Rabu, 19 Februari 2014

Penggunaan kata "hum" dan Mimpi Ajaib Nabi Yusuf

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada tulisan yang lalu, kami menyampaikan pendapat yang menyatakan bahwa inti doa Nabi Ibrahim AS pada QS. Ibrahim (14:37) adalah doa kepada Allah SWT untuk menjadikan sebagian manusia mencintai keturunan beliau (khususnya yang berasal) dari Nabi Ismail dan otomatis berlanjut kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan keturunannya. (Tulisan tersebut dapat Anda baca di sini).

Beberapa waktu lalu, sahabat kami menolak pendapat tersebut dengan mengetengahkan penjelasan dari salah satu kitab tafsir. Di mana dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa kata mereka (him) dalam ayat di atas diartikan sebagai kota makkah, bukan diartikan sebagai mereka (manusia dalam bentuk jamak). 2 Alasan dari pendapat tersebut adalah sbb :

A. Pada ayat lain dalam Alquran juga terdapat penggunaan kata ganti persona (hum / him), yang digunakan bukan untuk orang, tetapi untuk benda, seperti ayat QS Yusuf (12:4).
B. Buktinya adalah (menurut pendapat tersebut) hampir semua orang yang pernah berhaji mengunjungi kota makkah, maka dalam hatinya tumbuh perasaan rindu, ingin datang kembali ke kota makkah.

Menurut kami, pendapat tersebut sah-sah saja, hanya tidak otomatis menganulir pendapat yang lain. Apabila pendapat tersebut dijadikan hujjah untuk menganulir pendapat dalam tulisan sebelumnya, maka terdapat kerancuan yang akan kami paparkan melalui beberapa argumen, insya Allah.

Argumen 1
QS Yusuf (12:4) sbb :
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (٤)
4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku[742], Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; aku melihat mereka semuanya sujud kepadaku."
[742] Bapak Yusuf a.s. ialah Ya'qub putera Ishak putera Ibrahim A.S.

Menurut pendapat mereka, kata hum dalam "...roaituhum li sajidiin" adalah kata ganti dari sebelas bintang, matahari dan bulan, yang kesemuanya adalah benda mati, ghoiru aaqil (tidak berakal). Dengan demikian mereka berpendapat bahwa bisa saja "hum" digunakan sebagai kata ganti untuk benda mati, termasuk dalam surat QS Ibrahim (14:37), kata "him" bisa saja dimaksudkan untuk kota makah.

Mari kita lihat kerancuan pendapat ini : 
Dalam surat Yusuf, kalaupun kata "hum" (menurut pendapat mereka) diartikan sebagai kata benda, maka tetap saja digunakan sebagai kata ganti untuk jamak (banyak), lebih dari 3, yang dalam ayat tersebut adalah : sebelas bintang, matahari dan bulan.

Pendapat ini tidak dapat menganulir pendapat yang kami sampaikan dalam tulisan terdahulu, karena dalam surat QS Ibrahim (14:37), kota makkah adalah tunggal di mana kata gantinya (kalaupun dipersonifikasi) menggunakan kata ganti "hi" atau "ha" (dia / nya), sedangkan dalam surat Ibrahim digunakan kata "him" (untuk kata ganti bentuk jamak /banyak).

Argumen 2
QS  Ibrahim (14:37) sbb:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)  
37. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Setelah kalimat "...tahwi ilaihim" (cenderung kepada mereka), diikuti oleh kalimat "warzuqhum" (dan berilah mereka rejeki). Pertanyaan kami selanjutnya : Allah SWT memberikan rezeki kepada siapa? Siapa penerima rezeki Allah SWT? Apakah untuk kota / tempat ataukah untuk orangnya. Tentu jawabannya adalah orang / manusia.

Maka ketika kata warzuqhum menunjukkan orang, maka kata sebelumnya tahwi ilaihim juga menunjukkan orang.

Sekali lagi kami tidak hendak menyalahkan pendapat bahwa yang dimaksud dalam QS Ibrahim adalah kota makkah, namun itu hanya salah satu pendapat saja. Lebih-lebih lagi pendapat tersebut tidak otomatis menganulir pendapat bahwa yang dimaksud dalam QS Ibrahim adalah sekumpulan manusia : Nabi Ismail AS dan keturunannya, berlanjut hingga Nabi Muhammad S.A.W. dan dzurriahnya.

Argumen 3
Mari kita tengok kembali Q.S. Yusuf (12:4). Dalam ayat tersebut mimpi (nabi) Yusuf AS digambarkan melalui 2 x melihat dalam 2 kalimat, sbb :
1. إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
    Sesungguhnya aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan;
2.  رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
    aku melihat mereka semuanya sujud kepadaku

Pada kalimat pertama, obyek yang dilihat adalah benda : sebelas bintang, matahari dan bulan. Semua benda ini tidak memiliki anggota tubuh: kepala, tangan, kaki. Jika dilihat dari semua sisi, maka tidak mungkin terlihat postur : berdirikah, dudukkah, tidurkah atau sujudkah. Postur dan anggota tubuh diperlukan untuk mengetahui apakah sesuatu itu dalam keadaan berdiri atau duduk atau bersujud, mengingat untuk bersujud minimal memerlukan : kepala, badan, kaki dan postur yang membedakan posisi.

Pada kalimat kedua, (nabi) Yusuf A.S melihat mereka bersujud. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit (karena tidak perlu), namun kita bisa mengetahui bahwa pada penglihatan pertama (nabi) Yusuf A.S "diyakinkan" bahwa yang dilihat adalah benda-benda langit.
Kemudian pada penglihatan kedua, secara menakjubkan (nabi) Yusuf melihat  "perubahan" sehingga benda-benda tersebut memiliki "postur" (dan anggota badan seperti halnya manusia). Wujud baru (seperti manusia) inilah yang dilihat oleh (nabi) Yusuf A.S bersujud kepadanya. 
Hal yang menakjubkan inilah yang diceritakan kepada ayahnya, Nabi Ya'kub A.S dan Nabi Ya'kub melarang untuk menceritakan kepada saudara-saudaranya yang lain. Perubahan yang menakjubkan itu digambarkan dengan penggunaan kata "raaituhum"

Luar biasa, rentetan peristiwa yang kompleks dalam mimpi ajaib tersebut dalam Alquran diceritakan hanya dalam 2 kalimat sederhana dan penggunaan kata "hum". Seandainya kata "hum" tidak digunakan, maka akan terkesan bahwa yang dilihat dalam mimpi serupa dengan mimpi anak-anak biasa yang tidak penting untuk dirahasiakan kepada orang lain.

Di sini jelas terlihat, bahwa penggunaan kata hum dalam Q.S.Yusuf (12:4), (walaupun tidak secara eksplisit), tetap saja dinisbahkan kepada makhluk yang berakal.

Demikian, sesungguhnya yang haq berasal dari Allah dan seluruh kesalahan dan khilaf berasal dari kami, wallahu a'lam.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar