang lain di sekitarnya.
5. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi solusi atas problematika di sekitarnya
6. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi teman yang baik bagi orang banyak.
7. Sebaik-baik kita adalah yang paling besar sedekahnya.
8. Sebaik-baik kita adalah yang paling banyak mensejahterakan orang-orang lain
9. Sebaik-baik kita adalah yang paling berakhlak anak dan keluarganya.
10. Sebaik-baik kita adalah yang paling sedikit kata-kata buruknya.
Dan seterusnya dan seterusnya...

Seandainya seluruh perilaku manusia dapat diberikan nilai kuantitatif (angka-angka tertentu) dan kita membuat garis vertikal, maka orang-orang yang mendidik egonya akan berada dalam range tinggi dengan nilai-nilainya, meninggalkan jauh nilai-nilai kecil (bahkan negatif) di bawahnya. Dengan sendirinya, kita juga lebih mudah memperkirakan di mana yang paling banyak terjadi konflik.

Sekarang, apakah Anda setuju dengan pemikiran bahwa konflik adalah bagian inheren dari masyarakat, dan hanya bisa hilang dengan hilangnya masyarakat?

Semoga tulisan kecil ini memberi manfaat bagi kita untuk introspeksi dan terus mendidik ego menjadi lebih berkualitas.

Pertanyaan kita, seandainya kita turut dihitung, maka kita masuk di mana?

Wallau a'lam.











Jumat, 10 Mei 2013

Usulan untuk presiden RI 2014 terpilih


3 KEBIJAKAN FUNDAMENTAL DAN STRATEGIS BAGI NKRI



Pemilihan presiden tinggal di depan mata. Apakah presiden berikutnya hanya menambah dafttar kepala Negara, namun tidak terlalu banyak membuat perubahan positif bagi bangsa Negara dan rakyat Indonesia? Semua berpulang pada kebijakan yang akan diambil nanti.

Kami mencermati, ada 3 kebijakan fundamental dan strategis yang perlu dilakukan untuk membuat perbaikan besar bagi Negara dan Bangsa ini.

PERTAMA, selamatkan rupiah! 
menyelamatkan rupiah sama dengan menyelamatkan ekonomi rakyat, negara, bangsa dan tanah air sekaligus. Bagaimana caranya?

Standarkan rupiah dengan emas (gunakan kurs tetap-emas). Untuk setiap rupiah yang beredar, negara harus punya stok emas dalam nilai yang sama. Rasanya ini tidak terlalu sulit mengingat bumi kita memiliki cadangan emas yang sangat besar. Pemerintah hanya boleh menambah uang beredar bila ada tambahan stok emas. Dengan demikian pada waktu kapanpun nilai rupiah selalu sama dengan emas. Dengan kata lain, nilai rupiah tidak akan pernah turun.

Apabila pendapatan seseorang pada tahun ini cukup untuk membeli sejumlah barang tertentu, maka pendapatan dengan jumlah yang sama juga cukup untuk membeli barang yang sama 10 bahkan 20 tahun yang akan datang. Demikian pula dengan aset-aset yang ada dalam NKRI, akan memiliki nilai yang sangat stabil dari tahun ke tahun.

Apabila suatu saat harga emas dunia naik, maka nilai rupiah juga akan turut naik (sebenarnya saat itu yang terjadi adalah penurunan rata-rata nilai mata uang dunia, namun rupiah tidak ikut turun). Nilai rupiah dan seluruh asset dalam NKRI akan sangat stabil dibanding mata uang negara-negara lain yang tidak bersandar pada emas.

Dampak lain adalah, di Indonesia tidak ada lagi yang akan membeli emas batangan untuk investasi. Mereka hanya membeli emas untuk perhiasan dan dalam jumlah seperlunya, tidak untuk disimpan dan dijual kembali untuk mendapat selisih harga. Perilaku memborong emas untuk dijual kembali adalah perilaku yang merusak. Seolah-olah saat harga emas naik karena hukum permintaan, mereka mendapat keuntungan selisih harga. Sebenarnya yang terjadi adalah penurunan nilai rupiah. Yang dia peroleh hanya tidak rugi, bukannya untung. Sebaliknya masyarakat sisanya yang tidak turut melakukan pemborongan emas menjadi rugi karena nilai uangnya menurun. Dengan standarisasi rupiah-emas maka perilaku demikian dengan sendirinya tidak akan terjadi lagi.

Mengapa demikian, karena sepanjang tahun nilai uang akan selalu sama dengan nilai emas. Jadi bila mereka membeli emas melebihi kebutuhan, maka mereka rugi sendiri karena adanya biaya jual beli.

KEDUA, memangkas gaji tunai yang diterima oleh semua pejabat negara dan pejabat pemerintahan tanpa kecuali. 

Sebelumnya, ada 2 hal yang perlu diluruskan terlebih dahulu :
a.       Bahwa kemakmuran seseorang tidak ditentukan dari jumlah uang yang diterima atau dikumpulkan, tapi ditentukan dari jumlah yang dibelanjakan. Kualitas konsumsi seseorang menentukan tingkat kemakmuran. Dengan demikian, sebenarnya seseorang lebih perlu memenuhi kebutuhan pada tingkat kualitas tertentu dari pada menerima pendapatan sejumlah tertentu.
b.      Setiap pejabat negara dan pemerintah harus memiliki "kekebalan" (resistensi) dari perilaku buruk (baca : suap) masyarakat. Resistensi tersebut terbentuk minimal dari 2 kondisi :
1.       Semua pejabat harus memiliki tingkat moral tertentu.
2.       Semua pejabat harus terpenuhi kebutuhannya hingga tingkat tertentu.

Tidak setiap orang memiliki tingkat moral yang tinggi. Dibutuhkan standar moral minimum dan pemeliharaan moral yang berkelanjutan untuk memenuhi kriteria ini. Itu sebabnya, tidak semua orang bisa menjadi pejabat negara. Hanya manusia-manusia khusus yang memiliki tekad dan integritas yang tinggi untuk mengabdi pada masyarakat (melayani masyarakat) yang bisa menjadi pejabat negara dan pemerintahan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang khusus. Mereka hidupnya tidak material oriented, namun lebih bersifat social oriented dan spriritual oriented. Mereka lebih gembira dengan bekerja untuk meringankan beban orang lain dan sangat berjiwa sosial.
Dengan demikian kita memerlukan sistem penyaringan yang efektif. Apabila orang yang tepat telah diperoleh, maka yang dilakukan selanjutnya adalah pemeliharaan moral berkelanjutan dan berjenjang yang terpadu. kondisi ini akan mengembalikan fitrah pejabat sebagai pelayan rakyat (civil servant).

Kembali pada langkah kedua di atas, kita memangkas cash income pejabat dan mengganti dengan pemenuhan kebutuhan yang praktis. Setiap pejabat negara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi harus dipenuhi kebutuhannya hingga tingkat yang memadai sesuai dengan level jabatannya. Negara membelikan seluruh kebutuhan mereka, bukannya memberi mereka uang untuk membeli sendiri kebutuhannya. Efek dari kebijakan ini adalah :
1. Lebih efektif. Setiap rupiah yang dikeluarkan negara untuk memenuhi kebutuhan pejabat, tidak untuk belanja lain.
2. Lebih efisien. Negara bisa membeli banyak kebutuhan yang sama sekaligus dalam jumlah besar sehingga pasti lebih efisien.
3. Tidak ada lagi perlombaan ingin kaya dengan menjadi pejabat. Kampanye yang menghambur-hamburkan dana tidak lagi akan terjadi. Politik uang, penyelewengan dana partai politik, politik dagang sapi dan lain 2 dengan sendirinya akan terhenti. Semua pihak akan menyadari bahwa (menjadi) pejabat tidak memiliki banyak uang (bahkan uang tunai mereka lebih sedikit dibanding rata-2 masyarakat).
4. Dengan sendirinya terbentuk sistem saringan seleksi pejabat di mana relatif hanya orang 2 yang memiliki karakter yang sesuai (tekad dan integritas yang tinggi untuk menjadi pelayan masyarakat) saja yang akan mengajukan diri. Orang 2 yang menginginkan kekayaan berlimpah tidak akan punya keinginan jadi pejabat. Para pejabat juga akan lebih sulit melakukan korupsi. Karena uang / rekening tunai amat kecil maka ketika terjadi penambahan jumlah besar akan lebih mudah terlacak.

Apakah langkah ini menjadikan tidak ada seorangpun yang bersedia menjadai pejabat? Pasti tidak demikian. Seperti disebutkan di atas, meski “gaji tunai” mereka sedikit, Negara wajib menjamin seluruh kebutuhan mereka dan keluarganya, dengan menyediakan seluruh fasilitas secara gratis : papan, pangan, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, liburan, dll. Mereka tidak boleh dipusingkan dengan masalah-masalah tersebut. Pejabat tidak boleh pusing anaknya akan sekolah di mana, keluarganya yang sakit berobat di mana, dan seterusnya. Negara berterima kasih kepada mereka dengan memenuhi kebutuhan dan kemakmuran (tentunya secara berjenjang).

Pendek kata, langkah kedua ini dengan sangat efektif akan menciptakan pemerintahan yang bersih sekaligus efisien.

KETIGA, yang perlu dikerjakan adalah menerapkan sistem zakat dalam pajak. 
Sebelumnya, mari kita sedikit telaah urgensi zakat bagi sosial ekonomi, mikro dan makro.

Pada prinsipnya, kemakmuran ekonomi dalam satu wilayah tertentu berbanding jumlah penduduk dalam wilayah yang sama bernilai 100%. Dengan demikian apabila ada sedikit orang yang mengambil / menikmati kemakmuran dalam jumlah yang amat besar, maka akan mengakibatkan sejumlah besar sisanya harus cukup berbagi sisa kemakmuran dlm jumlah yang amat kecil.

Mari kita sederhanakan persoalan ini dengan contoh yang mudah. Contoh, sebuah rumah dihuni oleh 7 anggota keluarga: ayah, ibu, kakek, nenek, seorang anak yang sudah dewasa, seorang anak remaja dan seorang bayi. Dalam rumah tersebut terdapat satu galon air. Masing-masing mereka memiliki kebutuhan yang berbeda. Tentunya anak yang dewasa memerlukan air lebih banyak daripada adiknya yang masih bayi. Demikian pula seorang nenek memerlukan air minum tidak sama dengan ayah yang bekerja. Selain memiliki kebutuhan, masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda untuk mendapatkan air minum.

Diasumsikan bahwa satu galon air cukup untuk kebutuhan minum seluruh anggota keluarga dalam 1 hari. Namun, jika di antara anggota keluarga yang lebih kuat menggunakan kekuasaannya untuk mengambil air sangat banyak, maka satu galon tidak lagi cukup untuk memenuhi keluarga pada hari itu. Lebih parah lagi jika terdapat anggota keluarga yang membuang-buang air minum dengan percuma, atau membuat simpanan air sendiri, maka akan ada anggota keluarga yang kehausan karena tidak mendapat bagian yang cukup.

Hal yang sama terjadi dalam sebuah Negara. Dengan asumsi tidak ada pertumbuhan ekonomi, maka seluruh penduduk harus berbagi atas jumlah kemakmuran tertentu. Dalam kajian ekonomi kita dihadapkan dengan masalah pemerataan ekonomi dan kesenjangan ekonomi.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyerap / mengambil / mendapatkan penghasilan. Sehingga untuk menjamin kalangan yang lemah supaya dapat hidup pada tingkat kesejahteraan tertentu, dibutuhkan peran pemerintah. Namun, adalah kurang tepat apabila pemerintah membatasi kemampuan income orang kaya. Harus ada mekanisme untuk "mengambil kembali" sebagian dari kelebihan (wealthy excess) dari orang kaya yang nantinya dipergunakan pemerintah untuk membantu kalangan miskin untuk hidup pada level yang layak.

Sebagaimana prinsip zakat, maka pajak dikenakan kepada :
1.      Orang yang memiliki kekayaan di atas jumlah tertentu.
2.     Tarifnya dikenakan pada seluruh excess kekayaan (bukan pendapatan). Di dalamnya meliputi uang tunai, rekening, termasuk rumah (di luar rumah utama yang titempati), tanah, mobil ke-2 dst, dsb.
Dengan demikian meskipun Negara tidak membatasi penerimaan warga Negara, namun kekayaan  yang dimiliki setiap waraga negara dengan sendirinya akan terbatas. Semakin besar kekayaan yang dimiliki, maka jumlah pajak akan semakin besar, sehingga akan ada titik equilibrium, di mana penambahan income akan sama atau lebih kecil dari jumlah pajak. Orang yang kaya akan berhati-hati membeli emas, tanah, rumah, mobil dll di luar kebutuhan, karena akan dikenai pajak setiap tahunnya, sehingga mereka mengerti bahwa itu bukan investasi, tapi justru akan mengurangi kekayaan mereka (investasi negatif).

Efek kebijakan ini adalah :
1.       Pemerataan ekonomi. Tidak terjadi lagi sekelompok kecil orang menguasai asset dalam jumlah yang sangat banyak / besar (termasuk tanah dan asset vital lainnya), sehingga harga menjadi sangat tinggi tak terjangkau oleh kalangan menengah-bawah. Dengan berkurangnya (secara drastis) pengumpul harta dari mekanisme suply-demmand, maka mekanisme pasar akan lebih sehat, dan harga akan turun di level yang realistis.
2.       Memangkas kesenjangan. Sebagian dari pajak yang diambil pemerintah dikembaikan kepada rakyat yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, kelompok ini akan terangkat hingga berada pada standar kemakmuran yang lebih ideal, sehingga gap antara kelompok miskin - kaya menjadi kecil.

Demikian 3 langkah fundamental strategis yang menurut hemat kami akan berpotensi membuat perubahan yang amat besar untuk memperbaiki aspek ekonomi dan pemerintahan yang pada gilirannya akan menyentuh seluruh aspek dalam NKRI.

Semoga bermanfaat.

Wallahu muaffiq ila aqwamit thoriiq.

Jumat, 03 Mei 2013

Pentingnya kaderisasi imam masjid

KADERISASI IMAM MASJID



Cukup sering kita mendengar keluhan mengenai penanganan dan manajemen masjid di Indonesia, terutama di kota-kota besar di Jakarta di mana dana yang dikelola biasanya cukup besar. Di antara obyek-obyek yang dikeluhkan tersebut adalah mengenai imam dan khutbah jumat.

Sangat sering didapati imam bacaannya kurang baik (bahkan kadang keliru), juga materi khutbah yang (mohon maaf) kadang menjemukan, tidak aktual, kurang menyentuh perikehidupan umat, sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap umat selepas melaksanakan ibadah jumat.

Dua minggu lalu, di sebuah masjid di Jakarta, seorang khatib menyinggung hal ini. Kebetulan ybs adalah pengelola pesantren di pinggiran kota Jakarta (di daerah Bogor). Beliau menyatakan bahwa masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya sebagian besar memiliki dana yang cukup besar, namun hampir tidak ada yang manfaatnya berdaya jangkau panjang. Sebagian terbesar dipakai untuk operasional, pengembangan masjid, acara rutin dan infak.

Mengenai kaderisasi dan pendidikan khatib jarang mendapat perhatian yang cukup, sehingga sedikit sekali masjid yang memiliki imam yang qualified, boro-boro menjadi rujukan umat.sekitarnya. Yang terjadi adalah setiap masjid berburu imam dari luar. Sehingga sering terjadi imam masjid bukan orang lokal, bahkan sering juga pada akhirnya masjid "diwarnai" oleh pemahaman baru aliran-aliran lain yang kurang sesuai. Pada gilirannya hal ini menyebabkan masjid menjadi tempat eksklusif dan dijauhi warganya yang asli.

Beliau menyampaikan bahwa, padahal saat ini banyak sekali pesantren yang berkualitas di sekitar Jakarta dan tidak mahal. Termasuk pesantren yang beliau kelola, di mana biaya pendidikan tiap bulan hanya sebesar Rp. 500.000,-. Beliau menganjurkan supaya setiap masjid di Jakarta mengirimkan 2 orang wakilnya (warga setempat) untuk belajar, sehingga kaderisasi Imam dan pengurus masjid bisa berjalan dengan baik. Tidak hanya di pesantren, bahkan masjid-masjid dapat mensponsori pendidikan kader ke tingkat yang lebih tinggi, seperti Al Azhar atau Al Ahqaf. Apabila program ini didukung dan berjalan dengan baik, insya Allah masjid-masjid kita akan menjadi pusat-pusat islam, pusat ilmu dan menjadi tempat rujukan bagi umat.

Saya rasa ide tersebut sangat mencerahkan. Semoga setiap orang dapat menyampaikannya kepada para pengurus masjid di sekitarnya, sehingga program ini berjalan dengan baik. Kita bisa berharap, 10 tahun ke depan Jakarta yang memiliki banyak masjid akan menjadi berkah dengan masjidnya yang menjadi pusat akhlak dan pusat perbaikan masyarakat, amin. Anda siap?

Wa billahi taufiq...



Rabu, 01 Mei 2013

Belajar agama dari Internet, dengan mengenal standar umum / sifat Agama Islam

Belajar Agama dari Internet

Oleh : Almar Yahya


Saat ini dunia maya sudah sangat luar biasa dalam menyediakan berbagai macam informasi, termasuk informasi terkait agama. Sehingga banyak sekali orang memanfaatkan internet untuk belajar agama. Hal ini tentu positif, namun belajar dari internet perlu kehati-hatian ekstra. Internet seperti gudang data, tapi tidak bisa  melakukan pilah-pilih. Pilah - pilih adalah wilayah pencari data. Sehingga pengetahuan dasar yang dimiliki pencari amat menentukan informasi apa yang bakal diterima, dipelajari dan ditelan.

Biasanya pencari data memanfaatkan search engine. Celakanya, apabila search engine yang dipakai berasal dari wibe site tertentu yang sudah memiliki muatan tertentu. Akibatnya informasi yang didapat seluruhnya homogen.

Ini seperti orang yang merasakan titik-titik air di laut. Maka di manapun dia mencicipi, seluruhnya asin. Akan sulit sekali mendapatkan air yang tawar di laut, kecuali beberapa titik saja karena sebab tertentu. Misalnya, air laut di pantai yang dekat dengan gunung yang mengaliri air segar dari gunung. Atau di tengah laut, ketika bersentuhan dengan jenis aliran yang berbeda. Tapi selebihnya sama : asin. Maka, bila seseorang ingin mengetahui tentang air dan ia hanya mengambil dari sampel : laut, maka dia akan keliru memahami air = asin.


Belajar agama tidak bisa asal pungut tanpa tahu sumber dan "telaah" nya. Kembali lagi, ybs harus telah memiliki dasar yang memadai sehingga bisa mengenali "jenis-jenisnya". Tanpa dasar yang memadai, seseorang akan mudah sekali "tertipu", menelan yang tidak seharusnya ditelan, bahkan dikuatirkan yang ditelan adalah hal yang berbahaya / berracun. Itu sebabnya, sangat dianjurkan (bahkan seharusnya) belajar dari Guru / almamater yang "qualified".


Standar umum mengenal Agama Islam

Setidak-tidaknya ada beberapa standar umum dan mendasar untuk mengenali Islam agama yang benar :

1. Sudah tentu harus berasal dari Allah SWT (Alquran) dan dari Nabi SAW (Hadits).

Sebagaimana sabda Nabi SAW : "ballighuu anni walau aayah" (sampaikan dariku walaupun satu ayat). Pengertiannya adalah terkait (tidak dapat dipisah) :

a. Sampaikan ayat-ayat Allah SWT.
b. Berasal dari (sesuai pemahaman) Nabi SAW.

2. Islam adalah agama fitrah, untuk seluruh manusia, maka pasti memiliki 2 sifat : Universal (sesuai untuk seluruh waktu, seluruh tempat dan seluruh makhluk) Tidak ekstrim (takarannya tidak kurang dan tidak berlebihan).


Misalnya dalam aplikasi, Negara India memiliki kebiasaan kain sari dengan baju terbuka, maka nilai islam tidak harus memerintah untuk mengganti kain sari dengan pakaian orang arab, seperti burqah dan gamis. Kain sari tetap bisa dipakai, hanya saja harus menutupi aurat sehingga dengan menjadi seorang muslim, orang tsb menempati tata susila dan kesopanan yang tinggi.Jadi ber-islam tidak berarti mengubah adat / kebudayaan dan nuansa lokal menjadi adat / kebudayaan dan nuansa arab. Lokal tetap lokal, islam tidak sama dengan arab. Islam hanya mengubah nilai, yang tidak (atau kurang) berakhlak menjadi berakhlak.


3. Seluruh nilai yang disampaikan oleh islam tidak mungkin bertentangan / kontradiktif satu sama lain. Bahkan tidak mungkin antara madzhab satu dengan lainnya bertentangan. Mungkin secara lahiriah terlihat bertentangan, tapi secara prinsip tidak. Kecuali : Pemahaman si pembaca keliru. Bisa jadi memang ada suatu pandangan dalam madzhab menyimpang dari Allah SWT dan Rasulnya SAW, tapi hal ini di luar pembahasan, karena berarti tidak termasuk agama Islam, seperti Ahmadiah (Menetapkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW), Ghulat (mempertuhankan Sayyidina Ali RA) dll.


Jadi apa yang mungkin berbeda dalam aneka madzhab : hal-hal kecil, aplikatif (bukan prinsip), karena diputuskan oleh prinsip agama (yang sama) dengan mengakomodasi kondisi / situasi lokal dan masa tertentu. Sehingga, bahkan dalam 1 madzhab saja bisa beragam dan berbeda keputusannya apabila berbeda masa dan berbeda kondisi.


4. Ini adalah agama rahmat. Seluruh sisi dari agama ini memberikan nuansa rahmat, baik perintahnya, larangannya, anjurannya dan seluruh sisi-sisinya. Maka akan terrasa sekali adanya penghormatan, kemuliaan, kesejukan, ketentraman, keindahan, keselarasan, kedamaian dst.


Maka dari itu, sebaliknya :
1. Apabila bukan dari Allah SWT dan rasulnya SAW, atau bertentangan maka berhati-hatilah, (jangan-jangan itu bukan islam).
2. Apabila yang disampaikan hanya mengacu pada "masa tertentu" dan / atau bersifat / bersikap / berlaku ekstrim, maka berhati-hatilah.
3. Apabila yang disampaikan ada yang bertentangan (antara ayat satu dengan ayat lain, bahkan ayat itu ada ayat qouliyah (alquran) dan ayat kauniyah (alam semesta), atau antara haditst dengan ayat, atau hadits dengan hadits, maka berhati-hatilah.
4. Rasakan dengan hati nurani dan kejelian fikiran apabila apa yang Anda rasakan tidak memberi nuansa rahmat (baik perintah, larangan, anjuran dll), maka berhati-hatilah.

Oleh karena itu Allah SWT berpesan dalam Alquran, surat Annahl ayat 43 :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui".


Wallahu a'lam.