Langsung ke konten utama

Kaum Awam dan Kaum Khas

Kaum Awam dan Kaum Khas 


Ada sebuah maqalah:

لكلّ عوام خاص

Pada setiap kelompok awam (dari kata aam, umum) terdapat satu bagian khash (khusus).

Ini adalah fitrah kehidupan.

Berjalannya suatu program, sistem bahkan organisasi, maka akan memerlukan hubungan dari dua kelompok tersebut, yang berjalan dengan baik pula.

Dalam kaitannya dengan ilmu, maka yang dimaksud dengan khash adalah ulama.

Dalam kaitannya dengan keahlian, maka yang dimaksud khash adalah para ahli di bidangnya, seperti dokter, arsitek, akuntan, yuris dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan negara dan pemerintahan, maka khash adalah wakil rakyat, umara 
dan lain sebagainya.


Demikian pula, dalam kaitannya dengan ijtihad, maka khash adalah mujtahid, sedang kita, kaum awam adalah muqallid.

Demikian seterusnya.


Adalah fitrah juga, bahwa bagian khash selalu jumlahnya hanya sedikit.

Hendaknya setiap orang berlaku sesuai wilayahnya / bagian masing-masing.

Sebagai orang awam, janganlah kita mengambil peran khas.


Sebagai contoh, orang yang awam dalam ilmu, tidak boleh mengambil peran ulama dengan menyampaikan fatwa, atau berijtihad dan seterusnya.

Demikian pula, terlarang bagi kaum awam untuk ikut-ikutan menyampaikan pendapat ahli ke tengah masyarakat.

Karena, minimal akan membuat bingung, lebih-lebih berpotensi akan diikuti oleh sebagian kaum awam lainnya sehingga berakibat kekacauan dalam tata masyarakat.

Apa yang harus dilakukan kaum awam?

Kaum awam hendaknya mengikuti khash tersebut. Sebab khash adalah pemimpin bagi awam.


Bagaimana caranya?

Pertama, hendaklah mengenali (ta'arruf) kaum khash. Kita kenali, mana ulama, mana para ahli, mana yang layak menjadi wali / wakil, dan seterusnya.

Seorang murid hendaknya mengenal gurunya dan mengikutinya.

Bagaimana bila di antara kaum khash terdapat perselisihan?

Nabi SAW telah menyatakan, bahwa ummatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Dalam konteks ini, yang dimaksud umatku dalam hadits tersebut adalah para ulama (kaum khas).

Jadi, dalam hal demikian, ikuti kesepakatan ulama (kesepakatan kaum khash).

Dalam hal ijtihad dan fatwa, ikutlah kesepakatan / ijma' ulama, d
an seterusnya.


Demikian, wallahu a'lam



 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERUBAHAN KATA GANTI ANTUNNA MENJADI ANTUM PADA AYAT TATHHIR AL-AHZAB 33:33, LALU, SIAPA SAJA AHLULBAIT?

Bismillahirrahmanirrahim, Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas bahwa ayat Tathhir,  Al-Ahzab 33:33 bukan berisi ketetapan Allah yang bersifat tanpa syarat, namun berisi keinginan Allah SWT ( iradatullah ) yang bersyarat. Bagi yang belum membaca, dapat dibaca di sini . Pada tulisan kali ini, kita akan membahas perubahan dhamir (kata ganti) " antunna " ( أنتن ) menjadi " antum " ( أنتم ) dalam ayat tersebut. PENDAHULUAN Dalam bahasa Arab, kata ganti " antunna " ( أنتن ) berarti "kamu" atau "kalian", digunakan untuk orang kedua, plural (jamak) dan feminim (wanita). Jamak berarti orang tersebut terdiri dari 3 orang atau lebih. Orang kedua berarti "kamu" atau "kalian", yaitu orang yang diajak bicara ( mukhatab ). Sedangkan kata ganti " antum " ( أنتم ) digunakan untuk orang kedua jamak, yang terdiri dari hanya laki-laki, atau campuran laki-laki dan perempuan. Al-Qur'an sangat teliti dalam penggunaan...

5P Perjalanan Diri: Dari Potensi Menuju Pengabdian

  5P Perjalanan Diri: Dari Potensi Menuju Pengabdian Setiap manusia lahir dengan sebuah misteri yang tidak sepenuhnya ia pahami sejak awal: " Potensi dirinya sendiri".  Ada yang tampak jelas, ada yang tersembunyi, dan ada yang baru terungkap seiring waktu, pengalaman, dan perjalanan hidup. Dalam pandangan ini, perjalanan manusia dapat dibaca melalui lima tahap yang saling terhubung, yang kami sebut sebagai  5P :  Potency, Passion, Place, Power, dan Practice . 1. Potency Dalam sebuah riwayat disebutkan, " Man arofa nafsahu faqad arofa robbahu ". Siapa telah berhasil mengenal sejati dirinya, maka ia bahkan telah mampu mengenal Tuhan. Seseorang wajib mengenali dirinya. Ia mesti mengerahkan segenap kemampuan dengan terus menerus untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangannya, juga mengenali bidang apa yang ia minati. Dengan demikian ia akan tahu dengan jelas apa potensi yang dimiliki oleh dirinya. Ini ada adalah titik awal bagi perjalanan penting setiap manusia....

Usia Nabi Ismail AS ketika peristiwa penyembelihan

Usia Nabi Ismail Saat Peristiwa Penyembelihan Oleh : Almar Yahya Cukup banyak pendapat yang menyatakan bahwa usia Nabi Ismail As saat peristiwa penyembelihan pada kisaran 6-7 tahun. Penuturan kisah ini senantiasa diulang sepanjang masa karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah qurban setiap bulan Dzul Hijjah. Dari kisah ini dapat digali banyak sekali hikmah dan pelajaran yang berharga bagi kehidupan manusia baik aspek pendidikan, kemanusiaan, filsafat, spiritual dan lain sebagainya. Namun, apakah benar kisaran usia tersebut?  Kami berpendapat bahwa ketika itu usia (nabi) Ismail As telah sampai pada usia baligh (mencapai kisaran usia 14-15 tahun) dan masuk pada fase ke-3 masa pendidikan anak ( 15 - 21). Kita akan sedikit menggali dari kisah yang disampaikan Allah SWT dalam Alquran, surat Asshofat. Mari kita perhatikan surat Asshofat ayat 102 sbb : فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَا...

Follower

Cari Blog Ini