Kamis, 25 April 2013

Mencintai dzurriyah Nabi adalah doa dari Nabi Ibrahim AS.


MENCINTAI DZURRIAH NABI ADALAH KEWAJIBAN DAN INTI DOA NABI IBRAHIM AS.
Oleh : Almar Yahya

Bismillahirrahmanirrahim.

Kewajiban terbagi dalam 2 macam :

1.   Kewajiban yang ketika ditetapkan akan menjadi wajib bagi pihak pertama dan menjadi tuntutan hak bagi pihak kedua. Kewajiban yang seperti ini banyak sekali, bahkan meliputi hampir seluruh kewajiban, baik kewajiban agama (berdasarkan syar’i) maupun kewajiban non agama (berdasarkan hukum negara).

Contoh dari kewajiban jenis ini misalnya, kewajiban kepala rumah tangga terhadap keluarganya. Seorang kepala rumah tangga wajib memberikan penghidupan kepada keluarganya. Pada saat yang sama, anggota keluarga memiliki hak penghidupan dari kepala rumah tangga yang bersangkutan. Sedemikian sehingga, seorang istri diperkenankan mengambil uang yang disimpan oleh suaminya, tanpa sepengetahuan si suami, ketika suami tidak melaksanakan kewajiban penghidupan yang layak. Dengan catatan dan garis bawah bahwa pengambilan sepihak tersebut dalam konteks pemenuhan terhadap kelalaian kewajban suami atas penghidupan keluarganya, baik istri, anak-anak dan anggota keluarga lain yang berada dalam naungan penghidupan keluarga tersebut.

Ini pula sebabnya dalam kehidupan sosial dan negara terdapat pengadilan dan hakim untuk menjamin pelaksanaan hak dari pihak kedua atas adanya penetapan kewajiban pihak pertama.

2. Kewajiban yang ketika ditetapkan akan menjadi wajib bagi pihak pertama, tapi tidak otomatis menjadi tuntutan hak bagi pihak kedua. Contoh dari kewajiban seperti ini adalah kewajiban mencintai dan memuliakan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Setiap muslim wajib mencintai keturunan Nabi SAW, berdasarkan nas Al Quran dan Hadits.
Mencintai keturunan (Dzuriah) Nabi SAW bahkan sudah dinyatakan pada masa hidup Nabi Ibrahim AS. Perhatikan Doa Nabi Ibrahim Khalilullah AS, dalam surah Ibrahim (14) Ayat 37 sbb :


 رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)  
37. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ada 2 hal penting dari Ayat di atas yang kita garis bawahi :
     1.   Perhatikan kata “min dzuriyati” yang artinya “sebagian dari keturunanku”. Mengapa disebutkan sebagian?  Ini karena Nabi Ibrahim AS memiliki 2 putra yaitu Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS. Yang ditempatkan di lembah tersebut bukan semua putranya, namun hanya seorang, yaitu Nabi Ismail AS.

        2.   Mengapa menggunakan kata “dzurriah” yang artinya  keturunan, padahal yang ditinggal di tempat itu adalah istrinya (Ibunda Siti Hajar) bersama putranya, (Nabi) Ismail AS. Mengapa tidak mengunakan kata “putraku” (ibn atau walad) ketika merujuk Nabi Ismail AS atau menggunakan kata sebagian dari “keluargaku” (ahli atau ahli bait) ketika merujuk Ibunda Siti Hajar dan (nabi) Ismail AS sekaligus. Jawabannya adalah karena Nabi Ibrahim AS meninggalkan keduanya bukan untuk sementara waktu, namun “sudah direncanakan” untuk waku yang amat panjang, sehingga Nabi Ismail beketurunan, turun-temurun. 

Pernyataan ini diperkuat lagi dengan penggunaan “أَسْكَنْتُ“ yang berarti aku menempatkan / menjadikan tinggal / menetap. Di sinilah point penting, bahwa sebagian dari keturunan Nabi Ibrahim AS (min dzuriyati) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah keturunan Nabi Ismail AS hingga Nabi Muhammad SAW dan sudah pasti meliputi keluarga Nabi Muhammad SAW dan dzurriahnya.


Kemudian apa inti doa Nabi Ibrahim di atas. 

Perhatikan susunan kalimat tersebut, bahwa sebelum meminta, Nabi Ibrahim AS membuat kalimat pendahuluan, setelah itu baru kalimat permintaan. Permintaan dalam bahasa arab menggunakan “fi’il amar” atau kata kerja perintah. Perhatikan bahwa bentuk perintah dalam ayat tersebut ada 2 yaitu “فَاجْعَلْ” (maka jadikanlah) dan “وَارْزُقْهُمْ” (dan berilah rezeki). Jelas sekali bahwa inti doa terdapat dalam kata pertama yaitu “فَاجْعَلْ”. Ketika doa didahului oleh kalimat berita (pengantar) maka doa tersebut akan digandeng dengan kata “فَ” (maka jadikanlah).
sedangkan permintan kedua adalah bagian integral dari permintaan pertama, ini ditandai dengan kata “و” (dan) berilah rezeki.
Jadi, inti doa Nabi Ibrahim AS pada ayat di atas adalah permintaan kepada Allah agar menjadikan hati manusia (أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ) cenderung kepada (kata lain dari mencintai, mengasihi dan menyayangi) keturunan Nabi Ismail AS dan sudah pasti berlaku hingga Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan dzurriahnya. Karena Nabi kita, Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS melalui Nabi Ismail AS.

Doa ini dikabulkan oleh Allah SWT. Al Alamah Ibn Kathir rahimahullah dalam tafsirnya mengenai ayat ini menyatakan bahwa “telah berkata Ibn Abas, Mujahid, Said ibn Jabir dan lain-lain bahwa sekiranya Nabi Ibrahim mengucapkan kata “أَفْئِدَةً النَّاسِ” (hati manusia, tanpa kata min / sebagian) maka yang akan mencitai mereka, meliputi bangsa persia, romawi, yahudi, nasrani dan manusia seluruhnya. Akan tetapi beliau mengucapkan “أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ” (sebagian manusia) sehingga berlaku hanya bagi kaum muslimin saja". Karena beliau adalan Nabi, maka pemilihan kata tersebut adalah kehendak dan tuntunan dari Allah SWT.

Muncul pertanyaan bagi kita. Sekiranya ada di antara kaum muslimin yang hatinya tidak terdapat rasa kasih sayang / mengasihi / mencintai dzurriyah Nabi SAW, maka apakah ada yang salah terhadap pengabulan Allah SWT atas doa Nabi Ibrahim AS ini. Tentu jawaban kita sepakat “tidak demikian”.
Akan tetapi, persoalan tersebut justru terdapat pada hati dan perasaan orang-orang yang bersangkutan, karena mereka belum mengerti dan memahami. Apabila mereka mengerti dan memahami, maka merekapun akan termasuk dalam kelompok “مِنَ النَّاسِ“ dalam doa Nabi Ibrahim AS. 

Kepada Allah SWT segala urusan kita kembalikan.

Wallahu a’lam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar