Kamis, 30 Mei 2013

Hubungan antara Egois, Kedewasaan dan Konflik

Setiap hari kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari terjadi konflik antar manusia, baik dalam lingkup kecil : keluarga, kantor, sekolah, jalan raya hingga lingkup yang lebih besar seperti konflik di pemerintahan dan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kancah internasional. Seringkali konflik bermula dari hal-hal yang kecil dan sepele namun sering juga dapat membesar dalam skala luas dan berbahaya yang menimbulkan banyak korban baik harta maupun jiwa.


PENYEBAB KONFLIK

Berbagai pakar dalam hal ini telah menyampaikan analisa untuk mencari akar permasalahan guna menghindari dan mengatasi hal tersebut. Di antara pakar misalnya, menyebut penyebab konflik adalah perbedaan individu, latar belakang, nilai, persepsi, miskonsepsi dll. Bahkan sebagian terbesar pemikir menyimpulkan bahwa konflik adalah bagian inheren dari sebuah masyarakat, sehingga hanya akan hilang dengan hilangnya masyarakat.

Tanpa bermaksud menyeberangi pendapat-pendapat mereka, kita coba untuk mendalami akar masalah ini dengan memperhatikan fitrah manusia : ego.

Sebagian orang memaknai ego sebagai : ke-aku-an, aku-centris, rasa mengutamakan "aku" dst. Intinya adalah dominasi sifat / rasa atas "aku".

Tidak terlalu jauh dari pemaknaan di atas, kami cenderung berpendapat bahwa ego adalah ke"diri"an yang dimaksud oleh penggunaan kata "nafsun" dalam Alquran.

Perhatikan ayat ini  (Q.S Yusuf 12:53) :


إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ 
...Sesunggunya nafsun itu (selalu) menyuruh (cenderung pada) keburukan....

Hampir selalu kata "nafsun" ini menunjukkan kepada ke"diri"an seseorang. Alquran sering pula menyebut manusia dengan kata ini mengingat ke"diri"an ada di setiap manusia. Ke"diri"an  (ego) inilah yang seharusnya dididik (tarbiyatun nafs) oleh setiap manusia, setiap saat dalam hidupnya, sehingga senantiasa meningkat, yang akan mengantarkan seseorang sampai pada kualitas tertentu dan mewarnai perilaku orang tersebut sehingga disebut memiliki akhlaq yang mulia.

Inilah barangkali yang disebut dalam Alquran (Q.S AlFajr 89:27-30)


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)


27. Hai jiwa (nafsun) yang (mencapai kualitas) muthmainnah.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam (kelompok) hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.


Memperhatikan Pertumbuhan bayi hingga dewasa

Ini adalah cara yang mudah untuk mendalami masalah ini. Dari proses pertumbuhan bayi menjadi dewasa, kita akan lebih mudah menarik benang merah antara ego dan kedewasaan.

Setiap bayi memahami rumus  : tidak nyaman - menangis. Tampaknya seluruh bayi di seluruh dunia telah membuat kesepakatan bahwa  : kapan saja merasa tidak nyaman, maka yang harus dilakukan adalah : menangis.
Apapun kebutuhan dan keinginan mereka yang wujudnya adalah ketidaknyamanan, seperti rasa lapar, haus, gatal, sakit, mengompol dll, maka  mereka menangis. Semakin besar rasa tidak nyaman, maka semakin keras tangisan. Maka setelah itu akan ada "pihak lain di luar sana" yang akan menyelesaikan masalah itu. Mereka memahami ini dengan sederhana, bahwa ada mekanisme di luar sana yang menyelesaikan seluruh kebutuhan dan keinginan itu buat diri mereka. Bagi seorang bayi, seolah-olah dunia dan isinya diciptakan untuk kebutuhan mereka

Seiring berjalannya waktu, Allah SWT menyempurnakan manusia kecil ini dengan memberikan kemampuan secara bertahap. Seluruh kemampuan akan tumbuh dan berkembang sebagai bentuk penyempurnaan atas potensi-potensi tertentu (given / takdir) yang sudah ditanamkan (build in) dalam diri mereka.

Mari perhatikan ayat-ayat ini (Q.S. Al Mursalat 77:20-23)


أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (٢٠)فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (٢١)إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (٢٢)فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (٢٣)

20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina [spermatozoid - ovum]?
21. kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
22. sampai waktu yang ditentukan,
23. lalu Kami tentukan (takdirkan), maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan.


Dengan dewasanya anak, dia mulai bisa mengurusi diri sendiri (mandiri). Seluruh kebutuhan pribadinya mulai dapat dikerjakan sendiri tanpa (semakin sedikit memerlukan) bantuan orang lain. Dia mulai melepaskan diri dari ketergantungan dari pihak lain. Dia mulai mengenal orang lain dan mulai berinteraksi secara sosial walaupun masih sederhana. Egonya mulai terdidik, bahwa dunia ini isinya banyak, tidak hanya diri sendiri. Dia mulai mengerti bahwa setiap orang (dituntut untuk) memiliki kemampuan masing-masing untuk mengurusi diri mereka sendiri sehingga tidak lagi (mengurangi) bergantung pada orang lain.  Proses ini berlangsung pada 7 tahun pertama. 

Pada fase berikutnya, anak mulai mengenal kewajiban dan tanggung jawab. Dia mulai memahami, bahwa hidup tidak hanya memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, namun ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah dan pihak lain di manapun dia berada. Dia mulai memahami bahwa setiap individu (termasuk dirinya) adalah bagian dari masyarakat sosial yang lebih besar. Anak harus mendidik egonya, bahwa setiap kelalaian atas pelaksanaan satu tanggung jawab / kewajiban akan memiliki efek domino kepada pihak lain. Selain itu dia juga belajar mengenal hukuman, baik yang bersifat positif maupun normatif. Proses pembelajaran ego ini berlangsung pada 7 tahun kedua (usia 7-14).

Fase pembelajaran ego terakhir berlangsung pada 7 tahun ketiga (usia 14-21). Anak mulai memasuki  fase kedewasaan, baik fisik, sosial maupun spiritual. Seluruh kemampuan atas potensinya meningkat pesat. Pada saat ini ia (seharusnya) belajar hubungan eksistensi dirinya di banding lingkungan yang lebih besar, Dia belajar mengenal konsep hidup dan tujuan hidup. Bahwa selain memenuhi kewajiban terdapat pula tuntutan fitrah ilahiah : bahwa manusia diciptakan bukan untuk dirinya, namun untuk tujuan yang lebih besar. Dia belajar nilai-nilai agama, moral dan spiritual yang mengajarkan kehudupan yang luhur. Terpupuk keyakinan kuat bahwa hidup itu bukan hidup yang sekarang saja, namun ada kehidupan yang lebih hakiki setelah kematian : kehidupan akhirat.


3 ASPEK AKHLAQ

Setelah melalui ketiga fase tersebut seorang anak (seharusnya) akan menganut kehidupan yang lebih mulia (akhlaqul karimah) yang mencakup 3 aspek akhlaq : akhlaq kepada Tuhan, akhlaq kepada manusia dan akhlaq kepada alam semesta. Ego yang terdidik dengan baik akan tunduk dalam takzim kepada Tuhan : bahwa dirinya amatlah kecil dibanding manusia lain,  dibanding bumi yang besar, dibanding galaksi bimasakti dan dibanding alam semesta. Dibanding alam raya ciptaan Tuhan, dirinya bukan apa-apa. Akhlaq kepada Tuhan mendorongnya untuk patuh tunduk dan hidup selaras dalam perintah dan mahabbah kepada tuhannya.

Akhlaq kepada manusia mendorongnya untuk mengenal manusia. Bahwa Allah menciptakannya bagian dari keluarga besar manusia : Nabi, kedua orang tua, keluarga, kerabat, tetangga dan manusia lain. Hal ini akan mendorongnya untuk mengutamakan kepentingan manusia lain dibanding dirinya. Dia merasakan bahagia ketika dia mampu berbuat untuk orang lain, semakin besar dan semakin besar. 

Demikian pula, kedudukannnya sebagai khalifatullah filardhi mendorongnya untuk selalu jadi terdepan dalam menjaga dan memperbaiki alam semesta. Dari yang kecil dan sepele seperti membuang sampah pada tempatnya, menghindari perusakan lingkungan, bumi dan seluruh unsurnya bahkan hingga mewujudkan program-program yang berupaya pada pelestarian dan memperbaiki alam semesta.

Bukan hanya dia menghindari pemenuhan kebutuhan yang berefek negatif pada 3 aspek akhlaq tersebut, bahkan dia hanya memenuhi sekedar kebutuhannya untuk memaksimalkan pada 3 aspek akhlaq (akhlaqul karimah). Inilah manusia-manusia pilihan yang akan keluar sebagai pemenang kehidupan, manusia-manusia puncak yang mewarisi para nabi, yang akan menjadi kekasih-kekasih tuhan (waliyyun min auliyaillah).

Dari paparan di atas kita bisa mengambil benang merah hubungan antara ego dan kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, (seharusnya) semakin mendewasakan ego (ke-diri-an) pada 3 aspek akhlak yang sebenarnya tak lain merupakan 3 unsur manusia itu sendiri : unsur ruh (ilahiah), unsur nafs (basyariah) dan unsur tanah (badaniah). Manusia yang gagal (atau tidak) mendidik egonya (memperturut hawa nafsu) tidak akan mampu belajar dari kehidupan, seluruh potensinya hanya dipuaskan untuk memenuhi unsur badaniah dan dia niscaya akan menjadi rendah (bahkan lebih rendah dari binatang ternak). Sebaliknya, semakin seseorang mendidik ego, maka akan semakin mencapai hidup yang sempurna, berakhlaqul karimah.

Kembali kepada konflik pada awal pembahasan kita, kita lebih mudah untuk memetakan konflik. Intensitas konflik baik rendah (belum keluar dalam bentuk sikap / ucapan / perbuatan) hingga tinggi (akibat dari  ucapan dan perbuatan dalam skala luas dan menimbulkan korban) (hampir) seluruhnya berasal dari kegagalan atas pendidikan ego. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami perbedaan (nilai / pemikiran / agama dll) orang lain adalah akibat dari tidak sempurnanya pembelajaran ego (tarbiyatun nafs) oleh yang bersangkutan.

Konflik (seharusnya) hanya cenderung terjadi pada fase pertama proses pendidikan ego manusia, di mana pada saat itu kemampuan dari potensi yang dimiliki belumlah tumbuh dengan sempurna. Namun semakin memasuki fase berikutnya, konflik (seharusnya) akan mengecil, seiring tumbuh dan dewasanya ego. Mereka mengerti bahwa potensi yang diberikan Tuhan bukan buat dirinya, tapi dirinya hanya media, untuk menyalurkan rahmat Allah SWT kepada makhluknya yang lain melalui dirinya. Dia mengerti betul bahwa fungsinya tak lebih dari sebuah "keran air".

Ada beberapa sabda Nabi SAW berkenaan dengan hal ini, yang terlihat seolah berbeda, namun hakekatnya sama. Mari kita perhatikan :

1. Sebaik baik kalian adalah yang paling bagus (perlakuannya) terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik (perlakuan) terhadap keluargaku.

2. Sebaik baik kalian adalah orang yang panjang umurnya serta (sekaligus) baik perbuatannya.

3. Sebaik baik  kalian adalah orang yang mempelajari alquran dan mengajarkannya.

4. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (masyarakat yang lebih besar).

Coba kita perhatikan hadits Nabi kita di atas, seluruhnya bicara mengenai orang yang berada dalam "range" terbaik, namun persyaratannya (seolah-olah) berbeda. Namun kembali, dengan jelas kita bisa lihat benang merahnya. Seluruhnya selaras, bahwa eksistensi manusia beserta potensi-potensi yang diberikan (dititipkan) Tuhan bukan buat dirinya sendiri, namun buat orang lain di sekitarnya. Semakin besar cakupan manfaat atas potensi tersebut maka semakin berkualitaslah orang tersebut, dan seterusnya.

Kita bisa tambahkan lagi "maqolah" kita sendiri tanpa berseberangan dengan Sabda Nabi di atas, misalnya :
1. Sebaik-baik kita adalah yang memberikan kesempatan pada orang lain di sekitarnya.
2. Sebaik-baik kita adalah yang bisa mendahulukan kepentingan orang-orang lain di sekitarnya.
3. Sebaik-baik kita adalah yang bisa menahan diri dari berbuat buruk terhadap sekitarnya.
4. Sebaik-baik kita adalah yang bisa memaafkan (kesalahan dan kekhilafan) )orang-orang lain di sekitarnya.
5. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi solusi atas problematika di sekitarnya
6. Sebaik-baik kita adalah yang menjadi teman yang baik bagi orang banyak.
7. Sebaik-baik kita adalah yang paling besar sedekahnya.
8. Sebaik-baik kita adalah yang paling banyak mensejahterakan orang-orang lain
9. Sebaik-baik kita adalah yang paling berakhlak anak dan keluarganya.
10. Sebaik-baik kita adalah yang paling sedikit kata-kata buruknya.
Dan seterusnya dan seterusnya...

Seandainya seluruh perilaku manusia dapat diberikan nilai kuantitatif (angka-angka tertentu) dan kita membuat garis vertikal, maka orang-orang yang mendidik egonya akan berada dalam range tinggi dengan nilai-nilainya, meninggalkan jauh nilai-nilai kecil (bahkan negatif) di bawahnya. Dengan sendirinya, kita juga lebih mudah memperkirakan di mana yang paling banyak terjadi konflik.

Sekarang, apakah Anda setuju dengan pemikiran bahwa konflik adalah bagian inheren dari masyarakat, dan hanya bisa hilang dengan hilangnya masyarakat?

Semoga tulisan kecil ini memberi manfaat bagi kita untuk introspeksi dan terus mendidik ego menjadi lebih berkualitas.

Pertanyaan kita, seandainya kita turut dihitung, maka kita masuk di mana?

Wallau a'lam.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar