Rabu, 28 Agustus 2013

JIHAD, TAKUT DAN EKSTREMISME

JIHAD, TAKUT DAN EKSTREMISME





PENDAHULUAN

Tanyakan pada kawan Anda, apa gambaran jihad? apakah perang, kematian, darah?

Secara bahasa jihad berasal dari kata جهد yang berarti bersungguh-sungguh. Kata bendanya adalah الجَهْد, berarti kelelahan atau الجُهْدُ, berarti kemampuan. Lawan kata (antonim) dari kata ini adalah malas / bermalas-malasan / santai.

Sebagian orang memaknai jihad adalah upaya untuk mencapai mati syahid dengan berperang. Ini adalah penyempitan makna dan kekeliruan yang bahkan bisa membelokkan sejatinya jihad.


AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama fitrah. Fitrah untuk manusia, fitrah untuk alam semesta dan isinya. Pelajarilah Alquran dan sosok Nabi Muhammad SAW dengan mendalam dan komprehensif, niscaya Anda akan mendapati fitrah. Lakukan secara terbalik: Pelajari manusia, hewan, tumbuhan, alam semesta serta hubungan rumit antar mereka. Niscaya Anda akan menemukan nilai-nilai umum : fitrah. 

Jadi dari manapun Anda mempelajari dan meneliti, akan bertemu dengan nilai yang sama : fitrah. Itulah agama. Sehingga bila disimpulkan, Agama Islam adalah agama yang menjaga akhlak dan adab kepada 3 hal : Tuhan, manusia dan alam semesta. Tidak berakhlak seseorang apabila ia tidak beraklaq kepada 3 hal tersebut sekaligus. Dengan kata lain, seorang muslim harus menjaga akhlaq dan adab sekaligus kepada Tuhan, manusia dan alam semesta.

Itu sebabnya dalam Islam terdapat kaidah penjagaan / penegakan hal-hal pokok :
1. hifdzud-din (menjaga agama)
2. hifdzul-hayat (menjaga hidup)
3. hIfdzul-Aql (menjaga akal)
4. hifdzun-nasab (menjaga nasab)
5. hifdzul-mal (menjaga harta)

Islam meWAJIBkan penjagaan kelima hal pokok tersebut, sehingga apa saja yang bisa MERUSAK hal-hal tersebut pasti HUKUMNYA HARAM.

Perlu digarisbawahi, bahwa kelima hal pokok tersebut bukan batasan (bukan hanya 5 hal saja yang dijaga islam), namun 5 hal tersebut pokok, sehingga yang lain-2 merupakan turunan dari 5 tersebut, juga wajib dijaga.


MAKNA JIHAD

Agama memerintahkan penjagaan pada seluruh fitrah kehidupan, dengan maksimal dan sungguh-sungguh, menggunakan seluruh upaya yang dimiliki, termasuk waktu, kemampuan, harta,  bahkan termasuk jiwanya. Upaya sungguh sungguh itulah yang dinamai JIHAD. 
Adapun teknik / cara / pelaksanaanya dilakukan dengan cara yang paling sesuai. Dalam hal ini agama memerintahkan untuk mendahulukan cara-2 yang paling baik (ihsan dan ma'ruf). Perang hanyalah salah satu di antara opsi, di samping merupakan pilihan terakhir dalam upaya penjagaan / tegaknya fitrah tersebut.

Itu sebabnya perintah perang dalam Al Qur'an menggunakan kata "udzina lakum" (telah diijikan bagi kalian). Maksudnya, sebelum seluruh syarat / kondisi yang mewajibkan perang itu terpenuhi, maka Allah tidak mengijinkan (hukumnya haram). Karena dalam perang sulit menghindari terjadinya pengrusakan hal-hal pokok (fitrah) yang seharusnya dijaga. Bahkan agama islam juga menetapkan hal-hal pokok dalam perang, di antaranya : tidak boleh menyakiti (apalagi membunuh) anak-anak, wajib menjaga kehormatan wanita, tidak boleh merusak dan menebang pohon dan tanaman dll.

Jadi hakikat jihad sebenarnya adalah HIDUP. Jihad itu upaya untuk menegakkan kehidupan, bukan untuk mati.


(MATI) SYAHID

Syahid atau syahadah (orangnya disebut syahid, jamaknya syuhada) adalah hadiah yang diberikan oleh Allah SWT bagi seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah. Demikian agung hadiah ini, sehingga pelakunya disebut sebagai orang yang menerima nikmat yang besar dari Allah SWT. Firman Allah dalam Q.S. Annisa 69 :


وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)
69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang (mati) syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Bahkan beberapa ayat dan riwayat menerangkan bahwa para syuhada dibebaskan oleh Allah SWT dari hisab di hari akhirat, langsung masuk ke dalam syurga.

Ini adalah hadiah yang luar biasa, sehingga seyogyanya menjadi cita-cita setiap mukmin. Amat rugi seseorang yang tidak mengharapkan hadiah ini.


3 KELOMPOK MANUSIA TERHADAP JIHAD




Apabila kita membuat garis dan kelompok terhadap jihad, terdapat 3 kelompok :
1. Orang yang berjihad di jalan Allah dan berani mengorbankan segala yang dimiliki termasuk harta dan jiwanya. Dibutuhkan keberanian dan keihlasan untuk bersedia mengorbankan apapun yang dimiliki, baik waktu, kemampuan, harta bahkan nyawa sekalipun. Merekalah kelompok orang yang insya Allah mendapatkan syahadah yang mulia.
2. Orang yang takut. Mereka orang yang tidak akan pernah mendapatkan syahadah lantaran tidak berani mengorbankan apa yang dimiliki, atau lebih mencintai itu semua dibanding berjihad di jalan Allah.
Firman Allah dalam Q.S. Attaubah 24 :


قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤)

24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

3. Kelompok ekstrim. Mereka memiliki pandangan keliru mengenai jihad, menganggap bahwa perang adalah satu-satunya opsi dalam jihad. Tanpa mendahulukan opsi lain yang jauh lebih baik, mereka lompat menuju perang, dengan tidak memperhatikan syarat-syaratnya. Bahkan mereka tidak memperhatikan kewajiban menjaga pokok-pokok agama (fitrah). Menganggap ringan pengrusakan dan penghilangan jiwa dan harta manusia dan alam semesta. Kelompok ini dikuatirkan hanya mati sia-sia, bahkan bisa jadi termasuk orang-orang mufsid (perusak) yang dikecam oleh Allah SWT dan rasulnya SAW.


TUDUHAN KEJI ORIENTALIS


Terdapat pula tuduhan dari kelompok di luar Islam yang menyudutkan dan membuat tuduhan keji, bahwa muslimin itu ketika lemah ia berlaku lembut, namun mereka menunggu menjadi kuat. Setelah kuat mereka akan berperang menghancurkan selainnya.

Ini tuduhan yang keji dan tidak berdasar. Kami cukup berikan 2 argumen.
1. Perang pertama dalam Islam, tidak dilakukan menunggu kuat. Perang badar tejadi ketika muslimin masih lemah dan jumlahnya sangat sedikit. Dalam perang itu jumlah muslimin 300-an orang melawan lebih dari 1.000 orang. Jumlah muslimin kala itu adalah "all out" seluruh kekuatan tanpa sisa. Melawan lebih dari 3 x lipat. Peralatan perang jauh dari memadai dibanding musuhnya dalam perang. 

2. Nabi SAW mengadakan perjanjian-perjanjian damai dengan kelompok non muslim, dengan memperlakukan mereka sama adil dengan muslim. Seluruh tindakan baik perang / pengusiran hanya tejadi setelah terjadinya penghianatan dan pemutusan perjanjian tersebut. Dengan kata lain terjadi dalam kondisi perang. Bahkan terbukti dalam sejarah Islam, tindakan tersebut (memerangi dan pengusiran) juga diperlakukan terhadap muslim, bila mereka terbukti melakukan kesalahan yang serupa.

Dalam Islam tidak ada pemaksaan masuk agama. Islam menghilangkan penghalang (barrier) yang ada dalam masyarakat untuk memilih. Biasanya penghalang ini disebabkan oleh penguasa otoriter. Penghalang ini yang dihancurkan oleh Islam untuk menegakkan fitrah agama. Untuk menciptakan kondisi kebebasan memilih agama.

Firman Allah SWT Q.S Al Baqarah 256 :


لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)

256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.


JIHAD ADALAH MENJAGA KEHIDUPAN





Allah berfirman Q.S Al Imran 102
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Kata "jangan kamu mati kecuali..." tentu sangat berbeda makna dengan "..jangan kamu hidup kecuali.." Di sini yang ditekankan adalah hidup (jangan mati).

Firman Allah yang lain Q.S. Al Baqarah 179 :
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٧٩)

179. dan di dalam (pelaksanaan) qishaash itu terdapat (penjagaan) kehidupan bagi kalian, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

Ketahuilah, bahwa inti jihad adalah menjaga dan menegakkan kehidupan. Jihad untuk hidup, bukan untuk mati. Sehingga orang yang berjihad di jalan Allah, kemudian mati (dengan cara apapun), maka mereka itu adalah para syuhada yang terhormat dan mulia. Esensi syahid bukan mati atau cara matinya, namun perjuangan hidupnya, jihadnya.

Al Imam sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, sebagai contoh. Beliau gugur tidak dalam keadaan berperang. 3 hari setelah upaya pembunuhan, beliau diobati dan kemudian baru meninggal dunia. Seluruh ulama sepakat bahwa beliau adalah shahid yang mulia. Khalifah Umar bin Khatab RA juga demikian. Contoh lebih gamblang adalah Rasulullah SAW. Beliau meninggal di rumahnya, tidak di medan perang. Namun seluruh hidupnya tanpa sisa adalah jihad yang tertinggi. Siapa berani mengatakan bahwa beliau bukan syahid?

Para ulama yang menyebarkan agama di Nusantara, mereka meninggalkan sanak keluarga dan hartanya. Apakah mereka bertempur di tanah nusantara dan mati dalam pertempuran? Bisa jadi ada juga pertempuran dan gugur. Namun mereka semua berdakwah dengan santun. Mendirikan masjid dan sekolah, berbaur dengan masyarakat, menghidupkan ekonomi, mengajar agama dan memberi contoh. Sebagian terbesar justru gugur dalam perjalanan, di rumah, di masjid, di sawah, di sekolah dsb. Mereka berjuang di jalan Allah, mereka berjihad dan mereka adalah syuhada. Jasa mereka : 90 % rakyat Indonesia sekarang adalah muslim. Kita yang tidak / kurang melanjutkan perjuangan mereka, sehingga kualitas rata-rata dari yang 90 % tersebut masih rendah.

Bahkan para ulama juga memaknai syahid bagi orang-orang berikut :
1. Seorang ibu yang gugur ketika melahirkan anaknya.
2. Seorang yang meninggal karena kecelakaan ketika sedang belajar, atau di perjalanan menuju / kembali dari belajar.
3. Seorang ayah yang meninggal ketika sedang bekerja mencari rezeki yang halal untuk keluarganya.
4. Seorang guru yang meninggal saat mengajar.
5. Seseorang yang meninggal dalam ibadah.
Dan seterusnya. Mengapan demikian? karena dalam Islam seluruh aspek kehidupan dan seluruh aktivitas adalah ibadah kepada Allah, apabila dilakukan dengan niat yang benar, tujuan yang benar dan cara-cara yang benar.

Allah berfirman dalan Q.S Al Ankabut 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)

69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.



Terakhir, kami ingin mengutip ucapan Hb. Ali Aljufri yang sejalan dengan tulisan kami, sbb :  

"kita sering mendengar kalimat "mati di jalan Allah" tetapi ada apa dengan "hidup di jalan Allah"? 
Hidup di jalan Allah lebih sulit jihadnya, lebih berat cobaannya dan lebih panjang kesulitannya, apalagi di jaman fitnah.

Barang siapa yang hidup di jalan Allah, maka dia akan mati di jalan Allah"

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.



Kamis, 04 Juli 2013

TUKANG BERSIH - BERSIH



Apa yang tergambar di kepala kita saat membaca judul di atas?
Apakah orang yang sedang mengepel lantai, menyapu halaman, mengelap perabot dari debu, menyikat kamar mandi, mengangkut sampah, menyapu jalanan?
Petugas wc umumkah? Pembantu rumah tangga? Office boy? petugas kebersihan? Orang rendahan? Pekerja yang berada dalam tugas yang kurang penting? Bahkan sangat tidak penting?

Apabila kita cermati, ternyata, orang-orang besar di dunia ini adalah tukang bersih-bersih. Proklamator kita Bung Hatta adalah tukang bersih-bersih sejak muda hingga meninggalnya. Pahlawan nasional Kyai besar Hasyim Asyari menghabiskan seluruh hidupnya jadi tukang bersih-bersih. Para khalifah rasyidah adalah tukang bersih-bersih sejati. Hingga Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang seluruh kehidupannya total untuk bersih-bersih. Manusia-manusia besar tersebut mengabdikan hidupnya untuk membersihkan kotoran dan noda yang terdapat pada jiwa individu, masyarakat, bangsa, negara dan seluruh umat manusia. Mereka petugas kemanusiaan, pencetak sejarah dan kekasih-kekasih Tuhan sepanjang masa.


Jangan remehkan tukang bersih-bersih! Mereka bekerja bukan buat diri sendiri, tapi buat orang lain. Terlebih lagi bila mereka ikhlas mengerjakannya.

Sewaktu kita ke toilet umum di pasar / mall misalnya. Bila kita dapati toilet yang bersih, maka kita nyaman dan memuji pasar / mall tersebut. Sebetulnya pujian dan doa tersebut bukan untuk pengusaha / pemilik tempat, namun akan sampai kepada orang-orang khusus : "Tukang bersih-bersih".

Walaupun tidak banyak, ada juga pembantu rumah tangga yang ikhlas dan mereka bekerja hingga usia tua. Barangkali sangat mungkin bila amal tuannya ditimbang, tidak seberat amal pembantunya. Karena sang tuan bekerja untuk diri sendiri (dan keluarganya) sedang pembantu rumah tangga yang ikhlas bekerja untuk orang lain, di samping untuk diri sendiri dan keluarganya.


Ada seorang mubaligh yang bercerita, sewaktu beliau menjadi santri di pesantren terkemuka di Timur Tengah, beliau malah ditugaskan jadi tukang bersih-bersih di dapur, sementara teman-temannya yang lain bisa belajar, berdiskusi, menyusun risalah dsb. Ternyata, baru di sadari, pekerjaannya bersih-bersih di dapur dan kamar mandi justru membuat beliau bisa bertemu dengan guru mulianya lebih banyak daripada seluruh teman-teman yang lain. Guru mulianya sering meninjau langsung dan menyapa tukang bersih-bersih di dapur, kamar mandi dan kebun, sehingga muwajjahah dengan gurunya terasa lebih dekat, seperti anak dan ayah sendiri. Lebih luar biasa lagi, ketika beliau (tukang bersih-bersih) mampu menyelesaikan pendidikan jauh lebih cepat dibanding teman-teman yang intens dengan belajar. Sebuah kitab yang rumit bagi temannya yang lain terasa amat mudah dan ringan baginya.

Rupanya dengan menjadi tukang bersih-bersih justru menjadi "berkah" yang amat besar, ketika dikerjakan dengan ikhlas. Tanpa bisa dijelaskan, jadi tukang bersih-bersih menajamkan intuisi, akal dan jiwanya, sehingga memudahkan baginya ilmu dan hikmah.

Orang yang bekerja untuk orang lain dengan ikhlas (lebih-lebih bekerja memperbaiki dan membersihkan kerusakan / kotoran yang dibuat oleh orang banyak) sesunggunya sedang mengerjakan dan berbuat banyak hal :

1. Bekerja.
2. Menerima dan memaafkan kesalahan orang lain.
3. Membantu orang lain.
4. Menyambung tali silaturrahim.
5. Menteladani sifat-sifat Tuhan.
6. Pada saat yang sama, dia sedang membersihkan, membangun dan melatih jiwanya sehingga kualitas jiwanya meningkat dan terus meningkat.

Subhanallah...


Kira-kira menjadi apa orang yang setiap saat bekerja untuk orang lain? orang banyak? Saya kira menjadi waliyullah... Bahkan sangat banyak dijumpai, orang yang dimuliakan Allah SWT hingga kuburnya, jasadnya terjaga tidak rusak, meskipun bertahun-tahun dipeluk tanah. Sepertinya mereka orang-orang biasa. Tetapi tidak! Mereka orang yang luar biasa : orang yang bekerja untuk orang lain, untuk orang banyak. Sepele kata orang, bernilai besar di sisi Tuhan. Remeh kata manusia, amat mulia dicatat Tuhan, asalkan dikerjakan dengan ikhlas, lillahi ta'ala.




Sejalan dengan pesan Nabi SAW :

خير الناس أنفعهم للناس

...sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainnya (masyarakat). 
Meskipun aneh dan nyeleneh, boleh juga diusulkan kepada pemerintah, bahwa ujian untuk para pejabat, selain fit and proper test untuk menguji skill, kemampuan dan keahlian, ujilah terlebih dahulu jiwa calon pejabat. Caranya? jadi tukang bersih-bersih selama 1 tahun. Apabila terlatih dan teruji, mereka akan menjadi pejabat-pejabat berkualitas, pejabat yang ikhlas. Dan, apabila mereka tetap menjadi tukang bersih-bersih seumur hidupnya, mereka akan menjadi : Para waliyullah yang menjadi pejabat pemerintah.
Apabila yang menjadi pejabat negeri ini adalah para waliyullah, bayangkan, akan menjadi seperti apa negeri ini???

Wa ilallahi turja'ul umur...



Sumber gambar : 1CAK.COM

Kamis, 30 Mei 2013

Hubungan antara Egois, Kedewasaan dan Konflik

Setiap hari kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari terjadi konflik antar manusia, baik dalam lingkup kecil : keluarga, kantor, sekolah, jalan raya hingga lingkup yang lebih besar seperti konflik di pemerintahan dan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kancah internasional. Seringkali konflik bermula dari hal-hal yang kecil dan sepele namun sering juga dapat membesar dalam skala luas dan berbahaya yang menimbulkan banyak korban baik harta maupun jiwa.


PENYEBAB KONFLIK

Berbagai pakar dalam hal ini telah menyampaikan analisa untuk mencari akar permasalahan guna menghindari dan mengatasi hal tersebut. Di antara pakar misalnya, menyebut penyebab konflik adalah perbedaan individu, latar belakang, nilai, persepsi, miskonsepsi dll. Bahkan sebagian terbesar pemikir menyimpulkan bahwa konflik adalah bagian inheren dari sebuah masyarakat, sehingga hanya akan hilang dengan hilangnya masyarakat.

Tanpa bermaksud menyeberangi pendapat-pendapat mereka, kita coba untuk mendalami akar masalah ini dengan memperhatikan fitrah manusia : ego.

Sebagian orang memaknai ego sebagai : ke-aku-an, aku-centris, rasa mengutamakan "aku" dst. Intinya adalah dominasi sifat / rasa atas "aku".

Tidak terlalu jauh dari pemaknaan di atas, kami cenderung berpendapat bahwa ego adalah ke"diri"an yang dimaksud oleh penggunaan kata "nafsun" dalam Alquran.

Perhatikan ayat ini  (Q.S Yusuf 12:53) :


إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ 
...Sesunggunya nafsun itu (selalu) menyuruh (cenderung pada) keburukan....

Hampir selalu kata "nafsun" ini menunjukkan kepada ke"diri"an seseorang. Alquran sering pula menyebut manusia dengan kata ini mengingat ke"diri"an ada di setiap manusia. Ke"diri"an  (ego) inilah yang seharusnya dididik (tarbiyatun nafs) oleh setiap manusia, setiap saat dalam hidupnya, sehingga senantiasa meningkat, yang akan mengantarkan seseorang sampai pada kualitas tertentu dan mewarnai perilaku orang tersebut sehingga disebut memiliki akhlaq yang mulia.

Inilah barangkali yang disebut dalam Alquran (Q.S AlFajr 89:27-30)


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)


27. Hai jiwa (nafsun) yang (mencapai kualitas) muthmainnah.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam (kelompok) hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.


Memperhatikan Pertumbuhan bayi hingga dewasa

Ini adalah cara yang mudah untuk mendalami masalah ini. Dari proses pertumbuhan bayi menjadi dewasa, kita akan lebih mudah menarik benang merah antara ego dan kedewasaan.

Setiap bayi memahami rumus  : tidak nyaman - menangis. Tampaknya seluruh bayi di seluruh dunia telah membuat kesepakatan bahwa  : kapan saja merasa tidak nyaman, maka yang harus dilakukan adalah : menangis.
Apapun kebutuhan dan keinginan mereka yang wujudnya adalah ketidaknyamanan, seperti rasa lapar, haus, gatal, sakit, mengompol dll, maka  mereka menangis. Semakin besar rasa tidak nyaman, maka semakin keras tangisan. Maka setelah itu akan ada "pihak lain di luar sana" yang akan menyelesaikan masalah itu. Mereka memahami ini dengan sederhana, bahwa ada mekanisme di luar sana yang menyelesaikan seluruh kebutuhan dan keinginan itu buat diri mereka. Bagi seorang bayi, seolah-olah dunia dan isinya diciptakan untuk kebutuhan mereka

Seiring berjalannya waktu, Allah SWT menyempurnakan manusia kecil ini dengan memberikan kemampuan secara bertahap. Seluruh kemampuan akan tumbuh dan berkembang sebagai bentuk penyempurnaan atas potensi-potensi tertentu (given / takdir) yang sudah ditanamkan (build in) dalam diri mereka.

Mari perhatikan ayat-ayat ini (Q.S. Al Mursalat 77:20-23)


أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (٢٠)فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (٢١)إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (٢٢)فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (٢٣)

20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina [spermatozoid - ovum]?
21. kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
22. sampai waktu yang ditentukan,
23. lalu Kami tentukan (takdirkan), maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan.


Dengan dewasanya anak, dia mulai bisa mengurusi diri sendiri (mandiri). Seluruh kebutuhan pribadinya mulai dapat dikerjakan sendiri tanpa (semakin sedikit memerlukan) bantuan orang lain. Dia mulai melepaskan diri dari ketergantungan dari pihak lain. Dia mulai mengenal orang lain dan mulai berinteraksi secara sosial walaupun masih sederhana. Egonya mulai terdidik, bahwa dunia ini isinya banyak, tidak hanya diri sendiri. Dia mulai mengerti bahwa setiap orang (dituntut untuk) memiliki kemampuan masing-masing untuk mengurusi diri mereka sendiri sehingga tidak lagi (mengurangi) bergantung pada orang lain.  Proses ini berlangsung pada 7 tahun pertama. 

Pada fase berikutnya, anak mulai mengenal kewajiban dan tanggung jawab. Dia mulai memahami, bahwa hidup tidak hanya memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, namun ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah dan pihak lain di manapun dia berada. Dia mulai memahami bahwa setiap individu (termasuk dirinya) adalah bagian dari masyarakat sosial yang lebih besar. Anak harus mendidik egonya, bahwa setiap kelalaian atas pelaksanaan satu tanggung jawab / kewajiban akan memiliki efek domino kepada pihak lain. Selain itu dia juga belajar mengenal hukuman, baik yang bersifat positif maupun normatif. Proses pembelajaran ego ini berlangsung pada 7 tahun kedua (usia 7-14).

Fase pembelajaran ego terakhir berlangsung pada 7 tahun ketiga (usia 14-21). Anak mulai memasuki  fase kedewasaan, baik fisik, sosial maupun spiritual. Seluruh kemampuan atas potensinya meningkat pesat. Pada saat ini ia (seharusnya) belajar hubungan eksistensi dirinya di banding lingkungan yang lebih besar, Dia belajar mengenal konsep hidup dan tujuan hidup. Bahwa selain memenuhi kewajiban terdapat pula tuntutan fitrah ilahiah : bahwa manusia diciptakan bukan untuk dirinya, namun untuk tujuan yang lebih besar. Dia belajar nilai-nilai agama, moral dan spiritual yang mengajarkan kehudupan yang luhur. Terpupuk keyakinan kuat bahwa hidup itu bukan hidup yang sekarang saja, namun ada kehidupan yang lebih hakiki setelah kematian : kehidupan akhirat.


3 ASPEK AKHLAQ

Setelah melalui ketiga fase tersebut seorang anak (seharusnya) akan menganut kehidupan yang lebih mulia (akhlaqul karimah) yang mencakup 3 aspek akhlaq : akhlaq kepada Tuhan, akhlaq kepada manusia dan akhlaq kepada alam semesta. Ego yang terdidik dengan baik akan tunduk dalam takzim kepada Tuhan : bahwa dirinya amatlah kecil dibanding manusia lain,  dibanding bumi yang besar, dibanding galaksi bimasakti dan dibanding alam semesta. Dibanding alam raya ciptaan Tuhan, dirinya bukan apa-apa. Akhlaq kepada Tuhan mendorongnya untuk patuh tunduk dan hidup selaras dalam perintah dan mahabbah kepada tuhannya.

Akhlaq kepada manusia mendorongnya untuk mengenal manusia. Bahwa Allah menciptakannya bagian dari keluarga besar manusia : Nabi, kedua orang tua, keluarga, kerabat, tetangga dan manusia lain. Hal ini akan mendorongnya untuk mengutamakan kepentingan manusia lain dibanding dirinya. Dia merasakan bahagia ketika dia mampu berbuat untuk orang lain, semakin besar dan semakin besar. 

Demikian pula, kedudukannnya sebagai khalifatullah filardhi mendorongnya untuk selalu jadi terdepan dalam menjaga dan memperbaiki alam semesta. Dari yang kecil dan sepele seperti membuang sampah pada tempatnya, menghindari perusakan lingkungan, bumi dan seluruh unsurnya bahkan hingga mewujudkan program-program yang berupaya pada pelestarian dan memperbaiki alam semesta.

Bukan hanya dia menghindari pemenuhan kebutuhan yang berefek negatif pada 3 aspek akhlaq tersebut, bahkan dia hanya memenuhi sekedar kebutuhannya untuk memaksimalkan pada 3 aspek akhlaq (akhlaqul karimah). Inilah manusia-manusia pilihan yang akan keluar sebagai pemenang kehidupan, manusia-manusia puncak yang mewarisi para nabi, yang akan menjadi kekasih-kekasih tuhan (waliyyun min auliyaillah).

Dari paparan di atas kita bisa mengambil benang merah hubungan antara ego dan kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, (seharusnya) semakin mendewasakan ego (ke-diri-an) pada 3 aspek akhlak yang sebenarnya tak lain merupakan 3 unsur manusia itu sendiri : unsur ruh (ilahiah), unsur nafs (basyariah) dan unsur tanah (badaniah). Manusia yang gagal (atau tidak) mendidik egonya (memperturut hawa nafsu) tidak akan mampu belajar dari kehidupan, seluruh potensinya hanya dipuaskan untuk memenuhi unsur badaniah dan dia niscaya akan menjadi rendah (bahkan lebih rendah dari binatang ternak). Sebaliknya, semakin seseorang mendidik ego, maka akan semakin mencapai hidup yang sempurna, berakhlaqul karimah.

Kembali kepada konflik pada awal pembahasan kita, kita lebih mudah untuk memetakan konflik. Intensitas konflik baik rendah (belum keluar dalam bentuk sikap / ucapan / perbuatan) hingga tinggi (akibat dari  ucapan dan perbuatan dalam skala luas dan menimbulkan korban) (hampir) seluruhnya berasal dari kegagalan atas pendidikan ego. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami perbedaan (nilai / pemikiran / agama dll) orang lain adalah akibat dari tidak sempurnanya pembelajaran ego (tarbiyatun nafs) oleh yang bersangkutan.

Konflik (seharusnya) hanya cenderung terjadi pada fase pertama proses pendidikan ego manusia, di mana pada saat itu kemampuan dari potensi yang dimiliki belumlah tumbuh dengan sempurna. Namun semakin memasuki fase berikutnya, konflik (seharusnya) akan mengecil, seiring tumbuh dan dewasanya ego. Mereka mengerti bahwa potensi yang diberikan Tuhan bukan buat dirinya, tapi dirinya hanya media, untuk menyalurkan rahmat Allah SWT kepada makhluknya yang lain melalui dirinya. Dia mengerti betul bahwa fungsinya tak lebih dari sebuah "keran air".

Ada beberapa sabda Nabi SAW berkenaan dengan hal ini, yang terlihat seolah berbeda, namun hakekatnya sama. Mari kita perhatikan :

1. Sebaik baik kalian adalah yang paling bagus (perlakuannya) terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik (perlakuan) terhadap keluargaku.

2. Sebaik baik kalian adalah orang yang panjang umurnya serta (sekaligus) baik perbuatannya.

3. Sebaik baik  kalian adalah orang yang mempelajari alquran dan mengajarkannya.

4. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (masyarakat yang lebih besar).

Coba kita perhatikan hadits Nabi kita di atas, seluruhnya bicara mengenai orang yang berada dalam "range" terbaik, namun persyaratannya (seolah-olah) berbeda. Namun kembali, dengan jelas kita bisa lihat benang merahnya. Seluruhnya selaras, bahwa eksistensi manusia beserta potensi-potensi yang diberikan (dititipkan) Tuhan bukan buat dirinya sendiri, namun buat orang lain di sekitarnya. Semakin besar cakupan manfaat atas potensi tersebut maka semakin berkualitaslah orang tersebut, dan seterusnya.

Kita bisa tambahkan lagi "maqolah" kita sendiri tanpa berseberangan dengan Sabda Nabi di atas, misalnya :
1. Sebaik-baik kita adalah yang memberikan kesempatan pada orang lain di sekitarnya.
2. Sebaik-baik kita adalah yang bisa mendahulukan kepentingan orang-orang lain di sekitarnya.
3. Sebaik-baik kita adalah yang bisa menahan diri dari berbuat buruk terhadap sekitarnya.
4. Sebaik-baik kita adalah yang bisa memaafkan (kesalahan dan kekhilafan) )orang-orang lain di sekitarnya.
5. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi solusi atas problematika di sekitarnya
6. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi teman yang baik bagi orang banyak.
7. Sebaik-baik kita adalah yang paling besar sedekahnya.
8. Sebaik-baik kita adalah yang paling banyak mensejahterakan orang-orang lain
9. Sebaik-baik kita adalah yang paling berakhlak anak dan keluarganya.
10. Sebaik-baik kita adalah yang paling sedikit kata-kata buruknya.
Dan seterusnya dan seterusnya...

Seandainya seluruh perilaku manusia dapat diberikan nilai kuantitatif (angka-angka tertentu) dan kita membuat garis vertikal, maka orang-orang yang mendidik egonya akan berada dalam range tinggi dengan nilai-nilainya, meninggalkan jauh nilai-nilai kecil (bahkan negatif) di bawahnya. Dengan sendirinya, kita juga lebih mudah memperkirakan di mana yang paling banyak terjadi konflik.

Sekarang, apakah Anda setuju dengan pemikiran bahwa konflik adalah bagian inheren dari masyarakat, dan hanya bisa hilang dengan hilangnya masyarakat?

Semoga tulisan kecil ini memberi manfaat bagi kita untuk introspeksi dan terus mendidik ego menjadi lebih berkualitas.

Pertanyaan kita, seandainya kita turut dihitung, maka kita masuk di mana?

Wallau a'lam.











Jumat, 10 Mei 2013

Usulan untuk presiden RI 2014 terpilih


3 KEBIJAKAN FUNDAMENTAL DAN STRATEGIS BAGI NKRI



Pemilihan presiden tinggal di depan mata. Apakah presiden berikutnya hanya menambah dafttar kepala Negara, namun tidak terlalu banyak membuat perubahan positif bagi bangsa Negara dan rakyat Indonesia? Semua berpulang pada kebijakan yang akan diambil nanti.

Kami mencermati, ada 3 kebijakan fundamental dan strategis yang perlu dilakukan untuk membuat perbaikan besar bagi Negara dan Bangsa ini.

PERTAMA, selamatkan rupiah! 
menyelamatkan rupiah sama dengan menyelamatkan ekonomi rakyat, negara, bangsa dan tanah air sekaligus. Bagaimana caranya?

Standarkan rupiah dengan emas (gunakan kurs tetap-emas). Untuk setiap rupiah yang beredar, negara harus punya stok emas dalam nilai yang sama. Rasanya ini tidak terlalu sulit mengingat bumi kita memiliki cadangan emas yang sangat besar. Pemerintah hanya boleh menambah uang beredar bila ada tambahan stok emas. Dengan demikian pada waktu kapanpun nilai rupiah selalu sama dengan emas. Dengan kata lain, nilai rupiah tidak akan pernah turun.

Apabila pendapatan seseorang pada tahun ini cukup untuk membeli sejumlah barang tertentu, maka pendapatan dengan jumlah yang sama juga cukup untuk membeli barang yang sama 10 bahkan 20 tahun yang akan datang. Demikian pula dengan aset-aset yang ada dalam NKRI, akan memiliki nilai yang sangat stabil dari tahun ke tahun.

Apabila suatu saat harga emas dunia naik, maka nilai rupiah juga akan turut naik (sebenarnya saat itu yang terjadi adalah penurunan rata-rata nilai mata uang dunia, namun rupiah tidak ikut turun). Nilai rupiah dan seluruh asset dalam NKRI akan sangat stabil dibanding mata uang negara-negara lain yang tidak bersandar pada emas.

Dampak lain adalah, di Indonesia tidak ada lagi yang akan membeli emas batangan untuk investasi. Mereka hanya membeli emas untuk perhiasan dan dalam jumlah seperlunya, tidak untuk disimpan dan dijual kembali untuk mendapat selisih harga. Perilaku memborong emas untuk dijual kembali adalah perilaku yang merusak. Seolah-olah saat harga emas naik karena hukum permintaan, mereka mendapat keuntungan selisih harga. Sebenarnya yang terjadi adalah penurunan nilai rupiah. Yang dia peroleh hanya tidak rugi, bukannya untung. Sebaliknya masyarakat sisanya yang tidak turut melakukan pemborongan emas menjadi rugi karena nilai uangnya menurun. Dengan standarisasi rupiah-emas maka perilaku demikian dengan sendirinya tidak akan terjadi lagi.

Mengapa demikian, karena sepanjang tahun nilai uang akan selalu sama dengan nilai emas. Jadi bila mereka membeli emas melebihi kebutuhan, maka mereka rugi sendiri karena adanya biaya jual beli.

KEDUA, memangkas gaji tunai yang diterima oleh semua pejabat negara dan pejabat pemerintahan tanpa kecuali. 

Sebelumnya, ada 2 hal yang perlu diluruskan terlebih dahulu :
a.       Bahwa kemakmuran seseorang tidak ditentukan dari jumlah uang yang diterima atau dikumpulkan, tapi ditentukan dari jumlah yang dibelanjakan. Kualitas konsumsi seseorang menentukan tingkat kemakmuran. Dengan demikian, sebenarnya seseorang lebih perlu memenuhi kebutuhan pada tingkat kualitas tertentu dari pada menerima pendapatan sejumlah tertentu.
b.      Setiap pejabat negara dan pemerintah harus memiliki "kekebalan" (resistensi) dari perilaku buruk (baca : suap) masyarakat. Resistensi tersebut terbentuk minimal dari 2 kondisi :
1.       Semua pejabat harus memiliki tingkat moral tertentu.
2.       Semua pejabat harus terpenuhi kebutuhannya hingga tingkat tertentu.

Tidak setiap orang memiliki tingkat moral yang tinggi. Dibutuhkan standar moral minimum dan pemeliharaan moral yang berkelanjutan untuk memenuhi kriteria ini. Itu sebabnya, tidak semua orang bisa menjadi pejabat negara. Hanya manusia-manusia khusus yang memiliki tekad dan integritas yang tinggi untuk mengabdi pada masyarakat (melayani masyarakat) yang bisa menjadi pejabat negara dan pemerintahan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang khusus. Mereka hidupnya tidak material oriented, namun lebih bersifat social oriented dan spriritual oriented. Mereka lebih gembira dengan bekerja untuk meringankan beban orang lain dan sangat berjiwa sosial.
Dengan demikian kita memerlukan sistem penyaringan yang efektif. Apabila orang yang tepat telah diperoleh, maka yang dilakukan selanjutnya adalah pemeliharaan moral berkelanjutan dan berjenjang yang terpadu. kondisi ini akan mengembalikan fitrah pejabat sebagai pelayan rakyat (civil servant).

Kembali pada langkah kedua di atas, kita memangkas cash income pejabat dan mengganti dengan pemenuhan kebutuhan yang praktis. Setiap pejabat negara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi harus dipenuhi kebutuhannya hingga tingkat yang memadai sesuai dengan level jabatannya. Negara membelikan seluruh kebutuhan mereka, bukannya memberi mereka uang untuk membeli sendiri kebutuhannya. Efek dari kebijakan ini adalah :
1. Lebih efektif. Setiap rupiah yang dikeluarkan negara untuk memenuhi kebutuhan pejabat, tidak untuk belanja lain.
2. Lebih efisien. Negara bisa membeli banyak kebutuhan yang sama sekaligus dalam jumlah besar sehingga pasti lebih efisien.
3. Tidak ada lagi perlombaan ingin kaya dengan menjadi pejabat. Kampanye yang menghambur-hamburkan dana tidak lagi akan terjadi. Politik uang, penyelewengan dana partai politik, politik dagang sapi dan lain 2 dengan sendirinya akan terhenti. Semua pihak akan menyadari bahwa (menjadi) pejabat tidak memiliki banyak uang (bahkan uang tunai mereka lebih sedikit dibanding rata-2 masyarakat).
4. Dengan sendirinya terbentuk sistem saringan seleksi pejabat di mana relatif hanya orang 2 yang memiliki karakter yang sesuai (tekad dan integritas yang tinggi untuk menjadi pelayan masyarakat) saja yang akan mengajukan diri. Orang 2 yang menginginkan kekayaan berlimpah tidak akan punya keinginan jadi pejabat. Para pejabat juga akan lebih sulit melakukan korupsi. Karena uang / rekening tunai amat kecil maka ketika terjadi penambahan jumlah besar akan lebih mudah terlacak.

Apakah langkah ini menjadikan tidak ada seorangpun yang bersedia menjadai pejabat? Pasti tidak demikian. Seperti disebutkan di atas, meski “gaji tunai” mereka sedikit, Negara wajib menjamin seluruh kebutuhan mereka dan keluarganya, dengan menyediakan seluruh fasilitas secara gratis : papan, pangan, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, liburan, dll. Mereka tidak boleh dipusingkan dengan masalah-masalah tersebut. Pejabat tidak boleh pusing anaknya akan sekolah di mana, keluarganya yang sakit berobat di mana, dan seterusnya. Negara berterima kasih kepada mereka dengan memenuhi kebutuhan dan kemakmuran (tentunya secara berjenjang).

Pendek kata, langkah kedua ini dengan sangat efektif akan menciptakan pemerintahan yang bersih sekaligus efisien.

KETIGA, yang perlu dikerjakan adalah menerapkan sistem zakat dalam pajak. 
Sebelumnya, mari kita sedikit telaah urgensi zakat bagi sosial ekonomi, mikro dan makro.

Pada prinsipnya, kemakmuran ekonomi dalam satu wilayah tertentu berbanding jumlah penduduk dalam wilayah yang sama bernilai 100%. Dengan demikian apabila ada sedikit orang yang mengambil / menikmati kemakmuran dalam jumlah yang amat besar, maka akan mengakibatkan sejumlah besar sisanya harus cukup berbagi sisa kemakmuran dlm jumlah yang amat kecil.

Mari kita sederhanakan persoalan ini dengan contoh yang mudah. Contoh, sebuah rumah dihuni oleh 7 anggota keluarga: ayah, ibu, kakek, nenek, seorang anak yang sudah dewasa, seorang anak remaja dan seorang bayi. Dalam rumah tersebut terdapat satu galon air. Masing-masing mereka memiliki kebutuhan yang berbeda. Tentunya anak yang dewasa memerlukan air lebih banyak daripada adiknya yang masih bayi. Demikian pula seorang nenek memerlukan air minum tidak sama dengan ayah yang bekerja. Selain memiliki kebutuhan, masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda untuk mendapatkan air minum.

Diasumsikan bahwa satu galon air cukup untuk kebutuhan minum seluruh anggota keluarga dalam 1 hari. Namun, jika di antara anggota keluarga yang lebih kuat menggunakan kekuasaannya untuk mengambil air sangat banyak, maka satu galon tidak lagi cukup untuk memenuhi keluarga pada hari itu. Lebih parah lagi jika terdapat anggota keluarga yang membuang-buang air minum dengan percuma, atau membuat simpanan air sendiri, maka akan ada anggota keluarga yang kehausan karena tidak mendapat bagian yang cukup.

Hal yang sama terjadi dalam sebuah Negara. Dengan asumsi tidak ada pertumbuhan ekonomi, maka seluruh penduduk harus berbagi atas jumlah kemakmuran tertentu. Dalam kajian ekonomi kita dihadapkan dengan masalah pemerataan ekonomi dan kesenjangan ekonomi.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyerap / mengambil / mendapatkan penghasilan. Sehingga untuk menjamin kalangan yang lemah supaya dapat hidup pada tingkat kesejahteraan tertentu, dibutuhkan peran pemerintah. Namun, adalah kurang tepat apabila pemerintah membatasi kemampuan income orang kaya. Harus ada mekanisme untuk "mengambil kembali" sebagian dari kelebihan (wealthy excess) dari orang kaya yang nantinya dipergunakan pemerintah untuk membantu kalangan miskin untuk hidup pada level yang layak.

Sebagaimana prinsip zakat, maka pajak dikenakan kepada :
1.      Orang yang memiliki kekayaan di atas jumlah tertentu.
2.     Tarifnya dikenakan pada seluruh excess kekayaan (bukan pendapatan). Di dalamnya meliputi uang tunai, rekening, termasuk rumah (di luar rumah utama yang titempati), tanah, mobil ke-2 dst, dsb.
Dengan demikian meskipun Negara tidak membatasi penerimaan warga Negara, namun kekayaan  yang dimiliki setiap waraga negara dengan sendirinya akan terbatas. Semakin besar kekayaan yang dimiliki, maka jumlah pajak akan semakin besar, sehingga akan ada titik equilibrium, di mana penambahan income akan sama atau lebih kecil dari jumlah pajak. Orang yang kaya akan berhati-hati membeli emas, tanah, rumah, mobil dll di luar kebutuhan, karena akan dikenai pajak setiap tahunnya, sehingga mereka mengerti bahwa itu bukan investasi, tapi justru akan mengurangi kekayaan mereka (investasi negatif).

Efek kebijakan ini adalah :
1.       Pemerataan ekonomi. Tidak terjadi lagi sekelompok kecil orang menguasai asset dalam jumlah yang sangat banyak / besar (termasuk tanah dan asset vital lainnya), sehingga harga menjadi sangat tinggi tak terjangkau oleh kalangan menengah-bawah. Dengan berkurangnya (secara drastis) pengumpul harta dari mekanisme suply-demmand, maka mekanisme pasar akan lebih sehat, dan harga akan turun di level yang realistis.
2.       Memangkas kesenjangan. Sebagian dari pajak yang diambil pemerintah dikembaikan kepada rakyat yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, kelompok ini akan terangkat hingga berada pada standar kemakmuran yang lebih ideal, sehingga gap antara kelompok miskin - kaya menjadi kecil.

Demikian 3 langkah fundamental strategis yang menurut hemat kami akan berpotensi membuat perubahan yang amat besar untuk memperbaiki aspek ekonomi dan pemerintahan yang pada gilirannya akan menyentuh seluruh aspek dalam NKRI.

Semoga bermanfaat.

Wallahu muaffiq ila aqwamit thoriiq.

Jumat, 03 Mei 2013

Pentingnya kaderisasi imam masjid

KADERISASI IMAM MASJID



Cukup sering kita mendengar keluhan mengenai penanganan dan manajemen masjid di Indonesia, terutama di kota-kota besar di Jakarta di mana dana yang dikelola biasanya cukup besar. Di antara obyek-obyek yang dikeluhkan tersebut adalah mengenai imam dan khutbah jumat.

Sangat sering didapati imam bacaannya kurang baik (bahkan kadang keliru), juga materi khutbah yang (mohon maaf) kadang menjemukan, tidak aktual, kurang menyentuh perikehidupan umat, sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap umat selepas melaksanakan ibadah jumat.

Dua minggu lalu, di sebuah masjid di Jakarta, seorang khatib menyinggung hal ini. Kebetulan ybs adalah pengelola pesantren di pinggiran kota Jakarta (di daerah Bogor). Beliau menyatakan bahwa masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya sebagian besar memiliki dana yang cukup besar, namun hampir tidak ada yang manfaatnya berdaya jangkau panjang. Sebagian terbesar dipakai untuk operasional, pengembangan masjid, acara rutin dan infak.

Mengenai kaderisasi dan pendidikan khatib jarang mendapat perhatian yang cukup, sehingga sedikit sekali masjid yang memiliki imam yang qualified, boro-boro menjadi rujukan umat.sekitarnya. Yang terjadi adalah setiap masjid berburu imam dari luar. Sehingga sering terjadi imam masjid bukan orang lokal, bahkan sering juga pada akhirnya masjid "diwarnai" oleh pemahaman baru aliran-aliran lain yang kurang sesuai. Pada gilirannya hal ini menyebabkan masjid menjadi tempat eksklusif dan dijauhi warganya yang asli.

Beliau menyampaikan bahwa, padahal saat ini banyak sekali pesantren yang berkualitas di sekitar Jakarta dan tidak mahal. Termasuk pesantren yang beliau kelola, di mana biaya pendidikan tiap bulan hanya sebesar Rp. 500.000,-. Beliau menganjurkan supaya setiap masjid di Jakarta mengirimkan 2 orang wakilnya (warga setempat) untuk belajar, sehingga kaderisasi Imam dan pengurus masjid bisa berjalan dengan baik. Tidak hanya di pesantren, bahkan masjid-masjid dapat mensponsori pendidikan kader ke tingkat yang lebih tinggi, seperti Al Azhar atau Al Ahqaf. Apabila program ini didukung dan berjalan dengan baik, insya Allah masjid-masjid kita akan menjadi pusat-pusat islam, pusat ilmu dan menjadi tempat rujukan bagi umat.

Saya rasa ide tersebut sangat mencerahkan. Semoga setiap orang dapat menyampaikannya kepada para pengurus masjid di sekitarnya, sehingga program ini berjalan dengan baik. Kita bisa berharap, 10 tahun ke depan Jakarta yang memiliki banyak masjid akan menjadi berkah dengan masjidnya yang menjadi pusat akhlak dan pusat perbaikan masyarakat, amin. Anda siap?

Wa billahi taufiq...



Rabu, 01 Mei 2013

Belajar agama dari Internet, dengan mengenal standar umum / sifat Agama Islam

Belajar Agama dari Internet

Oleh : Almar Yahya


Saat ini dunia maya sudah sangat luar biasa dalam menyediakan berbagai macam informasi, termasuk informasi terkait agama. Sehingga banyak sekali orang memanfaatkan internet untuk belajar agama. Hal ini tentu positif, namun belajar dari internet perlu kehati-hatian ekstra. Internet seperti gudang data, tapi tidak bisa  melakukan pilah-pilih. Pilah - pilih adalah wilayah pencari data. Sehingga pengetahuan dasar yang dimiliki pencari amat menentukan informasi apa yang bakal diterima, dipelajari dan ditelan.

Biasanya pencari data memanfaatkan search engine. Celakanya, apabila search engine yang dipakai berasal dari wibe site tertentu yang sudah memiliki muatan tertentu. Akibatnya informasi yang didapat seluruhnya homogen.

Ini seperti orang yang merasakan titik-titik air di laut. Maka di manapun dia mencicipi, seluruhnya asin. Akan sulit sekali mendapatkan air yang tawar di laut, kecuali beberapa titik saja karena sebab tertentu. Misalnya, air laut di pantai yang dekat dengan gunung yang mengaliri air segar dari gunung. Atau di tengah laut, ketika bersentuhan dengan jenis aliran yang berbeda. Tapi selebihnya sama : asin. Maka, bila seseorang ingin mengetahui tentang air dan ia hanya mengambil dari sampel : laut, maka dia akan keliru memahami air = asin.


Belajar agama tidak bisa asal pungut tanpa tahu sumber dan "telaah" nya. Kembali lagi, ybs harus telah memiliki dasar yang memadai sehingga bisa mengenali "jenis-jenisnya". Tanpa dasar yang memadai, seseorang akan mudah sekali "tertipu", menelan yang tidak seharusnya ditelan, bahkan dikuatirkan yang ditelan adalah hal yang berbahaya / berracun. Itu sebabnya, sangat dianjurkan (bahkan seharusnya) belajar dari Guru / almamater yang "qualified".


Standar umum mengenal Agama Islam

Setidak-tidaknya ada beberapa standar umum dan mendasar untuk mengenali Islam agama yang benar :

1. Sudah tentu harus berasal dari Allah SWT (Alquran) dan dari Nabi SAW (Hadits).

Sebagaimana sabda Nabi SAW : "ballighuu anni walau aayah" (sampaikan dariku walaupun satu ayat). Pengertiannya adalah terkait (tidak dapat dipisah) :

a. Sampaikan ayat-ayat Allah SWT.
b. Berasal dari (sesuai pemahaman) Nabi SAW.

2. Islam adalah agama fitrah, untuk seluruh manusia, maka pasti memiliki 2 sifat : Universal (sesuai untuk seluruh waktu, seluruh tempat dan seluruh makhluk) Tidak ekstrim (takarannya tidak kurang dan tidak berlebihan).


Misalnya dalam aplikasi, Negara India memiliki kebiasaan kain sari dengan baju terbuka, maka nilai islam tidak harus memerintah untuk mengganti kain sari dengan pakaian orang arab, seperti burqah dan gamis. Kain sari tetap bisa dipakai, hanya saja harus menutupi aurat sehingga dengan menjadi seorang muslim, orang tsb menempati tata susila dan kesopanan yang tinggi.Jadi ber-islam tidak berarti mengubah adat / kebudayaan dan nuansa lokal menjadi adat / kebudayaan dan nuansa arab. Lokal tetap lokal, islam tidak sama dengan arab. Islam hanya mengubah nilai, yang tidak (atau kurang) berakhlak menjadi berakhlak.


3. Seluruh nilai yang disampaikan oleh islam tidak mungkin bertentangan / kontradiktif satu sama lain. Bahkan tidak mungkin antara madzhab satu dengan lainnya bertentangan. Mungkin secara lahiriah terlihat bertentangan, tapi secara prinsip tidak. Kecuali : Pemahaman si pembaca keliru. Bisa jadi memang ada suatu pandangan dalam madzhab menyimpang dari Allah SWT dan Rasulnya SAW, tapi hal ini di luar pembahasan, karena berarti tidak termasuk agama Islam, seperti Ahmadiah (Menetapkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW), Ghulat (mempertuhankan Sayyidina Ali RA) dll.


Jadi apa yang mungkin berbeda dalam aneka madzhab : hal-hal kecil, aplikatif (bukan prinsip), karena diputuskan oleh prinsip agama (yang sama) dengan mengakomodasi kondisi / situasi lokal dan masa tertentu. Sehingga, bahkan dalam 1 madzhab saja bisa beragam dan berbeda keputusannya apabila berbeda masa dan berbeda kondisi.


4. Ini adalah agama rahmat. Seluruh sisi dari agama ini memberikan nuansa rahmat, baik perintahnya, larangannya, anjurannya dan seluruh sisi-sisinya. Maka akan terrasa sekali adanya penghormatan, kemuliaan, kesejukan, ketentraman, keindahan, keselarasan, kedamaian dst.


Maka dari itu, sebaliknya :
1. Apabila bukan dari Allah SWT dan rasulnya SAW, atau bertentangan maka berhati-hatilah, (jangan-jangan itu bukan islam).
2. Apabila yang disampaikan hanya mengacu pada "masa tertentu" dan / atau bersifat / bersikap / berlaku ekstrim, maka berhati-hatilah.
3. Apabila yang disampaikan ada yang bertentangan (antara ayat satu dengan ayat lain, bahkan ayat itu ada ayat qouliyah (alquran) dan ayat kauniyah (alam semesta), atau antara haditst dengan ayat, atau hadits dengan hadits, maka berhati-hatilah.
4. Rasakan dengan hati nurani dan kejelian fikiran apabila apa yang Anda rasakan tidak memberi nuansa rahmat (baik perintah, larangan, anjuran dll), maka berhati-hatilah.

Oleh karena itu Allah SWT berpesan dalam Alquran, surat Annahl ayat 43 :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui".


Wallahu a'lam.




Senin, 29 April 2013

Naikan harga rokok, bukan BBM (2)


Naikkan harga rokok, bukan BBM (2)





Oleh : Almar Yahya



Kelanjutan tulisan pertama....

Demo anti kenaikkan BBM sudah usai. Tuntas ? walllahu a'lam. Yang jelas, hasil rapat DPR jumat, menjadikan harga BBM per 1 April 2012 tidak naik (tertunda). UU APBN-P memberikan tambahan pasal, yang berisi memberikan wewenang pemerintah untuk menaikkan atau menurunkan BBM dengan kondisi tertentu di kemudian hari (jadi ada kemungkinan naik dong?) Pasal tersebut berpesan, nanti kalau ada kenaikan BBM, demo-nya ke pemerintah ya, jangan ke DPR lagi ya, kan yang naikin pemerintah ???

Apa lagi? Subsidi BBM APBN-P untuk 2012 ditetapkan sebesar 137 Trilyun (http://ekonomi.tvonenews.tv/berita/view/54704/2012/03/26/subsidi_bbm_apbnp_2012_ditetapkan_rp137_triliun.tvOne). Konon jauh lebih besar dari dana tanggap bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia.

Apa lagi...? beberapa harga bahan pokok, termasuk buah, sayur dan produk textil dll sudah terlanjur naik. Padahal harga BBM belum jadi naik. Menegapa? Karena mekanisme harga pasar yang berlaku di dunia ini memasukan "hantu" dalam perhitungannya. Sehingga kata-kata : "isu", "rencana", "ada kabar" dan sejenisnya juga ikut memboboti mekanisme supply - demand, untuk menaikkan / menurunkan harga. Ini bukti lagi, bahwa bbm sangat sensitif terhadap perubanan harga barang dan jasa.

Sekarang bagaimana dengan ide untuk menaikkan harga rokok. Berapa besar konsumsi rokok di Indonesia?

Menurut data WHO pada tahun 2008, konsumsi rokok penduduk Indonesia mencapai 225 Milyar batang per tahun (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/05/31/55829/WHO-Konsumsi-Rokok-di-Indonesia-225-Miliar-Batang-per-Tahun). Dibagi setahun, maka konsumsi rokok per hari mencapai lebih dari 616 juta batang. Bila jumlah penduduk Indonesia sekitar 200 jt, artinya setiap hari, setiap manusia hidup di indonesia dari anak bayi yang baru lahir hingga orang tua menghisap rokok 3 batang sehari. Lebih lebih lagi, trend naik setiap tahun. Menurut kementrian perindustrian, produksi rokok 2012 akan mencapai lebih dari 260 Milyar batang (http://www.indonesiafinancetoday.com/read/17772/Produksi-Rokok-Diproyeksi-Tumbuh-4-di-2012).

Bila Pemerintah menaikkan cukai rokok Rp. 1.000,- per batang,  maka (tambahan) penerimaan akan mengubah wajah APBN-P menjadi tersenyum. Seandainya dengan kenaikan tersebut, konsumsi rokok menjadi berkurang setengahnya pun, tambahan penerimaan akan mencapai lebih dari 130 Trilyun (260 M dibagi 2, dikalikan Rp. 1.000,-) hampir setara dengan total subsidi BBM untuk APBN-P 2012. Naikkan pula cukai minuman keras, dan upaya penghematan Anggaran tetap dilakukan, maka sangat mungkin, APBN kita surplus, termasuk menutup defisit tahun lalu.

Kajian yang lengkap dan mendalam mengenai hal ini layak dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait, termasuk memperhitungkan efek jangka pendek, menengah dan panjang untuk kepentingan rakyat dan Bangsa Indonesia yang berhasil memegang juara 3 dunia dalam konsumsi rokok !!!

Yang jelas, menaikkan BBM berakibat seluruh harga naik dan budget untuk belanja rokok (dalam rumah tangga) juga berkurang. Namun, menaikkan harga rokok tidak mempengaruhi harga barang dan jasa, hanya berakibat pada budget rumah tangga (sang Bapak) untuk membeli rokok.

Jadi, siapa setuju...????


Naikkan harga Rokok bukan BBM (1)



Tulisan ini telah berumur lebih dari 1 tahun, namun terkait rencana baru-baru pemerintah menaiikkan harga BBM, barangkali ada manfaatnya.


Naikkan harga rokok, bukan bensin ??

Oleh : Almar Yahya


Kemarin ada demo besar-besaran, ada yang keberatan? wajar, karena terganggu. Ada yang keberatan bensin naik? wajar, karena itu mereka demo besar-besaran. Rencana pemerintah menaikkan harga bensin mencapai lebih dari 30 % lebih, efeknya bukan hanya transportasi. Bensin itu kebutuhan yang lebih dasar dari kebutuhan pokok. BBM temasuk komponen produksi utama, maka kalau naik, seluruh komponen harga akan turut naik, termasuk produksi (berkategori) primer, sekunder tertier dan lainnya.

Bila bensin naik 30 %, setelah seluruh harga settle (mungkin setelah 6 bulan), maka sangat mungkin kenaikan rata-2 harga barang dan jasa akan lebih dari 30 %, akan mengubah daya beli rakyat, dan sejumlah besar rakyat (bisa jadi lebih dari 40 %) turun levelnya menjadi kalangan miskin dan lebih miskin.

Jadi, kalau ada yang demo, sebaiknya kita dukung atau kia halangi ? terserah Anda.

Tujuan pemerintah menaikkan BBM adalah untuk menahan jumlah subsidi bensin, akibat harga bensin dunia naik. Katanya untuk menyelamatkan anggaran. Ada opsi lain, atau sama sekali tidak ada ? Adakah opsi yang paling minim resiko terhadap rakyat, setidaknya dari sisi waktu, bisa bertahap ?
Anggaran itu cash in dan cash out, maka menyelamatkan anggaran haruslah dalam 2 sisi : menambah penerimaan, dan mengurangi pengeluaran yang tidak / kurang penting. Dari sisi pengeluaran, apakah sudah tidak ada pengeluran yang bisa dikurangi? setidaknya yang bersifat kenyamanan. Kenyamanan untuk siapa ? wallahu a'lam.

Sahabat saya, kepalanya sering menelorkan ide brilian. Mungkin Anda sebelumnya pernah punya ide ini : menaikkan cukai rokok (dan minuman beralkohol = miras).
Rokok itu bukan kebutuhan primer atau sekunder, mungkin bukan tertier, karena rokok itu anomali kebutuhan. Tetapi konsumsi rokok (dan miras) luar biasa besarnya. Seorang perokok mengkonsumsi lebih dari 1 batang perhari, malah banyak sekali yang mengkonsumsi 2 - 3 pak sehari, berarti 24 hingga 36 batang rokok dalam 24 jam. kebutuhan rata-2 masyakarat akan bensin dalam sehari tidak sampai 24 liter per hari. Untuk transport paling banter 10 liter (rata-2) : untuk motor, mobil dan angkutan umum dibagi jml penumpang.

Naikkan cukai sehingga perbatangnya naik Rp. 1.000,- Hitung sendiri (tambahan) penerimaan cukai atas rokok. Ditambah kenaikan cukai miras. Saya rasa sangat besar dan memungkinkan untuk mengganti tambahan subsidi bensin. Apa efeknya ? coba kita saksikan apakah ada demo karena kenaikan harga rokok?

Mengigat rokok itu anomali kebutuhan, maka bisa diasumsikan bahwa perokok itu kalangan yang kaya, maka efek kenaikan rokok tidak signifikan terhadap mereka. Konsumsi tetap tinggi. Ada juga perokok dari kalangan yang kurang (tidak) mampu. Bagaimana bila sejumlah masyarakat berhenti merokok karena harganya naik ? Alhamdulillah, berarti rakyat Indonesia menjadi lebih sehat, dan kebutuhan berobat karena masalah rokok jadi berkurang. Ada yang keberatan karena rakyat Indonesia lebih sehat dan pengeluaran berobat untuk masalah rokok berkurang ? ya, silakan demo....

Jadi, kita sepakat? apakah masih ada opsi lain........??????


Kamis, 25 April 2013

Usia Nabi Ismail AS ketika peristiwa penyembelihan

Usia Nabi Ismail Saat Peristiwa Penyembelihan
Oleh : Almar Yahya



Cukup banyak pendapat yang menyatakan bahwa usia Nabi Ismail saat peristiwa penyembelihan pada kisaran 6-7 tahun. Penuturan kisah ini senantiasa diulang sepanjang masa karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah qurban setiap bulan dzul hijjah. Dari kisah ini dapat digali banyak sekali hikmah dan pelajaran yang berharga bagi kehidupan manusia baik aspek pendidikan, kemanusiaan, filsafat, spiritual dan lain sebagainya.

Namun, apakah benar kisaran usia tersebut? Kami berpendapat bahwa ketika itu usia (nabi) Ismail telah sampai pada usia baligh (mencapai kisaran usia 14-15 tahun) dan masuk pada fase ke-3 masa pendidikan anak ( 15 - 21).

Kita akan sedikit menggali dari kisah yang disampaikan Allah SWT dalam Alquran, surat Asshofat.

Mari kita perhatikan surat Asshofat ayat 102 sbb :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".


Alasan 1

Dalam ayat di atas disebutkan "tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)". Penggunaan kata "بَلَغَ" (sampai) menunjukkan bahwa saat itu (nabi) Ismail telah sampai pada umur tertentu.  Ulama fiqih menamai usia baligh apabila seorang anak telah mencapai kedewasaan, yang ditandai oleh munculnya tanda-tanda sekunder, yaitu sekresi indung telur (menstruasi) bagi anak perempuan dan sekresi sperma bagi anak laki-laki. Boleh jadi ada yang berpendapat bahwa kata "sampai" hanya menunjukkan usia melewati fase pertama masa pendidikan, yaitu 6 tahun. 

Namun kata "مَعَهُ السَّعْيَ" menekankan bahwa "baligh" tersebut berkaitan dengan kemampuan yang lebih tinggi dan "setara" dengan bapaknya (ma'ahu = bersama-sama) yang menunjukkan kedewasaan yang lebih tinggi.


Alasan 2

Penggunaan kata "فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى" di mana Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada anaknya mengenai perintah Allah yang disampaikan lewat mimpi beliau. Dialog ini menggambarkan hubungan "Ayah-Anak" sudah sampai pada fase ke-3 pendidikan (usia 14-21), di mana pada usia ini pendidik (orang tua) menempatkan anak pada kedewasaan yang setara seperti seorang sahabat. 

Boleh jadi ada pendapat yang mengatakan bahwa pada usia sebelum itu juga wajar seorang pendidik (orang tua) meminta pendapat anaknya. Namun pendapat tersebut lemah pada kasus ini, mengingat objek pendapat berkenaan dengan masalah yang berat, bukan hal-hal yang lebih sederhana seperti pertanyaaan tentang makanan kesukaan, pilihan warna, baju dsb.

Dalam hal ini, objek pertanyaan tidak hanya menyangkut keputusan masa depan, bahkan menyangkut hidup dan mati. Di sisi lain, Nabi Ibrahim AS juga menginginkan jawaban anaknya yang menggambarkan pandangan dan kesiapan sang anak sehingga beliau lebih yakin akan keputusannya dan untuk meneguhkan hati. Hal ini tergambar jelas dalam jawaban (Nabi) Ismail pada ayat di atas.


Alasan 3

Jawaban yang disampaikan kepada ayahnya sangat lugas, tidak mengandung keraguan, bahkan dapat meneguhkan keputusan ayahandanya. Jawaban seperti ini sama sekali bukan jawaban kanak-kanak bahkan bukan jawaban anak remaja sekalipun. Kata "kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu" menunjukkan bahwa (nabi) Ismail telah berani mengambil keputusan sendiri. Ini sangat berbeda dari jawaban yang umum dari seorang kanak-kanak / remaja yang menurut dan menyerahkan urusan kepada orang tuanya. Jawaban yang lazim muncul pada kanak-kanak / remaja adalah semacam "terserah Ayah saja", atau "urusan ini saya serahkan keputusanya pada Ayah". 

Barangkali ada argumen lain yang menyatakan bahwa jawaban tersebut menjadi wajar, karena (nabi) Ismail adalah manusia pilihan Allah SWT yang kelak diangkat menjadi nabi. Menurut hemat kami, argumen ini tidak memiliki akar yang kuat, mengingat nabi juga seorang manusia yang tak lepas dari karakter fitrah anak-anak dan fitrak pendidikan. Coba kita bandingkan dengan kisah (nabi) Muhammad SAW sewaktu kecil, ketika didatangi oleh malaikat pada peristiwa pembelahan dada beliau. Kisah ini meskipun berbeda versi pada detillnya, namun menggambarkan kejadian besar yang menimpa diri Nabi. Saat menceritakan ini, Nabi menggambarkan pada saat itu dirinya ketakutan. 
Apabila (nabi) Ismail adalah seorang pilihan Allah SWT, maka (nabi) Muhammad SAW adalah manusia paling terpilih dari seluruh nabi, seluruh rasul, seluruh manusia dan makhluk lain, karena beliau sayyidul anbiya wal mursalin. Namun tetap saja, beliau saat itu merasakan takut karena beliau belum sampai pada usia yang cukup untuk  mengerti dan berfikir sebagai dewasa.

Alasan 4

Akhir kisah ini adalah digantinya penyembelihan dengan hewan qurban (seekor domba / kambing). Lebih lanjut penyembelihan hewan qurban menjadi ibadah setiap tahun. Kita perhatikan bahwa tebusan sebagai ganti penyembelihan adalah kambing yang telah dewasa. Syarat kambing kurban adalah kambing (diutamakan) jantan yang telah dewasa, di mana giginya telah pupak. Ini sejalan dengan yang digantikan : (nabi) Ismail yang telah dewasa dan telah baligh.

Demikian, wallahu a'lam.