5P Perjalanan Diri: Dari Potensi Menuju Pengabdian
Setiap manusia lahir dengan sebuah misteri yang tidak sepenuhnya ia pahami sejak awal: "Potensi dirinya sendiri".
Ada yang tampak jelas, ada yang tersembunyi, dan ada yang baru terungkap seiring waktu, pengalaman, dan perjalanan hidup.
Dalam pandangan ini, perjalanan manusia dapat dibaca melalui lima tahap yang saling terhubung, yang kami sebut sebagai
5P: Potency, Passion, Place, Power, dan Practice.
1. Potency
Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Man arofa nafsahu faqad arofa robbahu". Siapa telah berhasil mengenal sejati dirinya, maka ia bahkan telah mampu mengenal Tuhan.
Seseorang wajib mengenali dirinya. Ia mesti mengerahkan segenap kemampuan dengan terus menerus untuk mengetahui
apa saja kelebihan dan kekurangannya, juga mengenali bidang apa yang ia minati.
Dengan demikian
ia akan tahu dengan jelas apa potensi yang dimiliki oleh dirinya. Ini ada
adalah titik awal bagi perjalanan penting setiap manusia.
Di mana, Tuhan
menciptakan manusia, masing-masing memiliki potensi tersendiri yang berbeda.
Sebab Tuhan menginginkan masing-masing manusia dapat fokus untuk mengembangkan diri
masing-masing, sehingga dunia ini bisa berjalan dengan baik. Keragaman bidang
usaha dan saling kerja sama antar manusia bisa berjalan optimal jika
masing-masing orang berada pada titik optimalnya. Dan, itu terjadi jika tiap
manusia beraktivitas melalui potensinya masing-masing.
Potensi adalah titik awal. Ia seperti benih—mengandung kehidupan, tetapi belum menjadi apa-apa.
2. Passion.
Passion adalah keinginan kuat yang berasal dari diri sendiri. Keinginan ini
akan menghasilkan harapan dan cita-cita.
Tetapi ada hal penting. Passion itu
seperti api. Orang tua, guru dan orang-orang di sekitar kita bisa membantu
melakukan stimulasi, memberikan motivasi dan bimbingan orientasi kepada seseorang. Tapi
mereka tidak bisa menyalakan api itu. Ia sendiri yang harus melakukan ”ignite”, ia sendiri yang harus menyalakan api itu.
Seumpama telur, potensi seseorang akan tetap
menjadi telur, sehingga tidak/kurang memberi manfaat besar jika ia
berlanjut menetas, tumbuh menjadi burung, lalu dewasa dan terbang melesat tinggi
menjangkau langit.
Demikianlah, peristiwa ”ignite” itu adalah seperti menetaskan telur potensi
Tanpa passion, telur potensi akan tetap tidur, tidak akan pernah berbuah menjadi sebuah perjalanan.
3. Place
”P” ketiga ini adalah fase yang amat penting. Ia berada di tengah, antara 2P pertama
dan 2P terakhir. "P" ini akan menentukan, apakah pengembangan potensi seseorang
akan mandek, tertahan oleh limitasi eksternal, ataukah ia bisa berkembang dengan pesat.
P ini adalah Place, atau lingkungan.
Seseorang yang ingin mengembangkan
potensi, ia harus menemukan lingkungan yang terbaik bagi pengembangan potensi.
Seorang anak yang lulus SMP harus berusaha memilih SMA terbaik, demikian pula
seorang lulusan SMA harus berupaya sungguh-sungguh untuk memilih tempat kuliah
terbaik bagi dirinya. Selanjutnya, setelah lulus kuliah, ia pun juga harus
bersungguh-sungguh untuk bekerja di tempat yang terbaik. Manusia sangat
dipengaruhi faktor eksternal. Maka lingkungan akan sangat berpengaruh pada
dirinya, termasuk potensi yang ia miliki.
Lingkungan yang tidak tepat akan
kontra produktif dan menghambat potensinya. Sebaliknya, lingkungan yang terbaik
dan sesuai akan memberikan pengaruh sangat besar bagi potensinya untuk tumbuh
dan berkembang dengan baik.
Place bukan sekadar lokasi fisik, tetapi ekosistem kehidupan: lingkungan belajar, pergaulan, budaya berpikir, dan atmosfer yang membentuk cara seseorang melihat dunia.
4. Power
Jika "P" ketiga adalah faktor eksternal, maka "P" keempat ini adalah faktor
internal. Kata kunci dari tahapan ini adalah ”empowering”. Seseorang yang ingin
mengembangkan potensi dengan maksimal harus memilih aktivitas dan kebiasaan yang bersifat
meng-empower potensinya.
Manusia memiliki 3 macam lapis kesadaran (kesadaran
fisik, akal dan kalbu), dan masing-masing kesadaran memiliki 3 wujud perbuatan
juga, yaitu perbuatan fisik, perbuatan akal dan perbuatan kalbu.
Maka ia harus berupaya memastikan output dari masing-masing perbuatan tersebut bersifat positif, terlebih bersifat positif terhadap potensinya.
Empower bagi seorang mahasiswa adalah: membangun kebiasaan harian yang positif
dengan konsumsi yang baik, cukup istirahat dan olahraga. Juga belajar, mempersiapkan
tugas, aktif dalam kegiatan yang produktif dan sesuai bagi potensinya.
Ia harus
cekatan, jika terdapat kegiatan yang bersifat negatif dan kontra produktif,
maka ia harus tegas untuk menghindarinya.
Bagi seorang yang bekerja, empower termasuk mengikuti kesempatan
pelatihan dan pendidikan. Ia mesti cekatan untuk melihat peluang dan
kesempatan, sehingga dapat mempersiapkan diri dan bisa memenuhi syarat untuk
mengisi peluang tersebut.
Power bukan hanya “kekuatan”, tetapi kapasitas yang terbentuk melalui proses.
5. Practice
Ini adalah ujung dari semua potensi, yaitu:
implementasi/penerapan/pelaksanaan/realisasi dari potensi.
Di sini, serang individu dituntut untuk mengaplikasikan potensinya, sehingga memberikan
manfaat yang besar, tidak hanya bagi diri dan keluarganya, tapi lebih luas
lagi bagi manusia dan alam semesta.
Kata kunci dari implementasi adalah ”berakhlak”. Di mana akhlak adalah
pemenuhan kewajiban kepada 3 aspek sekaligus: Tuhan, Manusia dan Alam semesta.
Seorang tidak bisa disebut berakhlakh dengan utuh, tanpa memenuhi 3 aspek
tersebut. Maka penggunaan potensi haruslah juga memenuhi ketiga aspek tersebut.
Inilah tahap puncak: ketika potensi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.
Komentar
Posting Komentar
Silakan mengisi komentar